Daya Hidup Khalid dan John Rambo

Selain Bollywood, saya addicted pada film ber-genre history, action dan war. Itulah sebabnya ketika membaca sirah Nabawiyah, saya selalu fokus di adegan perangnya. Sensasinya lebih terasa dibanding nonton serial Avenger.

Misalnya pada perang Mut’ah. Nabi kita mengutus 3000 pasukan melawan Bushra yang saat itu keji membunuh utusan nabi untuk menyampaikan risalah. Bushra berani karena dibeking Heraklius (Romawi). Pasukan gabungan mereka berjumlah 200 ribu tentara. Jumlah itu berkali-kali lipat dibanding pasukan muslim.

Nabi memilih tiga jenderal perang: Zaid, Jafar dan Abdullah bin Rawahah. Mereka akan bergantian menjadi panglima jika ada yang gugur. Diperolehlah kabar intelijen bahwa Romawi membawa 200 ribu pasukan.

Pasukan muslim lalu diskusi kembali, sepertinya mulai ada yang ragu baku hambur dengan ratusan ribu kakek buyutnya Fransesco Totti, orang Roma. Dalam diskusi itu ada yang menyarankan untuk meminta pasukan tambahan ke Nabi. Kan tidak lucu, niatnya mau kasih pelajaran ini orang musyrik eh malah kita yang diliter.

Lucunya, dalam kegalauan pasukan itu, Abdullah bin Rawahah tiba-tiba buang suara “ehh bukankah kita ikut perang ini mo cari mati to, sinimi ta lanjut saja“. Sontak semua pasukan sadar kembali. Ohh iyo betul. Lanjutlah ke medan tempur semua 3000 orang tadi. Niatnya satu, mo mati ji. Tidak ada satupun yang katere (penakut). Tegak lurus kematian. Mereka semangat kembali seperti api disiram minyak tanah.

Bertemulah dua pasukan tak sebanding ini di Mut’ah. Sebelum acara baku potong-potong biasanya baku gertak atau olo-olo dulu. Ada dialog ngeri-ngeri sedap di momen ini.

Roman: ehh korang datang disini pasti miskin negaramu toh, nda ada makanan dan air minum, tidak beradab. Apa komorang cari kah disini?…

Muslim: Kita ini Vampir, peminum darah, tidak butuh air, sa dengar-dengar gosip katanya orang Romawi gemuk-gemuk, segar-segar darahnya.

Toenkkk…Disini, meskipun menang jumlah, Romawi sudah kalah gertak. Jatuh mentalnya.

Dari pengalaman perang seperti inilah reputasi pasukan muslim kian mentereng di mata musuh-musuhnya. Di kalangan Persia, pasukan muslim dijuluki sebagai pasukan pemakan manusia. Musuh-musuh menjadi ketakutan ketika perang melawan muslimin.

Kalau nda salah ingat 6 hari pertempuran itu berlangsung. Zaid dan Jafar bergantian gugur. Panglima terakhir sesuai petunjuk nabi adalah Abdullah bin Rawahah, dan ia pun syahid.

Kaum muslim kehilangan pemimpin, saling baku tunjuk. Nda ada yang siap. Lalu dipanggil Khalid bin Walid sebagai panglima. Kaum muslimin mengenal betul kejagoanan Khalid ini sewaktu masih jahiliyah dulu. Beliau orang yang dikhawatirkan oleh Nabi setiap peperangan dengan orang Mecca.

Tapi tawaran itu ditolak oleh Khalid. Alasannya karena mereka lebih dulu masuk Islam. Kalian mi saja bro, klian yg duluan Islam, begitu penolakkan Khalid. Dia hormat, tidak ingin melangkahi seniornya. Namun sesama muslim sangatlah bijak. Mereka rayu kembali si Khalid. Bro, masalah ke-Islam-an memang kita senior, tapi kalo masalah baku hambur begini kamu lebih tolo daripada kami-kami ini”. 

Baiklah, si Khalid pun menerima panji panglima perang.

Khalid ini tak hanya tangguh duel satu lawan satu, duel satu lawan seratus pun dia masih bisa imbangi. Jagoan-jagoan di film India itu mungkin saja terinspirasi di Khalid ini. Bayangkan 100 KK itu sama satu erte, dia bisa hadapi sendiri. Tak cukup dibekali kemampuan fisik, Khalid orangnya cerdas.

Tidak bisa mengalahkan Romawi dari segi jumlah, ia pakai taktik lain. Dari adegan baku gertak di awal pertemuan yang mo diminum darahnya, Khalid menyadari prajurit Romawi ini rapuh mentalnya, panakut. Ini adalah titik lemah yang jadi peluang bagi Khalid.

Ia atur lah skema peperang baru. Pasukan 3000-an dikurangi yang telah gugur ia bagi menjadi tiga batalion. Grup pertama yang sebelumnya berada di barisan belakang, kisaran seribuan pasukan akan menyerang, berkonfrontasi langsung dengan pasukan inti Romawi.

Jadi penglihatan Romawi mereka ini pasukan baru. Dua grup lainnya, ia simpan jauh pada sisi kanan dan kiri medan tempur. Bersembunyi, menunggu kode.

Pasukan Roman, semakin sesumbar melihat kaum muslimin semakin sedikit. Mereka turunkan semua pasukannya untuk melumat habis muslimin.

Pertempuran sengit kembali terjadi. Lenting pedang berdenyar, pekik di telinga. Tiba-tiba, ketika saatnya tepat, Khalid menginstruksikan untuk memberi sinyal serbu kepada dua grup lain yang telah bersembunyi pada sisi kanan dan kiri.

Sebelumnya, Khalid telah memerintahkan kepada mereka agar masing-masing menaiki kudanya sambil menyeret pelepah kurma. Daun-daun itu sebagai kamuflase bala bantuan. Akan menyebabkan debu-debu beterbangan, seolah-olah akan ada badai. Bayangkan jika ribuan.

Dua grup pun datang dari kejauhan, dengan suara menggelegar diiringi debu-debu beterbangan seperti badai. Prajurit Romawi terkejut, eihh mati kita, masih banya pale dorang, sampe-sampe ta angkat tanah. Romawi ciut seketika, sekejap mereka sudah berlarian, berhamburan, cari Mamanya masing-masing.

Saat lari-lari ketakutan kocar kacir dari barisan, pasukan tadi tinggal di sumbele-sumbele saja.

Dari perang Mut’ah lah karir Khalid di bidang baku potong semakin moncer. Ia terkenal sebagai panglima yang gagah berani. Tidak ada peperangan yang tidak ia menangkan. Ia di utus Nabi hingga para sahabat untuk maju ke medan perang sebagai andalan.

Lantaran jagonya ini Khalid, ia menyesali dirinya sendiri, karena tidak bisa syahid di medan tempur. Padahal itu cita-citanya. Ingin mati di medan tempur seperti sahabat yang lain. Tapi tak bisa. Sama seperti Rambo. Di akhir scene Rambo Last Blood, Sylvester Stallone sudah muak menyaksikan kematian orang-orang kesayangannya, hingga ia diserbu kartel dari Meksiko pun tidak mati juga. Malah makin bengis. Sang veteran itu menerjemahkan ancamannya secara harfiah. Merobek dada musuhnya, lalu mencabut jantungnya dengan tangannya yang berotot dan varises, seperti sedang mencabut kasbi.

Bayangkan, tidak ada satu jengkal pun di tubuh Khalid bin Walid dimana tak ada bekas luka potong. Sekujur tubuhnya penuh bekas iris. Tidak kayak orang sekarang tatto ji, atau bekas silet-silet ngedrugs.

Tapi, lantaran jagonya juga ini Khalid ia harus dipecat sebagai Panglima oleh Umar kala itu. Bagaimana tidak, setiap perang, orang-orang lebih mengandalkan Khalid. Umar Khawatir kaum muslim sudah tidak lagi mengandalkan kekuasaan Allah SWT. Dengan legawa Khalid menerimanya.

Contoh pemimpin muslim yang baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.