Jangan Sampai Ditelan Pandemi

Ada satu virus klasik yang sedang menghantam manusia. Virus pesimisme. Sajian karya foto jurnalistik harusnya meredam itu. Membangkitkan gairah optimisme publik di tengah rundungan duka yang belum menemui ujungnya. Kontribusi apa yang bisa diberikan oleh jurnalisme, khususnya foto jurnalistik?.

Ada orang yang sampai hati, TV-nya dibanting-banting setelah menonton berita Covid-19. Sadis dan talewa-lewa. Peristiwa itu beredar di lini masa. Tentu gara-gara korona dan media yang memberitakannya berulang-ulang. Itu contoh kecil saja, betapa desperate-nya orang-orang di musim korona.

Ditambah lagi kondisi global yang kian sulit. Gejolak yang ditimbulkan Covid-19 terlalu sangar, sampai banyak kebijakan pemerintah berubah-ubah. Situasi tidak menentu. Pandemi menghempas semua kalangan. Banyak profesi dan bidang kerja ramai-ramai tiarap.

Jurnalisme, khususnya foto jurnalistik dapat mengambil peran pada masa pandemi ini dengan menghadirkan gambaran optimisme. Gambar dalam sebuah foto dalam hal membangun optimisme dapat diperlihatkan dalam sajian karya-karya foto yang kontemplatif. Memuat perenungan untuk membangkitkan semangat.

Foto-foto baiknya berpesan atau mendorong orang agar tetap optimis menjalani hidup. Nah, cara melejitkan semangat itu ialah dengan foto-foto yang kita arahkan. Mengonsepnya sedemikian rupa. Bukan merekayasa fakta. Melihat adegan-adegan visual yang heroik dan pantang menyerah. Foto-foto intim yang bermuatan pesan moral.

Sebagai musuh bersama, pandemi ini kasat mata, sehingga harus diperlihatkan dengan tafsir-tafsir dalam gambar. Ini menjadi tantangan tersendiri juga bagi pewarta foto, bagaimana memvisualkan hal-hal yang tidak tampak tersebut sehingga dapat menggugah kesadaran kolektif publik.

Orang akan memberi respon yang berbeda ketika melihat sebuah imaji dalam bentuk gambar dan video. Gambar diam atau foto memberi kesempatan bagi orang untuk sejenak mengambil waktu untuk memikirkan insiden apa yang sedang terjadi?. Ada jeda. Memberi ruang bagi naluri untuk bersuara.

Foto berhenti pada satu momentum atau potongan adegan yang memungkinkan orang yang melihatnya dapat berkontemplasi. Berbeda dengan video yang menyodorkan rentetan kejadian secara terus menerus. Tak dapat dipungkiri, gambar juga dapat memvisualkan ketakutan dan pesimisme, oleh karena itu pewarta foto harus melatih insting dalam memilah adegan yang bernilai optimisme. Subjektifitas seorang fotografer sangat perlu. Subjektif dalam niatan yang baik tentunya. Bukan mengkonfrontir yang baik dan yang buruk.

Tetapi benar-benar memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi yang perlu ditemukan solusinya. Menjadi netral adalah kondisi yang tidak menarik sama sekali. Isu netralitas dalam jurnalisme bukanlah tidak memihak. Sebab posisi jurnalis ialah enlightment (penerangan), memberi pedoman kepada publik. Pada situasi krisis keberpihakan harus pada kenyamanan masyarakat. Kepentingan bersama.

Disrupsi dan pandemi tentu menelurkan banyak tantangan yang menjadikan kita pesimis. Jurnalistik tidak melulu tentang news, melainkan hope. Karya jurnalistik, khususnya fotografi harus dikemas jauh lebih menarik, orisinil, baik, dan arahnya melegakan. Memberikan harapan baru. Agar masyarakat terhindar dari hoaks yang menimbulkan kecemasan-kecemasan yang tak perlu.

Dari zaman Perang Dunia I fotografi sudah dimanfaatkan untuk kepentingan agitasi dan propaganda. Sampai zaman perang dengan korona ini pun, pewarta foto harus tetap optimis, bahwa fotografi masih sangat-sangat dibutuhkan sebagai pemberi informasi. Sebagai media pencerah.

Foto-foto yang mencerahkan hanya bisa dijepret oleh para fotografer jujur dan bekerja dengan niatan baik. Orang dengan skill memotret bagus itu banyak terhambur di jalanan, tapi orang dengan niatan baik itu sangat jarang sekali.

We are not in the same boat, but we are all in the same storm. Kapal kita beda-beda, tapi badai kita tetap sama. Korona. Ada yang kapal pesiar, kapal induk, Phinisi, kapal selam, kapal perang, ada yang cuma perahu lesung, rakit, bahkan ada juga yang cuma batang pisang. Pokoknya, selamat bertarung, jangan sampai tertelan, semoga menang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.