Geliat Kecil di Bawah Megahnya Arsitektur Modern

Jika masyarakat belum siap menghadapi modernitas, kisah pasar yang sehat, bersih, nyaman dan modern akan sulit mencapai klimaksnya.

Cerit foto ini merekam fenomena manusia yang beragam di pasar sentral Kota Kendari. Mengintip dari jendela bidik, melihat kehidupan yang mengalir pelan nan syahdu pada sebuah keramaian pasar. Di sana, banyak cerita dengan segala dinamikanya bergerak dengan cepat. Untungnya, melalui frame yang tertangkap kamera waktu seakan melambat. Memudahkan kita membaca dan menyelami cerita yang dituturkan.

Aroma khas yang menyengat, genangan air, sesak, jejalan tumpukan sampah merupakan sekelumit sensasi yang tidak baru lagi ketika berkunjung ke suatu tempat bernama pasar. Ialah sumber penghidupan dan harapan banyak orang. Pasar merefleksikan watak publik, membentuk kultur, simbol menguatnya ekonomi. Mencerminkan kemandirian dalam berdikari.

Pasar sentral Kota Kendari menjadi salah satu pusat perdagangan. Jantung pereknomian warga pada era kolonial itu kini menjelma bangunan megah bernuansa merah dan kuning. Tepat di bawahnya pedagang sayur, ikan dan rempah memilih menggelar lapaknya. Padahal tidak sedikit rupiah telah digelontorkan untuk membangun fasilitas yang lebih memadai. Niatnya tulus. Menata kembali wajah baru pasar tradisional di Kota Kendari.

Namun, godaan untuk bersitatap langsung dan cepat dengan calon pembeli masih kuat. Pedagang terlalu patriotik mencari penglaris hingga ke tepi-tepi jalan. Ambisi pemangku kebijakan membangun peradaban modern dengan bangunan berarsitektur megah berbanding terbalik dengan antusias para saudagar terhadap sisi tradisional murni, memilih bangunan kayu-kayu beratap terpal atau seng berkarat. Dilematis.

Membangun peradaban dengan kearifan budaya lokal mutlak diperlukan manakala perspektif masyarakat enggan beranjak dari makna pasar tradisional sebagai perayaan kehidupan yang paling paripurna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.