Ibuku yang Gila

Ayah selalu lelah setiap pulang kerumah. Bajunya selalu kotor. Anak itu juga membantu ibu. Memasak, mencuci tangan dan mencuci rambut ibunya dua atau tiga hari sekali.

***

Musim sudah semakin tak menentu dan pagi ini dingin terlalu menusuk, menembus hingga kedalam belulang. Ia ambil beberapa lembar pakaian basah kemudian ditaburi dengan sisa-sisa deterjen, meski ia tahu itu adalah sia-sia karena pakaian yang harus dicucinya begitu kumal. Sejak berusia tujuh tahun anak itu telah terbiasa mencuci.

                Di dalam tempayan hitam berisikan sepertiga air tanpa busa dengan lihai tangannya menyikat permukaan pakaian. Tangannya terlalu kecil untuk pakaian besar dan basah. Itu adalah pakaian bapak yang telah kotor karena pekerjaannya memikul gelondongan kayu hutan kemudian dimuat kedalam truk pengangkut. Setelah itu ia harus menaiki kursi kayu kecil sebagai pijakan untuk menggantung pakaian-pakaian basah dan  diperasnya dengan sekuat tenaga, menurutnya agar cepat kering. Sebuah adegan yang belum pantas menjadi rutinitas hariannya. Semua ini tidak akan terjadi jika ibu sehat.

                Tidak mungkin jika harus ayah yang melakukannya , ia terlalu lelah mengais rupiah tak lain agar menjaga nyala asa. Sebenarnya ayah tidak nakal melainkan lebih aktif, sewaktu kecil beliau sering bermain di samping pembakaran api dan kepalanya terbentur lalu terbakar api. Hingga menjadikan kinerja otaknya menurun. Itulah akhirnya ia hanya mengandalkan otot saja. Menjadi kuli adalah satu-satunya cara bertahan hidup.

                Kaki gunung sebagai salah satu titik terindah di bumi ibarat lemari pendingin. Gemar mencipta beku. Sebeku suasana rumah yang hanya ada dia, ayah dengan kepalanya yang setengah botak agak aneh dan perempuan yang gila.

                Ketika orang lain asyik menyeruput cangkir-cangkir kehangatan di tiap pagi. Anak kecil itu kembali bergulat dengan tubuh ibunya yang sangat tidak sebanding dengannya. Saling dorong hendak mencegah ibu berkeliaran di dusun sangat lumrah terjadi di lereng gunung itu. Terkadang jari-jari mungilnya remuk dan memerah perih. Sakitnya lebam membiru di sekujur tubuh yang berbenturan dengan dinding jurang menjadi santapan pagi.

Raung batin Rania selalu meninggalkan gema yang membuatnya selalu menitikan air mata. Hati Rania hancur menerima penolakan dari ibunya. Tubuh kecilnya kembali terhempas. Menghujam bebatuan di pinggir setapak tepian lereng gunung. Kini ibunya berjalan di depannya, tapi kasih sayang seorang ibu sangatlah jauh.

                Ia tak sanggup menghalau niat ibunya. Kali ini ibu berhasil lagi. Menjalani ritual mengelilingi lorong-lorong dusun, meneguk air dari keran-keran rumah penduduk, meminta-minta remahan kue yang sedikit lagi akan mendarat kedalam mulut orang-orang. Memungut makanan, sisa-sisa tebu dan buah-buahan busuk kemudian memakannya, atau bahkan memukul anak-anak kecil yang berlarian mengelilinginya sembari meneriakan caci dan hina.

                Orang-orang kampung bilang, dulu ibu adalah sosok yang cantik, pintar dan pandai bernyanyi. Ia menjadi seperti ini setelah pulang dari kota sembilan tahun yang lalu. Apa yang terjadi pada ibu adalah tabir rahasia yang sampai saat ini Rania tak pernah ketahui. Untunglah ayah selalu sabar menghadapi ibu. Menjalankan tanggung jawabnya berusaha mencukupi kebutuhan keluarga yang sangat jauh dari kesan cukup. Penghasilan ayah tiap hari dengan menjadi kuli, habis untuk membeli pil buat ibu. Di pagi hari harus minum 3 butir obat, siang hari 4 dan malam harinya 3 butir.  Jika tidak meminum obat ibu bisa bertindak kasar dan di luar kendali. Bertahan hidup dengan derita luka dan kesusahan bagi Rania adalah tak mengapa. Pengobatan ibu jauh lebih penting baginya.

                Di suatu hari ibu pernah menggila karena tak meminum obat. Ayah sedang tertidur pulas. Hari itu terlalu lelah buatnya. Tiba-tiba saja ibu berubah menjadi tak keruan. Kehilangan kendali. Semakin menggila. Diam-diam ibu melemparnya kedalam sungai. Saat itu musim dingin. Dingin yang menembus kulit. Rania hampir saja meregang nyawa. Mati di tangan ibu yang sangat dicintainya. Air sungai yang tiada henti membenamkan tubuh Rania seolah isyaratkan  kemelut yang tidak berujung.

                Untunglah ayah menemukannya dan membawanya ke rumah sakit dan tidak terjadi hal yang serius pada kesehatan Rania. Itulah bukti keadilan tuhan. Di dalam keluarga kecil tak sempurna ini tuhan menciptakan sosok mungil yang sangat kuat. Tak lain untuk  menjaga kedua orang tuanya yang semakin uzur. Bukankah seseorang tak akan diuji diluar batas kemampuannya. Tentu ini sangat menyiksa dan menyakitkan, tetapi jauh di dalam lubuk hatinya ia yakin bahwa sesuatu yang menyakitinya tak sampai mati hanya akan menjadikannya semakin kuat tiap hari.

                Di rumah, pekerjaan Rania lainnya adalah memasak. Rebung alias bambu muda selalu menjadi menu andalan. Ia mendapatkannya dari hutan, yang saat ini agak sulit di dapatkan. Untuk mendapatkan daging sangat tidak mungkin, terkadang setahun sekali mereka dapat menikmati daging. Rebung dibersihkannya kemudian direbus. Untuk memperkaya rasa ia terkadang menambahkan cabe atau garam atau bahkan pemanis alami. Meski sederhana, masakannya terdapat berbagai rasa, yakni pedas, asam dan manis. Berbeda dengan hidupnya yang hanya memiliki satu rasa yaitu asin. Kenapa asin?, Ayahnya sepulang kerja selalu bercucuran keringat, begitupula dengannya yang terkadang menitikan air mata. Menangis karena hinaan yang didapatnya dari teman-teman. Hidup sudah cukup asin untuknya. Satu-satunya momen termanis dalam hidupnya ialah ketika ia mendapatkan pujian dari ayah sebab saat itu ibu tidak kambuh dan baik-baik saja di rumah, sebagai bukti bahwa ia pandai merawat ibu.

                Tidak seperti anak lain yang memiliki cita-cita mentereng. Jika ada keinginannya yang harus terpenuhi sudah pasti itu adalah kesembuhan untuk ibu. Harapannya agar tak lagi menerima penghinaan dan dicap sebagai anak orang gila.

                Malam hari adalah suasana yang selalu dinantikan. Karena ayah dan ibu telah pulang. Rumah kosong mereka terasa seperti sebuah keluarga. Didepan tungku perapian, hanya beralaskan tanah mereka bertiga duduk melingkar menyantap semangkuk rebung. Seketika bahagia menghampiri. Untuk malam ini entah mengapa Rania ingin ia bertahan lama.

***

Ayah Bekerja keras, Mata hitam, rambut Panjang

Pakai baju hitam Baju hitam, kaki hitam Ayah bekerja keras, bekerja keras.

                Selain mewarisi kecantikan ibunya ia juga pandai bernyanyi dan mengarang lagu.

                Sambil berjingkrak-jingkrak diatas potongan bambu dengan semangatnya Rania menyanyikan lirik lagu itu. Pagi ini ayah tak bekerja. Ia mengajaknya kehutan untuk mencari bambu dan dijual kewarga dusun. Sedang ranting-rantingnya dapat digunakan untuk kayu bakar dirumah.

                Tak peduli apa kata orang, di hatinya ayah adalah orang paling hebat di dunia, yang selalu bekerja keras untuk keluarga dan tak pernah ada sedikitpun niat untuk membuang ibu. Sedangkan baginya, ibu adalah beban paling indah. Walaupun ibu tak memberikan kasih sayang. Di hatinya, asal ada seorang ibu itu sudah sebuah kebahagiaan.

                Ibu, tidakkah kau tahu mencintaimu tidaklah mudah. Butuh keberanian yang besar. Dalam hidup ini ada kau dijalanku, aku hanya perlu menjalaninya.

Love you, Mom. 22 Desember

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.