Sebuah Antologi Fotografi Jurnalistik

Di tahun 2022 ada banyak target-target yang saya niatkan dalam hati. Salah satunya menghasilkan sebanyak-banyaknya karya dan tulisan. Alasannya bukan materialistik. Saya hanya tersinggung dengan kalimat Pram. Saya tidak ingin padam. Saya tidak ingin cepat punah. Seremeh itu.

Overall buku selanjutnya adalah tentang fotografi. Editing serta layout sudah hampir rampung. Tahapannya sudah 98 persen. Sedang menuju tahap terakhir. Tahap yang paling mendebarkan. Menemukan investor, wkwkwkw. Frame, bait serta cerita dan kata-kata yang bercucuran pada lembar demi lembar buku ini semoga menemukan takdirnya (seorang investor baik hati) segera.

Ini adalah hasil kerja-kerja jurnalistik saya yang kemudian bertransformasi menjadi sebuah antologi foto. Merupakan dokumentasi proses belajar saya mempelajari dan memaknai fotografi jurnalistik sejak pertama kali bekerja di Harian Kendari Pos.

Selama bergelut dalam jurnalisme dan pergaulan dengan kawan-kawan jurnalis foto, satu hal yang menjadi kata kunci dalam karya jurnalisme foto adalah momentum. Dalam mengejar momen seorang jurnalis foto tidak hanya butuh dukungan skill, tetapi juga insting. Insting jurnalis foto itu semacam kemampuannya dalam mengantisipasi setiap rentetan persitiwa yang terjadi. Ia harus dapat menebak, memprediksi situasi yang akan terjadi beberapa detik kemudian. Ia harus stand by setiap saat.

Antologi yang saya beri judul Wakinamboro ini, berisi beberapa foto cerita yang tak sempat terpublikasi. Sebuah catatan cerita dari perjalanan sebuah peristiwa sehari-hari. Saya berkesempatan mengabadikan sejumlah peristiwa dari kalangan proletar hingga kalangan mereka yang tergolong eksklusif.

Saya harap, dengan buku ini nanti bisa mengajak kita menghayati lebih dalam lagi tentang kenangan. Karena semua ini adalah sebentuk kenangan dari kejadian-kejadian yang telah lewat.

Satu-satunya yang tak akan mungkin kembali adalah waktu. Akan tetapi, bersama sebuah foto, cuplikan kenangan yang sejatinya tinggal angan-angan dapat sejenak terhenti. Dokumentasi foto sebuah objek atau cerita mampu mengembalikan waktu yang telah kita lalui dalam bentuk ingatan.

Fotografi secara teknis mampu menyandera waktu. Emosi yang melekat pada sebuah objek atau peristiwa yang terdokumentasi melalui fotografi secara langsung terekonstruksi dengan sendirinya. Dan disitulah letak kekuatan fotografi. Kemampuannya mengajak kita mengembara kedalam lorong-lorong waktu yang pernah kita singgahi.

Kenangan yang terekam dalam bentuk foto memiliki makna istimewa sebab terbungkus oleh peristiwa besar di dalamnya. Seperti portrait Pak Marhaba (alm) pada cover buku ini. Saya memilih potret beliau karena punya makna mendalam bagi saya secara personal.

Beliau adalah kakek saya, seorang purnawirawan TNI AD yang kalau saya mau bandingkan, mungkin agak beda tipis dengan Ralph Gibson, seorang pengajar fotografi di New York Film Academy (NYFA) yang mengawali karirnya dalam dunia militer kemudian menemukan passion-nya dalam fotografi.

Mereka berdua adalah pribadi dengan kecintaan yang sama, namun berbeda pilihan. Yang satu (Ralph) memilih keluar dari kesatuan dan terjun bebas menekuni fotografi. Sedangkan yang lainnya (Marhaba) tetap menjaga kesetiaan dan patriotisme menjaga NKRI sembari tetap mencintai fotografi dengan frekuensi memotret yang tereduksi.

Saya sangat menyukai gesture beliau dalam foto ini. Pertama karena ternyata di antara tumpukan barang kuno dan jadul miliknya ia memiliki kamera analog jenis Sakura EFP 2 buatan Jepang. Ia kemudian mempraktekkan cara penggunaannya di hadapan saya. Usianya yang tergilas zaman tak menyurutkan sorot matanya menerawang dari jendela bidik.

Dalam kenangannya, ini seperti dulu, selagi dalam kesatuan. Ia kerap membidik menggunakan senjata. Untuk membunuh. Mematikan kenangan seseorang. Sedangkan melalui kamera, ia membidik untuk melestarikan kenangan seseorang.

Dari proses pemotretan kita menjalin komunikasi lebih dalam. Tidak jarang banyak mengungkap cerita yang tak tergali, kemudian memperkaya pemaknaan dari karya foto itu sendiri. Begitupun dalam memotret beliau saat itu. Ternyata, nama aslinya bukan Marhaba.

Marhaba adalah seorang dari sejumlah prajurit yang gugur pada masa penjajahan. Ia menerima pinangan menjadi tentara saat sedang memancing di lautan. Menurut penuturannya, dulu, menjadi tentara tidak sekompleks saat ini. Cukup berani mati dan sanggup memanggul senjata. Tak ada standar fisik yang disyaratkan. Ada rekannya yang juga direkrut bersamaan memiliki tubuh lebih pendek dari senjata.

Katanya, atas alasan kemudahan pengadministrasian kantor, maka prajurit yang gugur digantikan dengan rekrutan baru dan tetap memakai identitas prajurit yang gugur tadi.

Tentu apa yang saya rekam dalam antologi ini sangatlah jauh dari indah dan sempurna. Tapi jika telah benar-benar menjelma sebuah buku dan berakhir dalam genggaman anda semoga bisa bermakna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.