Seluruh Mama yang Menelan Pahit Semua Nelangsa

Saya sudah banyak membuka kamus. Saat kau pulas di malam hari, saya tekun menelusuri tiap lembarnya. Dan hingga di detik kau membaca tulisan ini, tak satupun kutemukan frasa dan diksi yang mewakili dirimu.

Saya selalu kehilangan kata-kata jika disuruh mendeskripsikan tentangmu. Ide-ide dan gagasan yang pernah tertulis dan kutumpuk acak-acakkan dilemari gardus indomie, semua catatan itu retak, tak menjumpai takdirnya. Atau bisa jadi semua kata-kata itu masih tertelan bumi, belum ditemukan. Bahkan jika ditemukan pun, siapa yang kelak bertanggung jawab meniupkan nyawa. Jika cerita semenjana yang kita anggit, hanya menyisakan aksara yang patah-patah kala senja tergelincir mengikuti rencana tuhan.

Para seniman kata itu mungkin benar. Memahami perempuan itu serupa menyelami laut dalam. Bukankah semua tentang laut selalu misterius. Ada gelombang yang mengombang ambing. Ada riak yang keburu pecah sebelum mencumbu bibir pantai. Juga palung yang menyamarkan benar dan salah atau baik dan buruk. Saya camkan itu sedangkal-dangkalnya sanubari.

Kebencian ini begitu besar. Antara kita. Pada pertengkaran yang tidak pernah menghabiskan ronde yang sedikit. Sampai kau harus ungkapkan bahwa memilihku tak lebih dari merencanakan patah hati dengan sehormat-hormatnya.

Mungkin butuh tujuh kali reinkarnasi untuk menjahit luka yang setiap pagi kutemukan di inti jantungmu. Tiada yang lain, rajin tidur adalah kambing hitamnya. Memang bagi perempuan keras kepala sepertimu, sampai kapanpun, tidur tidak akan pernah masuk akal hanya karena diserang rasa kantuk yang membabi buta.

Dirimu yang keras tentu baik. Karena kehidupan adalah tentang kekerasan. Di diam dan tenang yang memelukmu, sesungguhnya ada episode kehidupan yang keras pernah kau lewati. Kau lihai menyembunyikan luka, padahal diam-diam memelihara dendam untuk kau tuntaskan kemudian hari. Kadang juga kau lupakan. Kadang juga kau ungkit ketika terhakimi. Dirimu yang keras akan keras juga perihal mencintai. Jadi, biarkan aku menyukaimu seperti anak ingusan.

Iya, anak ingusan. Seperti anak yang merengek, menjambak rambut Ibunya. Sebersalah apapun, tetap membutuhkan Ibunya. Ibu yang tetap berbohong kendati hatinya meranggas dan kerontang. Tidak peduli tentang egois. Aku ingin hubungan itu seperti kita. Tidak ada kemelut sanggup meregasnya.

Pada malam hari, setelah mengutuk diri. Sebagai lelaki yang mencoba berguna, aku akan meraba-raba tumpukkan pakaian di atas lemari kayu yang juga kita bikin bersama setelah melewati seperangkat pertengkaran. Di tumpukkan itu terselip spidol berwarna yang kugunakan mewarnai bekas luka yang masih kentara di dadamu. Hingga ada warna baru tercipta membersamai jalan kita. Sastrajingga. Yang kemudian memanggilmu “Ammi” dengan intonasi tak berdaya. Suaranya terperangkap di daun telingamu, lalu menggema di hatiku.

“Di dalam diri seorang anak, melahirkan sosok Ayah pada diri seorang lelaki.” Ahhhh…sadap, entah darimana asal usulnya. Saya selalu senang dengan kalimat itu. Seolah saya telah mengajarkan pada dunia tentang menjadi laki-laki yang gagah.

Ujung dari catatan ringkas ini, adalah salut kepadamu, mengesampingkan banyak hal tentang menjadi wanita. Telah menjadi sebaik-baik perempuan bernama Ibu, satu identitas keanggunan baru yang kutemukan menyala pada dirimu.

Saya tidak menyelamatimu tepat tiga hari yang lalu. Karena kasih sayang dan penghormatan serta pengabdian tak pernah jadi momentum. Ia abadi pada tiap rentang hela napas, sepanjang hayat.
Persis seperti yang kau ucapkan pada mertuaku, “semua hari adalah ibu”.

Kepada Bunda, Mama dan dirimu pada akhirnya kami meringkuk dan bertekuk lutut.

Anreg, 12.35 a.m.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.