Kambuaya dan Tendangan Layangan Putus

Sepakbola lahir di Inggris, tumbuh, berkembang biak dan membudaya di Brasil, lalu menemui ajalnya di Indonesia. Sepakbola sebagai olahraga, budaya, bahkan bisnis, semuanya mati. Saya harus bilang begitu. Terpaksa. Karena ini sudah nda maso akal. Masa lima kali final, lima kali juga kalah. Jagoannya India saja pernah kalah, tapi menang akhirnya. Mengharapkan leg 2, siapa yang berani. Itu ibarat menggenggam sebongkah bara di telapak tangan. Menyakitkan.

Keringat belum keluar, tapi Chanatip, Messi dari Thailand itu sudah membunuh jutaan harapan orang Indonesia. Singapura pasti ketawa-ketawa.

Satu-satunya yang hidup, mungkin sepakbola bisa disebut sebagai seni. Seni bela diri. Sebuah seni baku hantam di lapangan dan tribun. Doktrin itu membudaya. Saya jadi ingat lagi, pada pertandingan sepakbola tingkat SD di Stadion Betoambari. Guru olahraga bukan membahas strategi dan formasi. Kita diinstruksi kasih patah kakinya orang. Ada tiup-tiupnya juga. Jangan takut, lihat bola, pokoknya hantam. Kipas. Biar tukang urut yang urus nanti. See, this is ain’t football anymore, it’s absolutely martial arts. Dan filosofi bola seperti itu, sepertinya merata di semua wilayah Indonesia.

Untungnya, di bawah asuhan Shin, jati diri baku pukul pesepakbola tanah air sebagaimana kebiasaan di liga-liga domestik tidak terjadi di ajang AFF 2020 ini. Itu karena squad Garuda masih muda. Lebih mudah digembleng sopan santunnya.

Catatan Heineken maupun Nielsen Sport sama, menempatkan Thailand pada posisi ke-2 sebagai negara paling gila bola di planet bumi. Uni Emirate Arab pada urutan pertama. Inggris juga pernah di urutan atas. Mungkin karena banyak pangeran-pangeran di negara Emir itu menjadi owner klub-klub Eropa. Susah kasih habis uang. Setengah waktu mereka dalam sehari hampir habis untuk bermain bola. Rata-rata 9 -11 jam perhari. Bayangkan jika rata-rata itu diikuti Indonesia. Pasti dibilang “mo jadi apa kamu?, tidur siang sana.”

Indonesia tidak tercantum dalam tabel itu karena kurang gila. Di Indonesia lebih banyak bibit pelatih dan pakar daripada pemain. Semua cerdas. 24 jam waktunya habis membicarakan sepakbola. Bola bergelinding dari mulut ke mulut bukan di kaki.

Pembantaian pada malam kemarin (29/12/21), Thailand unggul segala-galanya. Saya ulangi, segala-galanya. Mulai penguasaan bola (66 persen), umpan (536), jumlah tembakan (19 shots). Bodyball kita pun masih lembek, sebatu karangnya Kambuaya dari pelosok Papua sana, ternyata orang Thailand lebih batu karang. Saya pikir semua di sana she male atau lady boy. Bahkan dari kuantitas gender, Thailand lebih banyak, jenis kelaminnya ada 18.

Mau bicarakan baku hantam, adu fisik, mereka punya Muay Thai. Bela diri yang mengandalkan gerakan siku stenga. Sudah banyak digandrungi cowo-cewe Indonesia. Untuk gaya-gayaan.

Sudah banyak analisis bermunculan. Mengupas faktor-faktor kekalahan Timnas. Ada yang menyebut pengaruh nasi kotak, strategi, mental yang rapuh, pengalaman minim, kalah fisik, manajemen PSSI yang bobrok, bahkan menuding kekuasaan politik dan oligarki sebagai kambing hitam. Itu wajar saja. Namanya kritikus. Setiap penonton punya opini masing-masing.

Saya tidak usah banyak-banyak mengeluarkan argumen spekulatif tentang performa Timnas kontra negeri seribu Pagoda itu. Saya mau merangkum deretan kekecawaan saja. Pertama adalah tendangan layangan putus. Tendangan yang melintang di udara. Tendangan yang mengangkasa melewati Pluto lalu terbang setinggi-tingginya ke ruang hampa udara, dan jatuh di langit ketujuh.

Tendangan layangan putus La Dewa telak bikin orang satu Indonesia berbuat dosa dan menyeret satwa Anjing yang tak tahu menahu. Banyak mengeluarkan hina dina. Caci maki mengalir deras. Ada yang mengutuk.

Siapa yang tidak kambuh asam lambungnya lihat tendangan seperti itu. Saya terkenang mendiang kakek saya, nene Bapa. Penyakit asma beliau selalu kambuh ketika nonton liga Indonesia. Ia sering mengamuk dan marah-marah sendiri di depan TV melihat gaya permainan. Padahal saya berkali-kali menyarankan untuk menonton Liga di Eropa saja. Disitu banyak gol-gol indah dan cantik yang bikin hati adem dan nafas tidak sesak.

Tendangan yang melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi itu adalah satu-satunya peluang emas, yang sayangnya disulap menjadi tembaga. Seharusnya bisa dikonversi ke gol. La Dewa butuh gawang selebar dan setinggi pohon kelapa untuk menjaringkan bola. Sesuai namanya, Dewa. Habitatnya di langit. Maka tendangan pun harus menuju ke tak terbatas. Angkasa.

Kedua adalah, gaya, pola dan filosofi permainan yang hilang bak ditelan setan. Padahal permainan oke-oke saja ketika menjinakkan Harimau Malaya. Jagonya minta ampun. Skill pemain juga keluar satu persatu waktu berhadapan dengan Singa pura-pura yang bermain dengan delapan orang. Dua negara itu dikuca habis-habisan oleh Kambuaya dan jajarannya.

Garuda muda itu sepenuhnya junior, belum pernah rasa atmosfer tekanan laga pamungkas. Grogi. Bingung mau goreng bagaimana ini bola. Kejengkelan ini semakin menjadi-jadi kala Shin mengeluarkan Kambuaya. Kampredo. Semakin membuat menganga aurat kelemahan Timnas di sektor gelandang. Evan Dimas terlihat seperti gelandangan, yang kebingungan. Padahal iklan biskuatnya keren banget loh.

Lewat Kambuaya umpan-umpan matang sering dilesatkan. Sebagai playmaker, Kambuaya jelas memberi pembeda. Orang Papua itu pandai meliuk-liuk, menari-nari. Daripada Evan yang suka delay. Timnas payah membaca pola permainan lawan. Persis seperti nama-nama pemainnya , gerak-gerik serangan Thailand setengah mati di baca.

Tendangan layangan putus dan didepaknya Kambuaya adalah puncak kekesalan saya.

Dilansir detik sport, pelatih Thailand Alexandre Polking tidak akan kasih kendor di leg 2 nanti. Ini artinya Timnas tidak akan diberi ampun. Mau dikasih tobat. Selain radikalisme, ini adalah ancaman nyata bagi Indonesia. La Polking adalah pelatih berdarah Brasil dan Jerman. Dua negara itu adalah kiblat paling angker dunia sepakbola. Orang-orang di sana lahir di atas altar keramat lapangan bola.

Dua atribusi yang melekat pada Jerman adalah Nazi bersama Hitler, terkenal dengan sejarah pembantaiannya. Bengis. Begitupun Brasil, kerabat orang-orang Portugis itu berkarakter penjajah. Kolaborasi darah kebengisan dan penjajahan menyatu di dalam degup jantung La Polking. Siap melahap anak asuh Shin Tae, pelatih Korsel yang negaranya banyak menciptakan laki-laki cantik yang pandai melenggok di lantai dansa.

Mari dukung Timnas. Jika kalah, kita tinggal menghibur diri dengan, “ahh yang penting sudah kalahkan Malaysia, sang musuh bebuyutan, partner ber el-clasico.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.