Genosida Thanos dan Cuci Tangan Sebelum Makan

Setiap waktu makan, saya selalu kena omel istri. Hanya karena tidak cuci tangan dulu. Lama hidup di Malaysia, dia jadi tidak tahu aslinya orang Indonesia bagaimana. Kapala batu. Pamalas cuci tangan. 

Lihat saja sendiri, kampanye pemerintah yang “3M” itu, bagaimana kemajuannya? Terka-terka saja dalam hati. Kalo pun dicuci, ya, sekadar celup saja. Yang penting tangan basah, kena air, terus dipercik-percik sedikit ala ala dukun. Cukup. Sisanya biar “kampung tengah” yang urus.

Saya menyimak satu diskusi. Ada kaitannya juga dengan masalah cuci tangan tadi. Sangat alot sekali. Di channel-nya Gita Wirjawan: Endgame. Ia mewawancarai salah satu yang dia sebut sebagai Infinity Stone-nya Indonesia: Sharlini Eriza Putri. Pakar Genomics. Tukang teliti genom organisme atau virus. Beberapa hal dari perbincangannya adalah mengenai modifikasi genetik. Bahwa dari proses embrio kita dapat menyusun gen. Melalui proses itu, kalau mau, kita bisa meningkatkan IQ orang. Hingga 1000 kalo perlu. Dan bukan tidak mungkin juga kalo ingin keturunan tingginya sampai dua meter. 

Dari situ, satu pertanyaan kecil saya dari zaman dulu terjawab sudah. 

Begini.

Semasa kecil kita diajar. Katanya jangan jajan sembarang. Nanti sakit perut. Kok bisa? Iyaa, karena kadang tidak bersih itu penjual da olah makanannya. Sudah dihinggapi lalat. Buktinya, saya lihat, memang ada beberapa teman langsung sakit perut. Tapi, ada bukti lain juga yang menyangkal itu. Saya saksikan sendiri.

Saya pernah keheranan, di kampung saya, di satu desa yang permai di Buton, ada anak-anak jajan pentol. Sudah diinjaki juga lalat itu pentolnya. Tapi saya ikuti, ikh tidak sakit perutnya. Padahal tadi sudah pake campur ingus. Terus ada lagi yang makan es. Saya lihat kotor tangannya habis garu-garu tanah. Malahan langsung bersih tangannya setelah makan itu es. Jangan mi ko tanya lagi, da pake ingus juga ka tida? Kayak nda pernah beringus saja waktu kecil.

Lebih tablengker (kacau) lagi, saya dengar cerita seorang sepupu. Waktu itu bulan Ramadan. Dia bangun pas “injury time” Imsak. Dia ambil nasi cepat-cepat. Pas mo sendok sayur, ternyata banyak semutnya itu kaudawa (kelor). Karena sediki lagi Imsak, dia malas pusing. Hantam saja dengan semutnya. Pengganti ikan katanya. Karena kebetulan tidak ada daging. Lalu saya bilang, “jangan ko makan, nanti ko keracunan”. Dia tinggal jawab saya, “Ahh Tuhan menciptakan semua mahluk hidup di bumi ini pasti ada manfaatnya untuk kita manusia, termasuk semut”. Saya diam saja. Soalnya pembicaraannya sudah sampai level langit.

Endingnya, dia tidur, nanti dekat “berbuka” baru bangun. Jam 12. Puasa setengah. Dan baik-baik saja. Tapi saya masih bertanya-tanya, “bisanya semut makan kelor?”

Fenomena ini sangat paradoks. Kenapa anak-anak di kota yang diasuh keluarga yang empat sehat lima sempurna lemah sekali fisiknya. Gampang terkena sakit perut. Sedangkan  anak-anak di desa yang hidup dari keluarga biasa-biasa saja, kita perhatikan kuat-kuat fisiknya. Malahan sakit perut yang ada, kalo cuci tangan.

Diskusi yang tadi, menerangkan bahwa ada peranan biodiversity. Ada variabilitas kehidupan yang berbeda antara lingkungan di perkotaan dan di pedesaan. Tidak hanya itu, biodiversity juga menjawab mengapa udara di perkotaan jauh lebih cepat menularkan virus ketimbang udara bersih di desa.

Ada korelasi diversity mikrobioma usus dalam perut pada kasus sepupu saya tadi yang melahap semut. Waktu saya google di yahoo, mikrobioma itu semacam mikroba. Mereka hidup di tubuh manusia, binatang dan tumbuhan. Macam bakteri dan jamur-jamuran lah.

Jadi kalo mikrobioma beragam dan seimbang di dalam usus, maka respon imun akan jauh lebih baik. Nah, kita disarankan untuk memperkaya biodiversity di dalam tubuh. Caranya dengan berani hidup. Hidup sederhana. Orang-orang di kota itu makanannya cepat saji. Keluar masuk restoran mahal. Banyak pake pengawet olahannya. Akhirnya bakteri dalam usus yang itu-itu saja. Tidak baik. Monoton.

Bandingkan dengan mereka yang hidup di desa-desa. Mereka secara langsung terpapar asin garam lautan dan ekosistem hutan. Di kampung saya, kalau mau makan seafood tinggal terjun di laut. Tangkap sendiri. Kadang tidak dimasak, langsung makan saja. Ada yang makan gurita hidup-hidup. Seandainya Kalomang bisa dimakan, mungkin dorang rebus. Untuk kebutuhan serat mereka tingal cabut ubi dan sayur di kebun. Bikin kasuami trus colo-colo pake air laut. Kalo bosan mandi di sumur, tinggal panjat kelapa. Mandi dan cebok pake air kelapa. Makan buah tinggal petik di hutan. Pepaya bekas gigitan kelelawar saja, dimakan. Tidak ada yang terinfeksi Covid. 

Pokoknya kalo sudah di hutan, semua yang merayap mereka makan. Kecuali satu, apa itu? Tentara. 

Eh, jangan dulu bilang mereka kalau dewasa pasti punya penyakit bawaan dari pola hidup itu. Kekuatan pertahanan republik ini banyak disuplai dari kampung saya. Menjadi TNI itu harga mati untuk orang-orang di kampung saya. Mereka tumbuh dewasa semakin bugar. 

Mereka secara langsung mendapat bakteri dari laut. Belum lagi dari ekosistem hutan. Kalau hujan mereka tidak berlindung di dalam rumah. Mereka mandi-mandi. Begitu juga dalam cuaca panas. Malah bermain semakin jadi. Akhirnya biodiversity yang  masuk ke dalam tubuh semakin banyak dan beragam. Dan berimplikasi pada kuatnya imunitas. Semakin biodiversity, akan semakin baik bagi tubuh. 

Kita  tidak hanya dapat bonus demografi. Ada ikutannya. Bonus korona. Kita tidak bisa hanya andalkan pemerintah dengan program-program penanggulangannya. Salah satu yang bisa diandalkan sebagai benteng kita selain nakes adalah imunitas kita. Imunitas sangat berkorelasi dengan biodiversity di badan.

Lalu, apa mi ceritanya dengan genosida Thanos? 

Tunggu, sa karangkan ko.

Thanos memusnahkan separuh kehidupan di bumi. Untuk apa? Supaya dia bisa berkebun dengan baik dan tinggal dengan nyaman di pondo-pondonya di planet Titan sana. 

Ia nilai manusia itu serakah. Perusak alam semesta. Sadis mengeksploitasi bumi. Thanos meramal, alam semesta tidak mampu menghidupi populasi manusia lagi beberapa tahun ke depan. Ia anggap manusia adalah biang penyakit yang menggerogoti planet bumi. Dia ingin menjaga keseimbangan galaksi. Dengan cara menjajah planet-planet di alam raya.

Ingat dialognya ketika momen sebelum baku hantam dalam episode End Game? “I’m inevitable”, begitu kata Thanos. Kehadirannya sebagai pembawa malapetaka tak bisa terhindarkan. Avenger tak dapat mengelak. Dalam Termodinamika ada yang namanya entropi. Disiplin tertentu yang menghitung tingkat derajat chaos. Derajat kebebasan. Yang mana seiring waktu angkanya selalu meningkat. Tidak akan pernah turun seiring pola hidup manusia.

Bagaimanapun, suka atau tidak, bahwa dunia yang kita tinggali ini telah disetting menuju kehancuran. Contohnya ramalan kiamat. Sebagian besar agama di dunia meyakini itu. Dan Thanos adalah tokoh fiktif super villain yang diimajinasikan manusia untuk menyelamatkan kelangsungan hidup alam semesta.

Di dunia nyata ada Greta Thunberg. Ia ambil jalan berbeda dengan Thanos yang andalkan kekuatan pedangnya. Greta memilih jalan sunyi, ia berbicara di hadapan pemimpin dunia untuk menyelamatkan bumi melalui kekuatan politik.

Baik Thanos maupun Greta sama-sama sadar bahwa ancaman terbesar planet ini adalah manusia itu sendiri. Thanos memilih anarkis, dengan jalan memusnahkan. Greta lebih soft, berkampanye dengan harapan manusia bisa berubah.

Kita harus sadar, tiap-tiap dari kita berkontribusi akan kerusakan di bumi. Jangan dulu kita sebut perusahaan-perusahaan, pabrik-pabrik raksasa yang menghasilkan limbah, tambang-tambang yang tidak “berperikelingkunganan” (sa karang ini istilah). Lihat dulu bagaimana cara kita menyampah. Sudah benar kah?

Hadirnya para teknisi kimiawi yang melakukan beragam inovasi tetap saja tidak akan mengurangi limbah. Hal ini menyebabkan mikrobioma yang monoton. Bakteri dan jamurnya itu-itu saja. Seharusnya hal tersebut bisa ditangkis dengan biodiversity, jadi tidak bisa. Tidak ada organisme-organisme lagi yang mengurai itu semua. Karena hutan-hutan dirambah serampangan. Sampah plastik menyumbat dan mencemari semua aliran sungai. 

Kalo tidak mengerti, contohnya begini. Misalnya Anda membuang limbah. Sebut saja berak di hutan, atau di rumput-rumput kah atau di mana saja, terserah! Senyamanmu lah. Jika biodiversity baik, maka limbah tadi akan diambil oleh organisme lain. Dan organisme tersebut akan diambil lagi oleh organisme lain. Begitu seterusnya. Ada ekosistem dan ada siklus alamiah terjadi di sana. Nah, masalahnya adalah manusia di bumi ini, ya kita-kita ini, banyak tidak sadar diri bahwa telah memotong habis siklus tersebut.

Kita menimbun rawa-rawa. Padahal di situ habitat kodok. Orang-orang dulu memanfaatkan suara kodok untuk meramal cuaca buruk. Masih banyak lagi keragaman hayati yang di manfaatkan manusia dalam menjalani hidup dengan bijak telah dirusak.

Jadi sudah paham kan kenapa Thanos mesti melakukan genosida. Manusia ini berbahaya memang.

Selain Greta, sudah banyak aktivis-aktivis lingkungan menyuarakan ini. Dan pemerintah sebenarnya tidak kekurangan niat baik untuk bantu rakyat. Hanya saja, ada satu penyakit. Apa itu? Birokrasi. Yang sering pingpong masyarakat kalo mengurus. Seharusnya ini perlu direkayasa genetiknya. Disusun ulang dan dipangkas.

Dengan alasan biodiversity saya jadi punya satu jurus ngeles kalo kena omel lagi saat makan. Dengan alasan biodiversity sepupu saya pemakan semut tadi, masih sehat wal afiat.

Supaya tidak semakin ngawur lagi pembahasan ini, kita selesaikan saja sampai di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.