Andi Rasya, Tony Stark From Walengkabola

Mahakarya Andi Rasya membuat saya tablengker. Ia menciptakan weapon vision destruction (WVD).

Seandainya dia punya akses dan menguasai Nanotech atau jika nanti suatu saat menekuni Nanoscience, saya yakin pasti sembarang dan ada-ada saja barang yang ia ciptakan, yang tentunya bikin kepala dan leher orang-orang di kampungnya taputar.

Saya bisa melihat potensinya untuk bisa menjadi seorang inventor. Saat ini, dia hanyalah anak kampung biasa. Baru- baru saja ia sibuk dengan aktivitas lain sebagai ABK di kapal Bagang. Sebagai anak pesisir, ia pergi melaut di malam hari, menangkap ikan di selat Buton.

Di usia yang masih bau kencur, Andi sudah bikin banyak orang rumah keheranan. Ia sempat disebut “aneh-aneh” karena gemar mengoleksi sesuatu yang dianggap orang sebagai rongsokkan.

Setiap pulang sekolah ia kerap kena damprat. Tas sekolahnya hanya menyisakan tempat untuk satu buah buku tulis. Selebihnya di isi oleh potongan-potongan kabel, dinamo bekas, obeng, krisbow, mor-mor, kaleng-kaleng, dan segala macam benda yang terkait mekanik dan elektronik.

Anak seingusan Andi, sudah bergelut dengan mekanika, tentu ada hal besar yang sedang ia rencanakan. Patut dicurigai. Atau bisa saja, tuhan sedang merencanakan hal besar untuknya di masa depan.

Di Walengkabola, saya mengenal Andi Rasya. Kini, ia beranjak SMP, senyumnya masih semanis dulu, selalu menggugah selera. Aura keramahan terpancar dari wajah polosnya. Kulitnya yang sawo hangus seolah menegaskan gerak hidupnya yang dinamis.

Topik tulisan ini tentu tak berencana meng-impersonate karakter fiksi Anthony Edward Stark yang playboy, ingenious, industrialist dan sultannya sultan. Ini hanyalah bentuk kekaguman saya pada seorang bocah yang pertama kali saya kenal masih sebagai anak ingusan, namun sekarang menjelma menjadi sosok yang bisa diandalkan.

Hanya dengan memanfaatkan peralatan seadanya, Tony Stark mampu membuat zirah besi saat ditawan oleh kelompok ekstrimis. Tidak dalam konteks serupa, namun Andi pun bekerja dengan segala keterbatasan. Ia bukanlah seorang dengan latar belakang mekanika.

Ia hanya anak sekolah dasar yang gemar membongkar mesin. Mungkin, sebelum bisa mengeja alfabet, ia lebih dulu mahir memutar sekrup. Hanya bermodal obeng bakarat, ia bisa memperbaiki kipas angin yang dibuang pengurus masjid. Ia mereparasi dispenser yang telah menjadi sampah. Ia merancang sendiri mesin pembuat gulali. Ia membuat robot berbahan kardus, yang setiap sendinya digerakkan oleh dinamo.

Saya teringat kawan se-kos di masa kuliah. Mungkin dia lebih ngeri dari Tony Stark dan Andi. Ia memiliki keahlian yang sama di bidang mekanik dan elektronik. Jika Tony dan Andi bekerja dengan alat terbatas, maka kawan saya itu bekerja hanya dengan satu alat, piso. Untuk semua jenis/merk alat elektronik/mesin direparasi hanya menggunakan piso binongko. Mungkin Elon Musk bisa bikin roket space X, tapi belum tentu bisa perbaiki radio rusak pakai piso.

Andi Rasya

Kata Andi, ia ingin melanjutkan sekolah di bagian Utara Sulawesi. Ia ingin jadi anak STM. Menganggap diri sebagai seorang kakak, sayapun menasehatinya, agar kelak ketika studi di jurusan yang digemari, fokuslah dalam belajar. Saya berpesan agar membangun integritas sejak dini dan selalu cinta terhadap tanah air.

Saya mengingatkan memperkuat nasionalisme dan mempertebal iman. “ko hati-hati nah bergaul, jan sampe ko direkrut teroris, da cuci otakmu, da suru ko bikin bom yang tida bisa di deteksi metal detector, atau da suru ko bikin senjata jangan ko mau,” saya mengimbau.

Andi merespon “ohh ada senjataku di rumah, sa habis bikin, pelurunya kelereng, bahan pemicunya pake spiritus.”

Andi berhasil bikin saya terkejut. Barusan saya bilang, ternyata ia sudah lakukan. Ia buru-buru berlari ke rumahnya di tengah terik yang membakar pesisir pantai Walengkabola. Selang beberapa menit, ia sudah muncul di hadapan saya sambil menenteng senjata rancangannya lengkap dengan magasin kelereng. Ia mendemonstrasikannya. Lalu menyemprotkan spiritus ke dalam tabung yang melekat di bawah laras senjata. Setelah menekan trigger pin, bunyi ledak cukup nyaring lepas ke udara, peluru meluncur deras.

Menurut Andi, senjata rancangannya bisa mencapai jarak tembak hingga 100 m. Ia pernah mencobanya ke dinding, dan dindingnya retak. Senjata ini tidak cukup mematikan, tetapi kena kepala bisa pica, atau kena mata pasti buta, itulah saya menamainya WVD, Weapon Vision Destruction (Senjata pemusnah penglihatan). Saya sengaja memakai istilah asing, supaya terdengar keren, terkesan lethal dan nampak meyakinkan. Padahal untuk memusnahkan penglihatan tidak selalu butuh teknologi canggih, modal sebatang lidi pun bisa.

“Siapa tokoh idolamu kah?”
Saya mengira Andi akan menyebut satu sosok dari kalangan selebriti atau seorang atlet olahraga. Ia sangat mengidolakan Nikola Tesla. Seorang fisikawan, teknisi mekanika, dan listrik.

Saya pikir anak seumurannya di era sekarang, yang menjadi topik perhatiannya adalah e-sport. Rupanya ia mengagumi Tesla sebagai inventor yang dapat mengalirkan listrik tanpa kabel. Entah mengapa, sosok yang hidup satu abad lalu itu, sangat menginspirasi bocah di jauhnya Walengkabola.

Sesingkat pertemuan dan interaksi saya dengan Andi Rasya, saya dapat melompat langsung pada kesimpulan bahwa dia adalah sosok anak yang rajin. Ia bercita menjadi seorang montir, mencintai otomotif. Ia juga ingin menjadi seorang profesor.

Semoga apapun yang ia inginkan, dapat tercapai dan menemukan surganya, bergumul dengan onderdil mesin-mesin.

Andi mencoba menembak menggunakan WVD
Andi menginovasikan sepedanya dengan memasang speaker dan lampu sorot.

4 Komentar

  1. Andi Rawe Balas

    Terus belajar semoga cita2nya tercapai
    Tetap rendah hati

  2. Rosa Balas

    Semoga Allah memudahkan semua ingin dan citaยฒmu Nak Aamiin ๐Ÿ˜‡

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.