Hugua yang Jenaka

Catatan ini saya tulis setelah meliput deklarasi pasangan calon gubernur Asrun dan Hugua di lapangan Benu-benua, Kendari, tahun 2018 silam.

****

*Respon positif orang tertawa jauh lebih menular dibanding emosi negatif seperti menjerit atau menangis.

*Diawali dengan suara seperti sedikit tercekik yang muncul dari belakang tenggorokan, lalu berakhir dengan tawa terbahak-bahak. Umumnya ini adalah bentuk tawa yang paling natural, ekspresif dan biasanya menular ke orang yang ada di dekatnya. Orang dengan gaya tawa seperti ini cenderung menyenangkan, mudah bersosialisasi dan rendah hati.


Meski dianggap Soekarnoisme sejati, Hugua tetap memiliki karakter tersendiri dalam bernegara. Saat ini pemuda seolah telah kehilangan taringnya, sehingga kalimat pamungkas sang proklamator “berikan aku sepuluh pemuda maka akan aku guncang dunia” tak lagi lantang menggetar relung seorang Hugua.

Tuhan menganugerahkan padanya 90% bebatuan cadas saat memimpin gugusan pulau yang tumbuh pada persimpangan laut Banda dan Flores. Tak berkeluh kesah akan hal itu, jiwa visionernya membawanya menyelami kedalaman lautan. Kemudian ia menemukan apa yang saat ini ramai digunjingkan sebagai “Surga Bawah Laut”. Tak berlangsung lama duniapun satu kali terhentak. Nama Wakatobi menggema seantero jagat.

Dalam kelakarnya pada momentum tahun politik ini, “jika tuhan berkehendak menganugerahkannya Benteng Keraton Wolio, Padang Savana Rawa Aopa, sungai terpendek Tamborasi, Danau biru Kolaka Utara, Labengki, Air panas Wawolesea dll yang ada di jazirah tenggara Sulawesi ini, maka saya tidak hanya menghentakkan dunia satu kali, melainkan berkali-kali,” tuturnya. Optimisme itu memang agak overwhelming tetapi jika anda hadir dalam himpitan ribuan massa deklarasi paslon dengan akronim “Surga” tersebut, naluri kita akan mengatakan bahwa suara itu tidak terdengar layaknya kelakar.

Bagaimana alam menempa karakter sosok seorang Hugua serta rekam jejaknya dalam memimpin Wakatobi menawarkan sekelumit cerita manifestasi yang memikat antara kekuatan pikiran dan konsistensi tindakan. Dalam hal pembangunan, Hugua tak cengeng masalah uang dan infrastruktur untuk sebuah peradaban, sebab jika itu masalahnya siapapun tidak akan merasa cukup. Tantangan terbesarnya ialah bagaimana mengubah mindset keliru sebagian masyarakat agar lebih menghargai apa yang dimiliki. Hugua berbicara pada level manusia dan budayanya serta kelesetarian SDA.

Pemerintah hadir dengan peraturan-peraturan positif kemudian mengingkari keberadaan masyarakat yang telah lama hidup dengan tatanan nilai sosial sendiri. Lewat benturan inilah sosok Hugua muncul dengan merubah prinsip yang sifatnya transaksional ke prinsip yang lebih arif terhadap kebudayaan. Fokusnya terhadap human interest telah meningkatkan kebudayaan Wakatobi yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat, sebab bagi Hugua, pembangunan ekonomi bukanlah hitungan matematis. Kesejahteraan ekonomi akan ikut meningkat seiring dengan pembangunan budaya lokal.

Mindset positif membentuk budaya dan karakter positif. Merubah mindset keliru khususnya aparat birokrasi masih menjadi hal yang diperjuangkannya hingga sekarang. Prinsip membangun yang humanis adalah langkah panjang perjuangan yang akan terus berlanjut.

Hugua (kanan) memberi pemaparan di hadapan paslon Gubernur Ali Mazi-Lukman (Aman) saat debat kandidat di Hotel Claro, Kendari, 5 April 2018.

Rekaman bahasa tubuh Hugua pada euforia demokrasi di panggung deklarasi beberapa waktu lalu menjadi catatan sejarah dalam membentuk sebuah paradigma baru kepemimpinan di daerah Sultra. Gelak tawa beliau dalam pertarungan di medan politik kali ini menyajikan sepotong misteri dan hanya waktu yang dapat menyingkapnya.

Sebagai masyarakat berbudaya, mari doakan semua calon pemimpin kita yang tengah berlomba dalam kebaikan agar selalu dalam rahmat dan lindunganNya serta jauh dari kekhilafan sehingga mampu menciptakan peradaban baru bagi Sultra yang cepat dan tepat secara aman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.