Tekad Andesbal Lahirkan Superorganisme Gigantis

Andesbal bukan merujuk pada Andean states, bukan juga tentang deretan pegunungan Andes yang membentang sejauh 7000 Km di tepian barat Amerika Selatan. Saya memungut kata itu dari kalangan muda di pesisir Siotapina, Buton. Sebagai penanda identitas komunal, mereka populis menyebut diri sebagai Andesbal-Anak Muda Desa Sampuabalo.

Kampung kecil yang dilingkupi rindang pohon-pohon jambu mede (Anacardium occidentale) itu memiliki setumpuk catatan dramatik dalam sejarah sosialnya. Jika mengaitkan jejak perjalanan peradabannya ke dalam trilogi sejarah-the glorious past, the dark present, dan promising tomorrow-pemuda desa Sampuabalo selalu menjadi fragmen dengan gerak juang yang kontras di tiap masanya.

Pada rentang tiga dekade silam, pemuda di sana hanyalah anak putus sekolah. Godaan menjadi abdi samudera kelana lebih menggiurkan daripada menjadi murid sekolahan yang kadang-kadang hanya menjadi sasaran empuk pelampiasan emosi guru yang mewarisi watak kolonial dan feodal. Pilihan tersebut bukanlah keputusan “kandang paksa” dan putus asa.  Pergi “mencari” dengan berlayar ketika itu adalah profesi favorit. Sama persis bagaimana gandrungnya anak muda kekinian yang berlomba seperti seorang Atta Halilintar, menjadi youtuber.

Di periode itu, hampir tidak ada kegiatan-kegiatan yang memberdayakan masyarakat. Kalaupun ada, belum efektif dan sebatas kegiatan seremonial belaka. Tak lebih dari berkesenian sederhana (vocal group atau kasidah), pencak silat dan mengaji. Selain nilai-nilai tradisi yang mengakar pada diri masing-masing individu, sepak terjang kawula muda di sana pun memiliki dinamikanya sendiri.

Pada masanya, gagasan tentang pendidikan sebagai jalan memperbaiki taraf hidup belum terpatri ke dalam benak setiap warga. Para tetua banyak beranggapan tugas utama anak ketika dewasa adalah meneruskan kelangsungan hidup keluarga. Membantu memenuhi kebutuhan ekonomi. Itu saja. Itulah mengapa, sejak kecil anak-anak Sampuabalo telah diajarkan hidup berdikari.

Meski stagnan dalam hal akademik dan ekonomi terpuruk, anak-anak di sana menemukan kebahagiaan dan kenyamanan hidup berdampingan dengan alam. Memenuhi kebutuhan makanan pokok, mereka tinggal panen kasbi (ubi) di kebun. Lalu diolah menjadi kasoami (makanan lokal masyarakat Buton). Butuh seafood, mereka cukup melangkah beberapa jengkal dari pekarangan rumah lalu menyiapkan mata kail, menebar jala, atau memasang bubu.

Zona nyaman itu ternyata membelenggu. Hampir pasti mempersempit dan membatasi visi mereka untuk beriringan dengan laju era yang kian tak terbendung.

Anak-anak muda di sana terdoktrin oleh pengalaman. Memilih jalan pendidikan di tanah rantau malah menambah beban keluarga. Ditambah dengan akses terhadap pendidikan yang “bukan main” luar biasa sulitnya. Sehingga tidak ada jalan lain menggenapi kemapanan selain mengarungi laut. Berlayar adalah keputusan paling mentereng yang pernah dilakoni seseorang. Saking bergengsinya, anak-anak bau kencur pun nekat ikut kapal, bisa berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya. Anak-anak itu biasanya bertugas sebagai asisten juru masak di kapal.

Jangan mengira dengan berlayar hanya akan mendapat kesejahteraan. Pelaut adalah pekerjaan yang berani memberi janji atas kisah asmaraloka yang syahdu. Berlayar, lalu pulang dengan penghasilan banyak adalah cara tangkas menaklukkan “mawar desa”. Bermodal gigi seri berlapis emas dan jemari dilingkari cincin emas pula secara otomatis dan simultan mendongkrak derajat sosial seseorang, maka hanya perlu satu kedipan mata bagi seorang pelayar untuk mendapatkan kembang desa pujaan hati.

Pun kalangan perempuan, tak luput menyuguhkan letupan kisah yang menguras perasaan. Fenomena sosial perkawinan usia muda banyak terjadi di negara ini, utamanya di wilayah pedesaan, dan Sampuabalo berada di antaranya. Mereka terjebak dalam kedangkalan pikir, bahwa tempat abadi bagi seorang perempuan adalah dapur. Kala itu, menjadi perempuan, hanya memiliki dua pilihan, memilih menikah atau dipilih dinikahi. Oleh keadaan, mereka dipaksa memikul beban orang dewasa dalam membentuk peradaban desa.

Dari kacamata psikologi, ini memang rentan. Meski terlalu dini untuk menikah, terlalu muda untuk menjadi orang tua, terlalu labil mengurus keluarga, namun mereka berhasil membina bahtera rumah tangga dengan utuh.

Memang tidaklah etis membandingkan antara zaman yang satu dengan yang lain. Zaman tidak bisa dipertentangkan, karena masing-masing berada dalam dimensi ruang dan waktu berlainan. Konteks dan tantangan pun berbeda. Namun menelusuri sejarah, penting untuk menyerap sari pati kehidupan yang baik untuk diterapkan di masa kini. Mengenang dialektika orang-orang terdahulu juga perlu, sebagai bahan referensi dan evaluasi menghadapi tantangan modern.

Semua kenangan itu adalah bagian dari puzzle besar bernama the glorious past. Anak-anak muda Sampuabalo telah sukses menempa diri menjadi pelaut ulung. Tetua mereka berhasil membangun karakter arif dalam menjaga interaksi dengan alam. Mereka berhasil memelihara dan membesarkan nilai-nilai tradisi yang diwariskan.

Promising Tomorrow

Waktu berhasil memainkan perannya, merubah segala-galanya tentang pemuda di sana. Generasi baru lahir, serupa golongan muda revolusioner Ottoman. Para Andesbal membawa diri sebagai agen ideologi, agen perubahan dan agen solusi. Mereka telah berkenalan dengan wawasan baru bahwa jalan sukses kehidupan tidak selalu ditempuh dengan jalan buang diri menjadi ABK (anak buah kapal).

Andesbal tumbuh menjadi mayoritas di kampung permai itu. Mereka hadir dengan mindset anyar, bahwa gagasan tentang kemakmuran dan kemajuan haruslah berpijak pada landasan persatuan para pemuda. Kini, di era the dark present, komitmen itu pernah diuji konflik horizontal dan pandemi menyempurnakannya.

Gerakan kepemudaan banyak terbentuk. Mereka aktif terjun dalam forum-forum diskusi. Menyebar keberbagai lini pemberdayaan. Meski aktif dalam gerakan yang heterogen, mereka tetap berada pada satu corong perjuangan yang sama, membangun imaji desa yang bermartabat, adil dan makmur. Cita-cita itu sakral serupa amanat konstitusi.

Terobosan terkini dari gerak padu Andesbal ialah membangun Sikola Pesisir. Inovasi sosial itu sebagai langkah nyata meng-counter tantangan klasik yang menyeruak. Realitas tentang rendahnya indeks literasi anak-anak Sampuabalo, menggugah kesadaran para pemuda untuk membentuk satu wadah pembinaan inklusif yang memadai.

Sikola Pesisir adalah remedial bagi peserta didik pada tingkat Sekolah Dasar yang masih kesulitan dalam materi membaca, menulis dan berhitung. Sikola Pesisir juga turun tangan membina mental dan karakter anak-anak agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Sikola Pesisir dibentuk dengan filosofi fundamental bahwa pendidikan adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib terpenuhi.

Meski baru merekrut 50 orang peserta dengan 2 orang tenaga pendidik, peserta didik belajar dengan bahagia. Mereka belajar bebas, tanpa ancaman dari capaian standar kaku sekolah formal. Sikola Pesisir hadir untuk menepis segregasi yang curam di bidang pendidikan.

Jalan panjang meninggikan harkat dan martabat kampung tercinta Sampuabalo semakin terjal dan kompleks manakala disrupsi menjelang. Anak-anak tumbuh di tengah keragaman fasilitas. Konektivitas semakin mudah lewat media sosial. Meski secara fisik perkembangan gadget menunjukan kemajuan, tapi hal itu memberi pengaruh terhadap kemunduran mental-kejiwaan anak-anak sebagai generasi penerus.

Untuk mencetak generasi ber-Imtaq, pemuda merasa perlu mengawal pertumbuhan mental spiritual anak-anak di sana dengan mendirikan Elfarooq Quranic School (EQS) Desa Sampuabalo. Lembaga ini juga diprakarsai oleh pemuda desa. EQS adalah sekolah informal yang didirikan untuk membumikan firman Allah subhanahu wata’ala, mulai dari anak pinggiran. Inisiatif ini tidak saja membuat siapapun yang berkontribusi dapat memanen pahala dengan mudah. Tetapi EQS memiliki agenda jangka panjang mencetak pemimpin berakhlak Qurani.

EQS mengemas metode pembelajaran Al-Quran dengan kreatif, mudah dan menyenangkan. Serupa metode yang dilakukan Jibril alaihi salam kepada Nabi besar Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat menerima wahyu pertama kali, yakni Talaqqi. Alasan utama memilih metode seperti ini untuk mendapatkan pengucapan makhorijul huruf yang benar. Dengan metode talaqqi, para santri memperhatikan dan menirukan bacaan Al-Quran (tanpa lihat mushaf) yang disampaikan oleh seorang ustaz/ustazah secara langsung.

EQS Desa Sampuabalo baru memiliki 15 santri. Setiap 5 orang santri menjadi tanggung jawab satu orang ustaz/ustazah. Selain itu EQS menjadi bagian pembentuk akhlak generasi di sana. EQS memiliki tanggung jawab menanamkan empati. EQS mengambil peran sebagai perekat komunitas moral yang retak di kalangan anak-anak dan masyarakat.

Yang menarik dari EQS ialah inovasinya dalam manajemen operasional.  Mereka tak mau berpangku tangan. Mereka enggan mengibarkan bendera putih atas keterbatasan dana. Seolah mendobrak segala kebuntuan, EQS tampil dengan gagasan brilian mengembangkan konsep social enterprise.

Konsep yang pertama kali berkembang di UK (United Kingdom) pada akhir 1970-an ini, telah mengilhami jajaran founder untuk menjaga EQS terus terpacu menelurkan para hafizul Quran tanpa kendala finansial. Dengan konsep ini, operasional akan dibiayai secara sukarela oleh sekelompok donatur dan hasil penggalangannya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat atau lingkungan.

Kini, EQS Desa Sampuabalo telah memiliki 60 orang donatur tetap yang sifatnya tidak terikat.  Dengan memanfaatkan jejaring sosial, EQS berhasil menggaet para filantropis yang tersebar dari ujung barat nusantara yakni Sumatra, hingga ujung timur, Maluku, bahkan mencapai benua orang-orang Aborigin, Australia.

Bagi sebuah desa sederhana di pesisir kadie Kumbewaha itu, gerakan membangun Sikola Pesisir ataupun Elfarooq Quranic School, seolah menerawang kembali kisah spektakuler peradaban bangsa ini ketika diperjuangkan oleh kaum muda 93 tahun silam. Yang tanpa mereka mungkin saja kata “Indonesia” akan tetap langgeng sebagai wacana.

Sebagai agent of change, Andesbal menunjukan komitmennya atas nawacita membangun keutuhan bangsa dari tepi-tepi desa. Mereka mengklaim diri sebagai pasukan elit di tengah masyarakat primordial dan para tetua yang tradisional. Anak-anak muda di sana menjelma sebagai agen pengontrol kebijakan sosial. Menjaga nilai-nilai moral dan menahbiskan diri sebagai aset bangsa.

Baik Sikola Pesisir atau EQS adalah dua langkah mungil sebelum jauh melakukan langkah yang lebih besar. Era keterbukaan informasi telah memudahkan para pemuda desa dalam identitas Andesbal membangun jejaring, menciptakan ruang-ruang perjumpaan yang memungkinkan terjadi barter pikiran dan silang gagasan.

Dalam ruang itu mereka selaraskan persepsi dan menyusun siasat, fokus merengkuh pendidikan sembari menebalkan iman. Dengan begitu akan melahirkan organisme yang sangat gigantis, yakni manusia-manusia berkarakter, inovatif, tangguh dengan bekal keimanan yang kokoh.

Pemuda Sampuabalo telah mengambil ancang-ancang. Mereka siap menyongsong masa depan yang cerah, the promising tomorrow.(*)

4 Komentar

  1. Ummu salsabila Balas

    Bagus pak tulisannya, semoga sukses dan berkembang EQSnya, serta mengispirasi. Tulisan tsb sangat detail bahkan saya bisa membayangkan kaadan di sana sekalipun sy lahir dan besar di surabaya (smp kls 2 baru ke bau2) tapi sebenarnya sy membaca lengkap sampai habis karena penasaran dgn kata “wakinamboro” sepupuku sering menyebutnya dulu bagi sy beliau cukup tua,sy segan bertanya saat itu. Saat dtg di surabaya Sllu bilang wakinamboro, apa arti wakinamboro? Sekalipun tdk ada wakinamboro, tapi setelah membaca sy puas dgn tulisannya, semoga sukses untuk ESQ. 👏

    • anggoro Balas

      Haha,,dlu wkt di kampung kami, anak2 sering ditakut2i kalo kelamaan mandi hujan atau bermain2 akan diculik wakinamboro,..penamaan blog ini atas dasar itu, tpi makin kesni saya baru tau, kalo wakinamboro itu adl salah satu nama daerah di Kabupaten Buton Tengah..hehe…..

      anyway terima kasih atas apersiasinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.