Mimpi di Dalam Mimpi

Jadi ceritanya seperti ini kenapa saya bisa interview di salah satu stasiun radio rusak yang hampir punah di Cape Town, Afrika Selatan:

Begini.
Dalam perjalanan sepulangnya dari ambil kiriman kasuami di pelabuhan Mqhekezweni saya bertemu dengan perompak Somalia nyasar yang terkenal lebay dalam hal merampok. Tiba-tiba saja orang itu berbicara pada saya dengan bahasa yang hanya dia dan Monyet yang mengerti. Bahasanya seperti orang keterbelakangan mental yang lehernya diinjak Gajah lagi program diet dan suara berat keluar dari kerongkongan bogarnya. Acuh, saya tidak memedulikannya. Dan terus berjalan.

Di ujung jalan tepat di persimpangan Distrik 5. Ada seorang wanita separuh baya berlarian mengarah ke saya. Kulit hitam pekat dekil wanita itu bikin saya bangga, ternyata yang lebih sial dari pada di sini lebih banyak.

Cuaca cukup panas dan di wajahnya banyak bulir keringat bertengger. Di hadapan saya, wanita itu mengangkat lengan kirinya dan dengan sigap tangan kanannya mengibaskan tumpukan daun kemangi tepat di ketiaknya yang telah dihiasi oleh kusut uban bulu ketiak yang tumbuh subur, damai dan sempurna.

Tak lupa pula produksi baunya membusuk seirama geletak bangkai Zombie dalam serial Walking Dead. Bibir atas dan bawah wanita itu terus berbenturan, komat kamit tak beraturan dan sekali lagi hanya ia dan Anjing pelacak yang mengerti siratan makna di dalamnya.

Benak saya berhipotesa bahwa ini adalah wanita dengan otak yang agak geser. Saya pun terus melanjutkan perjalanan menuju apartemen kumuh bekas gempuran rudal-rudal prajurit Israel. Meski hati terus dalam ronta akan tanya kehebatan pawang rudal Palestina yang mampu belokan rudal sampai ke tanah Afrika.

Sungguh tega pawang tersebut karena merekalah dua pasang sejoli uzur di belakang apartemen saya terbujur meregang nyawa, tidak lagi meregang asmara yang menua. Tewas bersimbah darah dan puing, tidak lagi terbaring bersimbah peluh sisa-sisa kenikmatan terakhir di dunia.

Kembali saya percepat langkah, menghindar dari jangkauan wanita itu. Seketika seberkas sinar mentari yang bersembunyi di balik barisan gedung menyilaukan pandangan. Saya terjerambab. Dalam keadaan terbaring pada aspal panas itu, ada gerombolan bocah berlarian, dengan riang mendendangkan lirik: “coco losa he ankule zintava, simela sipume zimbabwe, wenduya baleka, duya baleka yekesintvha, simela sipume zimbabwe

Semakin lama orang terus bermunculan. Nyanyian itu ibarat pentungan dengan tujuan mengumpulkan khalayak. Mata mereka tak pernah lepas menyorot ke saya. Semua terasa aneh. orang-orang ini telah gila semua. Sangat asing rasanya berada di tengah kerumunan manusia dengan warna kulit sepekat malam, bibir jatuh dan tebal-tebal.

Ingin lepas dari situasi ini, saya memutuskan kembali acuh. Langkahkan cepat kaki membelah tanah gersang Distrik 5. Tak lama, Sebuah pohon tua di batas kota menjadi tempat saya lepas lelah. Sesaat dada saya berhenti berdebar ketika sosok wanita berhijab hitam melintas bak peragawati.

Ia memegang potongan kertas. sekali-kali kertas itu diremas- remasnya. Gerak tubuhnya mengisyaratkan kecemasan, kegundahan, kerinduan dan penantian tanpa ujung. Sudah berulang kali saya menyapanya, bahkan sampai kering mulultku. Sedikitpun ia tak gubris. Seolah kehadiranku adalah roh halus yang tak dapat dijangkau secara visual.

Wajah wanita itu pancarkan kemilau cahaya membening. Pelan-pelan ia terlihat menjauh dan hilang ditelan cahayanya sendiri. Hanya kertas putih yang digenggamnya menggelayut seirama desiran angin saat berusaha merengkuhnya. Hatiku bergetar membaca pesan yang tertulis di balik kertas yang ditinggalkannya. “Baiti in Jannah”, mungkinkah ia sedang mencari kontraktor untuk membangun rumahnya di Surga kelak. Menanti sosok yang mengimaminya dalam beribadah kepada Rabb-nya.

Khayalan tentang wanita berhijab gelap itu lalu buyar seketika, saat anak kecil tiba-tiba muncul dari balik lubang pohon
dan menepuk pundak saya. Dengan wajah memelas ia menuntut “kekernya” padaku. Telapak tangannya terus disodorkan penuh harap agar aku memberi benda yang dipintanya. Saya membuang pandangan seolah acuh namun diselimuti keanehan gila.

“Apaan apaan ini?,” Batinku membentak kencang, memaki fenomena yang alurnya tak beraturan.

Sepertinya anak kecil itu mempunyai indera ke enam, tujuh,delapan, sembilan dst. Seolah ia mendengar batinku memberontak. karena tiba-tiba saja alisnya menukik tajam.

Wajahnya bertransformasi menjadi lebih antagonis. Polos mata bulat beningnya menjadi lototan merah menyala-nyala. Kuduk saya bergidik. Kini sedetikpun pandangannya tak pernah enyah dari saya.

Matanya sudah berhenti berkedip beberapa belas bahkan puluh menit yang lalu. Lingkar kantong matanya menjadi lebam menghitam. Mulutnya terus menganga lebar meneteskan liur-liur berbisa. Lidahnya menjulur liar dan gigi seri yang indah tadi telah menjadi taring penusuk saraf pelumpuh sukma. Insting lari Usain Bolt mencuat. Dalam hitungan detik aku telah meninggalkan anak bule itu bersama debu gersang tanah Distrik 5.

Kini saya terluntang luntung di bawah sengatan terik matahari siang. Dengan napas sepotong-sepotong dan tanpa arah saya terus berjalan berharap dapat menemukan petunjuk pulang ke apartemen di Distrik 5. “Semoga saja saya tidak sedang dalam sebuah labirin”, saya berharap.

Dan lagi bumi kembali bergetar, mengguncang batuan kecil yang berserakan di tanah. Di ujung jalan deru mesin Humvee menjadi musabab gempa palsu itu. Semua prajurit bertelanjang dada sambil mengangkat senjata ke udara dan meneriakan semangat “Kill Fucking Tali” berulang kali.

Konvoi mereka terlihat garang. Saya berlindung di balik sejumput semak pinggiran jalan agar tak terlindas rombongan prajurit itu. Kenyataan yang tidak ingin kupertanyakan adalah saat ini aku telah berada di Afghanistan, wilayah timur tengah yang penuh dengan kaum ekstrimis dan fanatis.

Saya berteriak histeris ketakutan saat jejeran Humvee tersebut terpelanting ke udara dengan kobaran nyala api menjilat-jilat. Prajurit tadi hilang bersama perginya asap dari ledakan dahsyat akibat ranjau darat dan rudal RPG milik Taliban. Segerombolan pasukan Taliban menyebar dengan cepat, melakukan inspeksi pada puing-puing ledakan.

Tak dinyana salah seorang dari mereka telah menyilangkan sebilah pedang tajam mengkilap di belakang leher saya. Konon, pedang itu sudah menebas puluhan leher prajurit Uncle Sam.

Begini petikan percakapan kami.
“Are you an American?,” tanyanya.
“Nope, I am Indonesian lives in Afrika”
How Could you end up right over here?….
I dont know, Tali. Its just happen.
Are you a Moslem?…..
Yeah of course I am a moslem.
Allright then, could you read this?.
Pasukan Taliban itu menyodorkan sebuah kitab suci Al-Quran ke saya.

Gawat, saya belum lancar mengeja huruf Hijaiyah. Saat itu terlintas penyesalan, waktu zaman SD mengapa saya memilih bermain bola dibanding mengaji. Cukup lama saya terdiam, sedang pedang tajam bukan tempaan warga Binongko itu semakin melekat erat tepat di jakun kejantananku. Saya mulai membacanya dengan terbata-bata. Penuh tekanan sebab nyawa telah menjadi ganjarannya.

Tiba-tiba saja algojo itu membentak “Why you take it so got damn long?,,,you are going to die right now.”
“Allaaaaaahh Akbar”,
teriaknya.

Diangkatnya tinggi-tingi pedang itu, tenaganya sudah terkumpul
untuk segera menghujamkannya di batang tenggorokanku.

Akhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh…..TOLOOOOOOOOOONNNGGGG

Sejenak, Rasanya seperti di tampar-tampar. “Woy, woy bangun woy, sudah bisa dimulai interview”. Seorang ukhty berniqob merah jambu terus menampar pipiku dengan dasar sepatu.

Kubuka mata, berusaha mengerti. Dengan penuh rasa syukur saya ucapkan Alhamdulilah itu semua hanya mimpi. The worst day dreaming i ever had before. Ini akibat di radio rusak, kelamaan tunggu radionya diperbaiki akhirnya keboboan di pinggir pintu WC.

Setelah itu wawancara pun dimulai dengan sangat khusyuk. Kejadian ini ada hikmahnya juga. Pertama belajar mengaji itu harus. tidak boleh tidak. Kalau kita tidak bisa membaca Al-QURAN kita bisa mati di dunia ini. Nah, kalo sudah mati, di akhirat pasti disuruh Ngaji lagi memang bukan pasukan Taliban lagi yang suruh tapi malaikat. Kalo tetap nfa bisa mengaji di mati’in lagi. jadinya mati dua kali, sakitnya itu bukan disini lagi (sambil nunjuk dada kiri) tapi udah dimana-mana (sambil tunjuk sekujur tubuh).

Hikmah Kedua adalah berkaitan dengan pesan wanita misterius yang berisi “Baiti in Jannah”. Bahwa orang sholeh pasti akan mendapatkan jodoh yang sholeh pula, (Oops salah, itu homo). maksudnya jika ingin mendapatkan wanita sholeha maka kita harus menjadi pria sholeh, beriman kepada Rabb.

Jannah is the place where we want to taking care of each other,” saya tetiba teringat kalimat ini. Dari ukhty berinisial Dtfh.

“PPPTAAAKKKK”. Sekali lagi aku serasa ditendang tendang. “Woyy,,woyyy jam tiga mi, ko tidak ke kantor ka?”. Secara samar saya dengar suara halus dan tindakan tak berpriketiduran itu.

Saya terbangun dan segera menerobos masuk ke dalam kamar mandi. Sambil mengguyur badan dengan gayung air, otakku berkeliaran menerka apakah saya sudah di dunia nyata atau masih bermimpi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.