Fatamorgana Kebahagiaan

BPS sudah tiga kali menghitung derajat kebahagiaan orang. Indeks itu memosisikan Sulawesi Tenggara berada di posisi 20 pada tahun 2017. Tidak masuk sepuluh besar. Artinya kita belum bahagia, tidak berbahagia dengan kondisi waktu itu. Tidak puas dengan gaji, rezim, nasib, pasangan, teman dan lain-lainnya.

Lalu pandemi muncul di tahun 2019. Statistik kembali mencatat di 2021 Sulawesi Tenggara sudah masuk sepuluh besar. Naik sepuluh anak tangga, pas di peringkat 10. Artinya kita sudah jauh lebih berbahagia dari kondisi empat tahun silam.

Justru anehnya kemudian, di saat banyak orang-orang terpuruk karena Corona, wabah melahirkan krisis multidimensi yang seharusnya membawa segumbang penderitaan, malah kenapa orang-orang di Sulawesi Tenggara tercatat bahagia. Lebih senang dan puas dengan adanya pandemi.

Indeks kebahagiaan diukur dari skala 0-100. Yang paling berbahagia dalam kehidupan se-Indonesia adalah orang-orang Halmahera, miniatur pulau Sulawesi yang berbentuk huruf “k kecil”, Provinsi Maluku Utara dengan nilai 76,34.

Papua yang memiliki gunung emas, ternyata masyarakatnya tidak bahagia. Anugerah tambang emas yang menawarkan janji kemakmuran hanya mampu mengantar mereka berada di peringkat paling buncit. Nomor wahid indeks paling tidak bahagia di Indonesia. Saat ini pun belum terjadi perubahan berarti.
Papua Barat yang berada di kepala pulau berbentuk cendrawasih itu lumayan berbahagia. Dari urutan belasan, kini mereka merangsek ke posisi 8 terbahagia di tanah air. Padahal beberapa tahun terakhir Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sedang viral-viralnya.

Kenapa ketika konflik dan malapetaka sedang gencar-gencarnya terjadi, kita justru lebih senang sentosa adil dan makmur sepanjang hayat di kandung badan. Kita dikepung anomali di segala sisi, namun derajat ketentraman dan kenyamanan hidup lahir dan batin justru semakin meningkat. Ini luar biasa. Kesimpulan bahwa kita jauh lebih tenang dengan adanya krisis mungkin membenarkan. Bisa jadi sebetulnya “DNA” kita adalah kakotopia. Kita nyaman hidup dalam komunitas masyarakat yang sedang chaos dan menakutkan.

Fenomena ini mengingatkan saya pada kata-kata Optimus Prime “in any war, there are calms among the storms”. Pentolan para Cyborg itu bilang, di balik badai yang menghantam pasti akan ditemukan satu ketenangan. Mungkin saja bisa seperti itu jika kita memilih untuk melihatnya dari perspektif tersebut.

***

Ada tiga standar yang diukur untuk menentukan kebahagiaan; kepuasan hidup (personal dan sosial), perasaan (affection) dan makna hidup (eudaimonia). Awalnya saya mengira menakar perasaan orang hanyalah tindakan iseng. Ternyata menyusunnya dalam sebuah indeks sangatlah perlu.

Survei yang juga serupa program United Nation Sustainable Development Solutions Network melalui The World Happines Report untuk membentangkan selebar-lebarnya isu kesejahteraan di dunia. Pertumbuhan ekonomi suatu negara harus diketahui dinikmati oleh siapa saja. Merata atau segelintir kah yang menikmatinya?.

Mencatat indeks kebahagiaan dapat dikatakan krusial, sebab perhitungan ekonomi makro semisal PDB atau penghitungan IPM belum detail menggambarkan realitas welfare (kemakmuran) dan well-being (kesejahteraan) secara materil.

Mari kita lihat kondisi ini dari sisi matrealistik, karena angkanya tinggi disini (publikasi BPS). Indikator kebahagian personal salah satunya indikator kepuasan hidup adalah pendapatan/gaji.

Kemarin mungkin krisis, namun kebijakan fiskal yang dikeluarkan pemerintah dengan menggelontorkan dana triliunan untuk subsidi dan ragam bantuan tunai turut memberi kontribusi terhadap senyuman manis di wajah kita. Memang ada sebagian yang harus kehilangan pekerjaan, tetapi perbandingannya sangat kecil.

Dengan subsidi dan bantuan tunai itu tampaknya kita bisa lebih mudah tersenyum diam-diam. Taraf kesejahteraan meningkat sedikit. Daya beli tertopang. Kita mengayuh bahtera melayari samudera kemiskinan yang kian dangkal.

Namun jika kita sensitif, bukankah urusan bahagia atau tidak itu sangatlah relatif. Terlalu subjektif. Tiap orang memiliki ciri dan ukuran berbeda, variatif dan tidak homogen dalam menilai sesuatu. Bahasa Subjektifitas mengikuti perspektif masyarakat dan budaya.

Seorang bijak bestari mengatakan, orang kaya dan orang senang itu adalah dua hal yang berbeda. Limpahan kekayaan materil sering terbukti tidak bisa menjamin kebahagiaan.

Beberapa lembaga survei top dunia juga pernah mengukur kebahagiaan. Negara kawasan Amerika Latin banyak mendominasi. Mereka kebanyakan bukan negara maju dan berkecukupan. Yang kita ketahui di sana juga bertabur konflik. Banyak orang berlomba-lomba menjadi Sicario lalu menjalankan misi berdarah.

Sulit kita mengimajinasikan bagaimana mungkin mereka bisa mengaku hidup bahagia di tengah kemelut yang begitu disiplin. Data happy Planet Indeks pernah menempatkan Kolombia masuk jajaran negeri terbahagia. Di saat yang sama legacy gembong kriminal Pablo Escobar belum sirna.

Apakah indeks ini bias, atau tafsiran dalam angka-angka belum mampu merefleksikan realitas sesungguhnya. Ini masih semacam teka- teki, situasi pelik dipecahkan. Bukan bermaksud meragukan kredibilitas, lembaga yang melakukan survei tentu profesional dengan metode pertanggungjawaban sendiri.

Atau jangan-jangan kita sudah mengukurnya dengan penggaris yang salah. Bisa jadi ada variabel momentum yang terlewatkan. Pengumpulan data indikator mungkin saja dilakukan saat BLT baru saja cair, atau yang diwawancara baru saja patah hati. Kita membutuhkan terobosan metodologis yang lebih holistik.

Semua berpulang kepada kita bagaimana memanfaatkan data yang tersaji.

Angka statistik sebatas memberikan ramalan, bukan kepastian mutlak. Supaya kita bisa menentukan langkah ketika berjalan di tengah gulita ketidaktahuan. Memang, angka menjadi modal awal membuat keputusan.

Suatu waktu saya dapat tugas liputan foto Musrenbang tingkat nasional. Pejabat pemerintahan banyak memberikan paparan dengan menyajikan data-data berupa angka. Saya tidak tahu serumit apa rumus yang digunakan untuk menghitung, yang jelas pasti sibuk menyusunnya. Sehingga tidak menutup kemungkinan bisa kehilangan substansi. Mereka sibuk mencakar memakai kalkulator, di belahan dunia lain ada mereka-mereka sibuk mengais makanan.

Saya bukan pesimis, saya hanya ingin kita tidak kehilangan fokus dan gercep sedikit. 2045 sebentar lagi. Itu deadline kita mewujudkan Indonesia Emas.

Berbahagia tentu tidak melanggar hukum. Asal jangan berbahagia di atas penderitaan orang lain, apalagi di atas penderitaan sendiri. Kata orang, pura-pura bahagia juga butuh tenaga.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.