Mungkin Nur Alam Butuh Vincenzo The Consigliere

Kita butuh perjuangan ekstra keras. Untuk merajut kembali ke-Indonesiaan (sebagai bangsa beradab) yang nyaris atau bahkan sudah koyak dari dalam. Moral bangsa ini tercerabut dari akar keluhuran budi nenek moyangnya.

Pesimis. Kata pertama pada awal alinea ini mewakili perasaan saya, tentang kusutnya benang yang kita urai dalam menegakkan hukum dan proses peradilan yang kental dengan logical fallacy. Hukum dan peradilan adalah tentang soal-soal silogisme, rentan dengan kesesatan pikir. Kesimpulan itu mengendap di alam bernalar saya usai mengikuti bedah buku “Memoar Nur Alam: Gubernur yang Dipenjarakan” pada Senin lalu, (March 7th, 2022).

Saya setengah mati menahan kegenitan yang membuncah untuk tidak mengikuti acara itu. Ya, tentang buku, saya salah satu yang genit. Penyebabnya, buku itu akan dikupas oleh dua maestro di bidang Hukum dan Tata Negara: Hamdan Zoelva & Margarito Kamis. Saya sering melihat wajah dua tokoh nasional itu berseliweran di ruang-ruang diskusi stasiun televisi, inilah alasan utama. Selain itu, saya belum menemukan alasan yang presisi.

Buku ini tak lebih dari memoar luka Nur Alam. Luka batin yang tekun ia rawat dan sembuhkan pelan-pelan dari balik tembok batu yang tuli dan jeruji besi yang bisu.

Walau dilahirkan dari rahim keheningan seorang perempuan biasa di pedalaman Konda, Nur Alam bisa menjadi luar biasa. Lewat karya- karya pembangunannya bagi publik Sultra.

Sesuai tagline bukunya, “Dipaksa Salah, Divonis Kalah”, saya dapat menangkap, sang penulis, Hera, menyodorkan khalayak dengan satu pertanyaan magis yang sangat mengusik, apakah layak Nur Alam divonis bersalah?. Semacam mempertanyakan ayam dan telur. Atau semacam membujuk ABG labil agar menjadi agnostik dengan memperdebatkan eksistensi tuhan. Sungguh, butuh disiplin kepakaran di bidang filsafat untuk menjawabnya.

Pertanyaan ini berhasil membikin nuansa hati bimbang. Sekaligus perlunya menakar kembali kesakralan para wakil tuhan yang selonjoran di ruang sidang. Pertanyaaan itu seolah-olah mengajak kita untuk berbondong-bondong mengingkari kualitas keputusan dan profesionalisme para hakim yang telah menjatuhkan vonis pada NA.

Saya merasa terjebak kedalam ruang abu-abu, mana benar dan salah. Vonis bersalah atau tak bersalah menjadi serupa pintu misterius dalam perangkap labirin hukum yang penuh muslihat.

Selain hitam merah – jubah yang dikenakan hakim dan penasehat hukum di ruang sidang – hukum juga telah memperlihatkan gradasi warnanya yang lain, absurdity. Bagi publik Sultra, khususnya yang menghadiri bedah buku tersebut, telah menontonnya dengan mata telanjang lewat background yang dituturkan oleh dua sifu kenegaraan: Hamdan dan Margarito.

Bagi Hamdan Zoelva, hukum dan proses peradilan tidak berada di air yang bening, ia larut bersama air keruh. Sebagai orang yang melanglang buana di semesta hukum, ia tak mengingkari bahwa ada invisible hand yang memperkeruh kondisi air. Bahwa banyak tangan- tangan kotor nimbrung menari-nari di air yang keruh. Saling tarik-menarik kepentingan. Jika tangan anda lemah, maka lebih mudah diombang-ambing.

Eksplisit, Hamdan mengatakan, hukum juga telah banyak menghukum orang tak bersalah. Dalam sistem, terkadang keadilan bisa menjadi tumbal. Tidak menutup kemungkinan ada intervensi politik yang pendulumnya bisa mengayun kemana saja.

Apa yang dirasakan kolega terhadap perjalanan kasus Nur Alam pun begitu. Mendengar vonis hakim, Nur Alam teriris, ia serasa menelan kata-kata pahit yang diucapkan Nick Rice kepada Clyde Shelton dalam Law Abiding Citizen, “It’s not what you know, it’s what you can prove in the court“. Keadilan tidak bisa ditentukan hanya dengan kata-kata. Dari sini kita mengerti bahwa ada manusia (elit) yang memilih untuk tidak memiliki hati. Di akhir pleidoinya, NA ingin sekali lagi berjumpa dengan Majelis Hakim di akhirat kelak.

“Satu-satunya yang bisa menyelamatkan keadilan adalah keteguhan dan kejernihan hati seorang hakim. Hakim memutus suatu perkara berdasarkan pandangan pribadinya dan terkadang juga merujuk pada isu gorengan media untuk menyelamatkan karir”, ucap Hamdan.

Argumen mantan Ketua MK itu, seperti klise, memperjelas apa yang saya baca pada memoar ini. Nur Alam terlibat tarik menarik dengan kekuatan yang melebihi dirinya. Namun, sebagai seorang pemimpin yang lahir dari rahim suci rakyat, berbekal kematangan leadership Nur Alam tak gentar. Sejengkalpun tak mundur pada apa yang diyakininya sebagai kepatutan.

Atas alasan tak mau melakukan pembiaran dan demi kesejahteraan rakyat, NA memilih mengacau di dalam “surga” para penambang. Ia tahu risikonya. Ia terjang bahaya itu. Sembari nun jauh di kedalaman sanubari, ia mendekap erat sebiji harapan, tak ingin rakyatnya menjadi “penjaga kebun” di tanah sendiri.

NA tak ingin terjun bebas ke dalam neraka terdalam kehidupannya dengan penyesalan. Menyesal tidak berani melakukan sesuatu yang lebih untuk tanah kelahirannya. Bukankah ia telah mewakafkan diri seutuhnya.

Saya membayangkan, di awal kasusnya, NA babak belur oleh framing media. Gratifikasi, penyalahgunaan wewenang dan rekening gendut di goreng sedemikian apik, dan publik tanpa literasi hukum, mentah-mentah menelannya. Tentu, saat itu, sebagai anak manusia, mental dan emosi NA tidak keruan.

Lewat memoar ini, NA tak hendak menuntut keadilan. Keputusan hakim telah ikhlas ia jalani. Ia kembali menata diri. NA sadar dari dulu, kehidupan bukanlah jalan panjang bebas hambatan. Ia telah mewakafkan dirinya untuk tanah kelahirannya.

Dari memoar ini ia ingin menjelaskan betapa semenjananya ia sebagai seorang suami. Dan betapa Bucinnya ia sebagai sosok Ayah yang mencintai anak-anaknya.

Dari balik tembok penjara, NA hendak berbicara tentang dirinya apa adanya. Memberi perspektif tentang justice delay yang tengah melilit urat lehernya begitu lama. Ia sedang mengajarkan pada generasi tentang kebesaran hati.

Ungkapan dari Will Durant “script manent verba volant” bahwa kata-kata tertulis akan abadi, kata-kata terucap akan lenyap, membenarkan apa yang ditulis seorang kawan. Ia menyebut, tak bermaksud menyandingkan ketokohannya, meski dalam takaran yang berbeda, Nur Alam tak ubahnya Buya Hamka dan Pram. Pribadi yang produktif menulis. Hukum hanya mampu membelenggu fisik mereka, tetapi pikiran visioner dan gagasan tidak bisa dikerangkeng.

Guru Besar Fisip UHO, Prof. Eka Suaib pun menyampaikan hal senada lewat catatannya pada koran Kendari Pos (edisi 7 Maret 2022). Peluncuran memoar tersebut bisa menjadi bentuk komunikasi politik Nur Alam dalam merawat ketokohannya di Sultra.


Ingatan saya lalu mengembara tentang kekuatan dan lompatan visi NA yang begitu jauh. Saat ground breaking Jembatan Teluk Kendari. Itu adalah etape akhir masa jabatannya sebagai Gubernur. Lewat lensa kamera, jauh di sudut tenda, mata saya membidik tiap gesture NA di atas podium, telinga saya cermat mendengar kata-katanya.

“Jika saya tidak diganggu, mungkin kita sudah punya stadion se-level Old Trafford di Nanga-nanga sana”, tegas kalimat itu ia ucapkan dengan mimik wajah yang tak pernah sepi ekspresi. Sebagai pecinta Red Devil, kata-kata itu melekat, terngiang setiap bangun tidur. Visi NA kuat, ia ingin mengangkat kasta Sulawesi Tenggara dan memompa semangat atlet sepakbola di Sultra dengan membangun rumah yang megah. Ia ingin anak-anak penggila bola Sultra bisa tumbuh dan berkembang layaknya atlet profesional Eropa.

Dalam kesempatan yang sama, pakar Hukum dan Tata Negara, Margarito tidak banyak membedah kasus NA. Dengan ciri khasnya yang berbusa-busa, ia lebih memberi kuliah Hukum 3 SKS bagi seluruh peserta.

Sebagai putra daerah Maluku Utara dengan pembawaan tegas, ia memberi pemahaman fundamental, bahwa hukum, jelas tidak untuk kambing, tetapi untuk manusia. Ada banyak teori, istilah dan logika hukum yang belum saya tahu dari penjelasannya. Basic saya bukan disitu.

Satu pernyataannya yang bikin saya mati ketawa adalah ia bilang bahwa penegak hukum itu, satu kakinya telah menginjak ke dalam neraka. Harus pandai mencari akal agar kaki sebelah tidak ikut terperosok.

Pria macho itu berargumen, agar kita tidak perlu protes. Bahwa apa yang menimpa NA adalah bentuk dari supremasi hukum yang kita agungkan bersama. Hukum itu supreme, di atas segala-galanya, yang kemudian dijadikan sebagai alat pukul oleh penguasa atau yang berkuasa.

Oleh karena itu, maka hukum harus berada di tangan orang yang beres. Beres hatinya. Beres otaknya.

Insight dan latar belakang sistem peradilan yang dipaparkan kedua pakar itu mengisyaratkan bahwa kejahatan telah merasuk ke dalam sistem hukum kita. Sejak dulu kejahatan telah menunjukan eksistensinya. Umurnya setua peradaban manusia itu sendiri.

Jika memang begitulah sebenarnya yang terjadi di belakang panggung peradilan, maka tidak ada solusi, pilihan ekstrimnya ialah mengikuti permainannya hingga keluar menjadi pemenang, atau mati sebagai pecundang.

Sosok yang tepat untuk sistem peradilan yang rusak seperti ini adalah Vincenzo. Pria yang selalu tampil dingin itu ibarat tukang sapu, yang membersihkan kotoran di atas lantai dengan sapu kotor.

Bagi anda penggemar lunatic drama Korea, tentu akrab dengan sosok ini. Vincenzo adalah seorang Consigliere. Penasehat bagi para mafia-mafia kakap di Italia. Setiap aktivitas ilegal organisasi yang tersandung masalah hukum, dengan mudah Vincenzo Cassano atasi.

Baginya, hukum seperti permainan catur. Tergantung kepandaian kita menggerakkan bidak dalam menjebak lawan. Dan dalam permainan, anda bisa saja salah langkah, atau kalah mata.

Jika seumpama, NA butuh Vincenzo untuk memenangkan kasusnya, NA harus sadar bahwa apa yang akan dilakukan Vincenzo tidak seperti yang dilakukan Robin Hood, seorang hero penolong kebaikan. Vincenzo adalah antitesa dari tokoh pahlawan yang memakai hoodie itu. Ia tidak semisal Ninja Hatori yang membela kebenaran dan keadilan dengan cara suci. Vincenzo adalah living manifestation of nightmare. Ia juga memangsa kejahatan.

Kejahatan memang tetap akan terkalahkan oleh kebaikan dan kebenaran. Tetapi itu butuh waktu yang sangat lama. Cara instan menumpas konspirasi dan kejahatan adalah dengan kejahatan baru yang jauh lebih bengis. Kita butuh setan yang jauh lebih setan. Vincenzo membawa karakter itu dalam dirinya.

Kadang-kadang, sebagai manusia, untuk memuaskan dahaga dan hasrat membalas kita perlu bertindak jahat. Insting seperti itu pasti ada. Manusia adalah binatang buas. Iman dan moral yang membimbing kita tetap sebagai manusia.

Vincenzo tumbuh di kalangan penjahat berdasi. Ia menjalani masa kecilnya dengan dongeng masa kecil bahwa tak ada yang lebih berbahaya dari memercayai jika kebaikan akan selalu menang menghadapi kejahatan. Pemahaman itu fatal. Kebaikan itu tumpul, tak dapat digunakan menebas.

Bakat alamiah Vincenzo adalah taktik dan strategi. Sebagai pengacara, setiap langkah dan bukti yang ia buat sudah ia simulasikan berikut mitigasinya. Ia bisa mundur dua langkah kebelakang, untuk menggungguli lawannya sepuluh langkah ke depan. Ia menanamkan benih ketakutan di relung tiap lawannya.

Ia tidak ragu melakukan cara kotor untuk menjatuhkan permainan kotor pesaingnya di muka hukum. Ia pandai mencermati petunjuk yang mengarahkannya pada bukti. Bahkan kalau perlu menciptakan bukti lalu mengait-ngaitkannya. Vincenzo kerap memasang jebakan untuk menjerat orang-orang penting yang terlibat. Hukum bertekuk lutut di kakinya.

Kata Dora, “jika kau mencari Lawyer, Vincenzo adalah orang yang tepat”. Vincenzo memahami, banyak orang berupaya menegakkan hukum, karena sejak awal hukum itu tercipta miring. Margarito pun menegaskan demikian.

Meskipun tokoh ini fiktif belaka, tetapi imajinasi sang sutradara tentu bisa berangkat dari pengalaman dan kenyataan yang pernah ia temui. Baik secara langsung maupun tak langsung. Sehingga bukan tidak mungkin bahwa karakter tokoh yang diperankan Song Joong- ki exist dalam realitas.

NA berada pada dua kancah peperangan melawan kejahatan hukum. Ia menang di front pertama, menumpas kejahatan dari dosa-dosa masa lampau dengan memperbanyak ibadah dan zikir. Namun, NA harus tumbang melawan tirani. Setelah divonis kalah di palagan terakhir, perang melawan kejahatan setan dari luar dirinya.

Menjawab pertanyaan besar tulisan ini, mungkinkah Nur Alam butuh seseorang seperti Vincenzo?, Jawabnya, bisa saja. Tetapi bagi NA hidup adalah pilihan, dan ia memilih bijak, dengan tenang, melata meniti jalan sunyi seorang sufi.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.