Pemain Kontradiktif dan Kontraproduktif

Kalau hendak dikalkulasi, data statistik performa permainan saya saat turnamen futsal antar jurnalis pagi tadi adalah nil.

Mulai dari ball possession, shots on target sampai passing accuracy semua rata, nol besar. Satu-satunya yang menunjukan persentase meningkat hanya fouls. Namun diantara team mates yang lain hanya saya yang punya earth cover luas, alias banyak lari kosong. Taputar-putar sendiri tak tentu arah.

Entah kenapa, saya sudah seperti orang dengan mental disorder tiap kali bermain bola. Saya sudah tidak tahu bagaimana menggoreng bola tanpa minyak sawit. Ketika sudah di lapangan saya seolah tersesat. Saya kebingungan memilih mana jalan yang benar, mau passing bola kemana, siapa teman, siapa lawan, siapa wasit dan siapa penonton. Saya blank. Mana kaki, dan mana bola, semua yang bergerak saya tendang. Dan lagi, satu-satunya skill saya yang tersisa tinggal kemampuan bernafas.

Tim Futsal Haluan Sultra dalam kompetisi futsal AMSI-IJTI di Plaza Kubra Kendari

Mungkin karena usia, merenggut agresivitas dan determinasi saya dalam berolahraga. Padahal, berdasarkan UU republik ini saya masih dalam golongan muda. Tapi saya tidak ingin menuding umur sebagai biang kerok. Ini pasti karena kebanyakan non job dan bermalas-malasan, membuat tubuh saya bagian perut sedikit menggembung, berat ketika bergerak. Saya tidak rutin lagi lari pagi.

Apa yang saya alami di turnamen pagi tadi sangat kontradiktif dengan para pemain bola pada umumnya. Dimana-mana, semua pemain bola pasti ngotot-ngototan ingin dimainkan oleh manajer tim. Ada yang ngotot betulan supaya dimainkan. Ada yang pura-pura mengalah. Ada juga yang ego, berambisi memamerkan kejagoanannya menggocek bola. Dalam hati, semua pemain itu berdoa agar supaya menjadi pilihan utama.

“Mudah-mudahan dia tida tunjuk saya”, dalam hati saya bilang begitu. Saya berharap, nama saya tidak disebut manajer untuk bermain. Seandainya ada budget, saya rela bayar, supaya TIDAK DIMAINKAN.
Tapi akhirnya saya harus dimainkan juga. Di babak terakhir dan menit-menit losstime. Entah karena pertimbangan skill futsal saya yang misterius dan bisa menjadi game changer di ujung laga atau sekadar oksigen cadangan bagi kawan-kawan yang sudah hosa.

Atas nama solidaritas, saya merumput sintesis jua. Dengan sepenuh hati saya bulatkan tekad turut bermain, tapi dengan satu syarat; jangan oper bola ke saya. Bagaimana caranya itu?. Terserah.

Saat masuk lapangan, sebelum menyentuh bola, saya langsung dihadiahi kartu kuning. Saya bingung. Seradikal apa diriku ini sampai harus diberi kartu padahal belum melakukan apa-apa.

Setelah diberi tahu wasit, saya baru sadar, kesalahan saya karena melakukan pergantian tanpa tabe-tabe. Padahal itukan sepele. Dan tidak sengaja pula.

Meski bermain di momen injury time tetap saja bikin saya ngos-ngosan. Saya kewalahan mau menjaga siapa. Striker lawan terlalu gatal. Tidak mau diam di tempat. Keluyuran kesana kemari melakukan manuver yang aneh-aneh. Tenaga saya banyak terkuras membayang-bayangi gerakannya.

Setiap kali bola menggelinding ke kaki saya, buru-buru saya mengopernya ke kawan. Karena saya pikir pemain lain sedang membayang-bayangi saya, ternyata itu bayangan saya sendiri.

Melihat style permainan saat ini, saya terkenang kembali masa-masa kecil dulu, masih liar, lincah dan gesit, sewaktu CR7 masih belia di MU dan kami anak-anak SMP 2 Baubau begitu gandrung dan gila dengan sepakbola. Di lapangan Tana Mandala kami sering baku tada-tada uang jajan lalu mencari lawan tanding.

Di lapangan berkontur miring itu ada jejak perjalanan saya menggemari bola kaki sebelum berpindah hobi ke Basket gara-gara Hanamichi Sakuragi dan Rukawa. Setiap kali bermain, kami selalu rebutan memilih gawang. Sisi lapangan yang searah dengan kali Ambon adalah favorit. Karena di sisi itu tempatnya agak tinggi dan di sebelah kiri area gawang banyak sampah pecahan botol, sedang di sebelah kanan ada rumput setinggi lutut anak SMP. Tentu medan seperti itu jadi favorit karena menyulitkan lawan membangun serangan.

Kolaborasi dan partisipasi rekan-rekan media di Sultra dalam turnamen futsal ini sangat baik untuk keakraban. Ini sebagai ajang refreshing di tengah tugas-tugas jurnalistik yang panjang dan menyibukkan.

Lalu, bagaimana hasilnya, menang atau kalah? Jangan tanyakan perihal menang atau tidak. Kompetisi ini murni demi silaturahim insan pers. Begitu kira-kira jawaban elegannya supaya tidak disebut gugur duluan.

1 Komentar

  1. Pingback: Mitra Statistik yang Mengakrabi Gawai – wakinamboro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.