Lampu Merah

Kecil, kurus, mungkin itu yang bisa saya tangkap darinya sepintas. Untuk anak seumurannya, sepantasnya malam ini ia sudah harus terlelap atau menahan kantuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Keadaanlah yang memaksanya untuk ikut membanting tulang bersama nenek. Paras tubuh nenek juga semakin tua. Renta dan rentan terhadap penyakit.

Walaupun sangat lemah tak menjadikannya berpangku tangan. Nenek tetap bekerja keras mengais rezeki yang berkah. Ia rela bermandikan peluh daripada meminta-minta. Mereka tinggal jauh di pinggiran kota, di gubuk yang hanya ditopang oleh kayu-kayu rapuh dimakan rayap.

Semenjak ayah dan ibu berangkat ke pangkuan Illahi, nenek adalah satu-satunya harapan baginya agar tak sebatang kara menjalani hidup. Jalanan telah menjadi rumah kedua bagi mereka. Tepatnya persimpangan lampu merah jalanan kota. Penghuni jalanan pun telah akrab dengan pemandangan di simpangan itu. Sehingga nampak biasa dan orang-orang tak pernah peduli lagi.

Di setiap matahari terbit, ia sudah berjalan, bukan ke sekolah melainkan lampu merah. Sekolah adalah tempat yang sangat asing baginya. Bahkan sekarang ia sangat sukar mengeja huruf. Nenek yang bertanggung jawab di rumah untuk memberinya pendidikan lalai akibat tuntutan hidup yang semakin keras.

Suatu waktu saya mendapatinya di kawasan mangrove Kendari. Ia sedang memancing ikan. Entah apa di benakknya. Ia berani menaruh harapan di teluk yang penuh oleh sedimen itu.

Orang-orang kaya terlalu sibuk dengan urusan materi, pemerintah pun tidak sempat mengurus hal-hal sepele seperti anak-anak terlantar. Begitu juga negara semakin cacat digerogoti kepentingan elit politik. Mau tak mau, ia harus bertanggung jawab akan dirinya sendiri. Menahan teriknya siang dan merangkul dinginnya malam untuk satu dua suap nasi. Nasi toh!.

Entah dengan semangat dan impian apa?, pagi itu ia berjalan menjemput harapannya dengan menggandeng kerupuk-kerupuk yang disimpannya kedalam kantung kresek putih. Kerupuk singkok yang ditaburi kuah gula merah pada permukaannya. Bentuknya pipih dan agak lebar seperti piring. Kerupuk itu buatan tetangga yang diambilnya untuk dijajak ke orang-orang dengan sistem bagi hasil.

Tubuh kurusnya kembali bertengger di bawah tiang lampu merah. Ia mengangkat kerupuk dagangannya tinggi-tinggi agar mudah terlihat oleh kendaraan yang berhenti kala itu. Bajunya basah oleh cucuran keringat menderas. Sangat sedikit atau bahkan hampir tak ada yang menghampirinya. Lagi pula saat ini dunia semakin modern. Modernitas itu berujung pada selera tiap orang.

Apakah masih ada seseorang yang mau mengonsumsi kerupuk seperti itu, yang lama terpapar sinar matahari jalanan dan higienitas yang meragukan. Bisa saja orang-orang tersebut enggan membeli akibat gengsi. Gengsi yang menutup mata batin dan membutakan nurani.


Meski demikian adanya, Ia tak pernah menyerah menawarkan kerupuknya ke orang-orang. Ia selalu saja yakin dan percaya. Lembaran dan keping rupiah pasti didapatnya.

Pada suatu malam, simpangan lampu merah semakin sepi. Dan dia masih setia di sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.