Mandi Peluru di Gallipoli

Eugene Rogan punya seorang kakek. Namanya John McDonald. Pangkatnya Kopral Dua dan berusia 19 tahun saat mati diterjang peluru di Gallipoli pada tahun 1915. Saat perang dunia I meletus.

John tidak menyiapkan bekal apa-apa untuk meregang nyawa di tempat yang ribuan kilometer jaraknya dari kampungnya di pedalaman Skotlandia. John memiliki sahabat, Charles Beveridge. Mereka berdua sama, putus sekolah dan berniat cari kerja.

Saat perang pecah, mereka jadi prajurit. Diterima di kesatuan Scottish Rifles. Semacam Woroagi-nya atau Raider-nya orang-orang sana. Saat batalion mereka diberangkatkan ke medan tempur, mulanya mereka disimpan di Yunani. Yunani adalah pos pemberhentian pasukan-pasukan Inggris dan Alliance.

Sebelum terjun ke Gallipoli, John dan Beveridge takjub melihat tentara yang begitu banyak, kapal perang yang megah, dan lambung-lambung kapal yang cacat terkena serangan artileri. Saat melewati barisan tentara Australia yang luka-luka mereka menyaksikan kengerian. John dan Beveridge memantapkan diri. “Apakah kami takut? Tidak!”. Kata-kata itu mereka teriakan sekencang-kencangnya.

Bukan dukungan dari sesama rekan yang diterima, tapi cibiran. “Ahh santai saja bro, tidak lama lagi kalian akan mati ketakutan”.

Tiba di garis depan pertempuran, mereka berdua punya waktu 14 hari untuk beradaptasi. Dengan cuaca, desingan peluru serta dentuman bom. Tibalah resimen Scottish Rifles diperintahkan untuk menyerang pasukan Usmani. John dan Beveridge merayap dari parit ke parit di bawah rentetan senapan mesin dan artileri.

Tanpa henti. Suara-suara bising membuat Gallipoli seperti pesta pertumpahan darah. Awalnya orang Inggris menggunakan strategi pengeboman. Selama dua jam bom berjatuhan silih berganti di wilayah pertahanan pasukan Usmani.

Tapi strategi itu tidak mempan. Serangan kedua dijalankan. Pertempuran darat. Baku kandang paksa. Komandan meniupkan peluit sinyal serbu. Dengan gagah berani seluruh pasukan keluar dari parit dan persembunyian. Termasuk John dan Beveridge. Sambil memegang senjata mereka berlari menuju garis pertahanan Usmani. Seketika juga mereka disambut dengan semburan peluru-peluru pasukan jihad Usmani yang bertahan. Hanya butuh waktu lima menit hampir seluruh pasukan John dan Beveridge rata dengan tanah. Disapu bersih.

John McDonald mati karena luka tembaknya di rumah sakit. Dikubur di Lancaster Landing Cemetery. Sedang kawannya, Beveridge, tewas jauh di luar jangkauan tukang bawa tandu. Tidak ada yang berani pungut mayatnya. Nanti 3 tahun kemudian baru dicari. Itupun sudah baku campur dengan belulang orang lain. Terpaksa dimakamkan secara massal.

Kematian dua orang itu meninggalkan jejak duka yang dalam bagi kerabat di Skotlandia. Sebagai pelipur, keluarga John pindah ke Amerika. Membawa harapan agar bisa hidup lebih baik.

Di tahun 2005, seluruh kerabat John McDonald hendak berkunjung ke Gallipoli. Mereka ingin melakukan penghormatan kepada mendiang kakek. Eugene Rogan salah satu dari mereka. Ia tahu punya kakek seorang veteran saat akan melakukan perjalanan memoriam ke Gallipoli.

Tiba di semenanjung Gallipoli, rombongan keluarga tersesat mencari lokasi kuburan pasukan Sekutu. Salah belok. Dan tiba di Nuri Yamut Monument. Lokasi pekuburan untuk pasukan Usmani dalam perang yang sama dengan John.

Peristiwa salah belok ini membuka mata Eugene Rogan lebar-lebar. Darisitu dia tahu 1.400 orang kawan-kawan kakeknya yang mati di pertempuran Gallipoli tidaklah sebanding dengan jumlah korban yang jatuh dari pihak Usmani yang jumlahnya mencapai 14.000 tentara.

Ia tertegun, tidak tahu bahwa selama ini, jumlah keluarga yang berduka di Turki jumlahnya sepuluh kali lipat dibanding keluarga orang-orang Skotlandia. Semasa hidupnya Eugene Rogan banyak menghabiskan waktu membaca literatur Inggris yang tak sedikitpun menyebutkan ribuan korban yang gugur dari pihak Turki.

Setelah meninggalkan Gallipoli, ia bertekad untuk merekonstruksi kembali sejarah ini dari sisi yang berbeda. Banyak buku-buku yang membahas pertempuran di Timur Tengah hanya mengambil pengalaman perang dari pasukan Inggris dan Sekutu.

Sepuluh tahun kemudian, setelah mengunjungi makam kakeknya, di tahun 2015, Eugene telah menyelesaikan satu bukunya berjudul “The Fall of the Khilafah”. Bertahun-tahun ia cermati beragam literatur, catatan, arsip, memoar dari front Usmani. Ia mengisahkan kembali posisi Usmani dalam sejarah perang besar pertama dunia modern.

Dari bukunya, saya mendapat satu pesan penting, tentang jatuhnya kekhalifahan Utsmaniyah, selain intrik politik internal dan ambisi teritorial wilayah-wilayah terluar Usmani, penyebab runtuhnya kekhalifahan ini dipengaruhi satu faktor kunci, melemahnya Jihad. Jihad sudah tercederai oleh niatan yang salah.

Seruan jihad selalu membawa kemenangan. Karena orang-orang berjuang lillahi ta’ala, hanya demi Allah SWT. Sepanjang perjalanan kemenangannya, ghanimah yang diperoleh juga melimpah. Dalam perang besarnya yang terakhir, orang-orang ikut-ikutan berjihad agar mendapat bagian rampasan perang yang banyak.

Jihad tidak suci lagi. Ini hanya faktor kecil saja. Tapi sangat menentukan. Jihad tidak terbatas pada pasukan di medan tempur saja. Para pengambil kebijakan juga dapat berjihad melalui keputusan-keputusannya.

Atas karyanya, “The Fall of the Khilafah” menjadi pemenang dalam Islamic Book Fair (IBF). Buku setebal 563 halaman itu baru saya tuntaskan separuhnya saja. Semoga jatah tidur bisa saya efisiensikan untuk menuntaskannya segera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.