Perempuan di Mata Pria Hidung Loreng

Jargon Gudang Garam Internasional bahwa pria punya selera saya rasa cukup tepat mendasari perspektif kita tentang sebuah kecantikan. Selera tidak selalu sama. Olehnya itu, setiap pria memiliki caranya masing-masing dalam mengagumi kecantikan seorang perempuan.

Perempuan suku Himba atau dikenal dengan suku merah, suku penggembala semi-nomaden di Kunene, daerah terpencil di Namibia.

Masing-masing memiliki tolak ukur bahwa cantik itu harus seperti apa. Hal tersebut berangkat dari keyakinan bahwa setiap sosok memiliki pesonanya sendiri, tak terbatas oleh sekat warna kulit, rambut, bentuk wajah, bibir, payudara, suara yang merdu atau bonggela sekalipun.

Its a big world out there, it would be a shame if you don’t experience it. Setidaknya ungkapan tersebut mengantarkan kita pada pemahaman mengapa makhluk berjenis perempuan diciptakan. Perempuan diciptakan sebagai miniatur semesta dengan segala keindahannya. Hal tersebut bertujuan mengakomodasi para pria dengan daya jelajah minim.

Entah itu akibat ketidak mampuan secara fisik atau kelemahan ekonomi dalam mengunjungi tiap spot yang ada di dunia. Disitulah sosok perempuan hadir, mewakili setiap keindahan yang ada. Setiap lekuk pada tubuh perempuan telah dipersonifikasikan sempurna oleh dunia bersama seluruh elemennya.

Dalam memaknai definisi cantik atau memecahkan arti dari keindahan ideal cukuplah rumit, mengingat ketertarikan secara fisik sangatlah bervariasi ditiap kebudayaan manusia, era dan preferensi individu. Itulah sebabnya kecantikan/keindahan seorang perempuan bersifat subjektif.

Mihaela Noroc dalam foto seri “The Atlas of Beauty” menyatakan bahwa kecantikan ada dimana-mana, dan itu bukan masalah kosmetik atau ukuran fisik tetapi lebih tentang menjadi diri sendiri. Noroc juga menawarkan sudut pandang lain bagaimana keindahan melintasi perbatasan budaya.

Karunia kecantikan lahir satu paket, tidak tersegmentasi pada level fisik melainkan juga menyangkut cara seseorang berpikir, cara berjalan, cara berinteraksi dengan orang lain ataupun cara merespon konflik. Kalau menurut saya sendiri, cantik itu independen, tapi tetap masih bisa bermanja dan lemah gemulai ke saya.

Satu lagi perihal cantik, pria itu sangat pandai dalam “selective logging“. Pintar sekali memilih cewek. Meski tampang amburadul, selera ceweknya tetap high level. Pria selalu subjektif. Dengan alasan memperbaiki keturunan, mereka cenderung memilih perempuan yang cantik secara fisik. Padahal fisik akan diwariskan dari kromosom pria. Sedangkan intelegensi diwariskan oleh perempuan. Jika kita mau bijak, memilih perempuan pintar tentu lebih baik. Bukankah kecantikan hanya setipis kulit bawang. Secantik apapun akan nene-nene juga pada waktunya. Tetapi kalau bisa mendapatkan perempuan pintar dan cantik sekaligus, selamat, Anda sudah berdiri di depan gerbang kebahagiaan.

Terakhir, bagi para pria sejati, kalau cantik itu ada dimana-mana, kenapa kita harus memilih yang ganteng?. Ayo kembali ke fitrah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.