Gladiator Literasi di Arena Echo Chamber

Suatu hari, di sebuah lembaga pelatihan komputer, peserta ditanya oleh seorang instruktur, “Kawan-kawan, kalian telah belajar apa hari ini?”. Sontak berbarengan peserta menjawab, “kami sudah bisa bikin folder baru!”. Kejadiannya belum lama ini. Berada dalam satu kantung waktu ketika korona masih berstatus endemi. Kenyataan bahwa masih ada yang membincang “folder baru” pada peradaban mutakhir ini cukup ngilu.

Suatu waktu pula, di tahun 2008 silam, saat masih bekerja sebagai operator warnet, seorang pelanggan berjalan kearah saya, ke meja operator. Ia hendak meminta bantuan untuk mengcopy satu artikel ke flashdisk. Saya langsung memberi instruksi, “silahkan save filenya di my document, nanti saya copy langsung melalui server”. Dia segera ke tempatnya, selang beberapa saat datang kembali menyodorkan satu pertanyaan checkmate yang membuat dada saya sesak. “Bro, apa itu file?”.

Sebagian cuplikan peristiwa itu terjadi pada masa puncak indahnya berselancar dengan internet dalam kurun waktu tahun 2000-an awal. Dan mungkin dialami oleh mereka yang statusnya digital immigrant. Digital immigrant ialah generasi yang merasakan sistem analog dan sedang berada pada masa transisi ke arah digitalisasi. Kita bisa menerka dari dua cerita itu, jika enggan meng-upgrade diri, mendekam dalam recycle bin kehidupan yang kompetitif akan sulit dielak.

Masih banyak para digital immigrant terseok-seok dengan dinamika ekosistem digital saat ini. Namun, ujian bagi kaum digital native pun tak bisa dipandang sebelah mata. Banyak dari mereka terlena, terbuai dan terjebak kedalam ruang echo chamber yang memungkinkan hanya menyerap informasi dari satu arah.

Membumikan literasi digital pada publik memiliki tantangannya sendiri. Maraknya  kejahatan siber dan entengnya publik terhasut informasi hoax dan fake menjadi penanda rendahnya tingkat literasi digital.

Pemerintah memiliki cita-cita besar terhadap digitalisasi. Usaha konektivitas digital tengah gencar dilakukan pemerintah melalui Kementerian Kominfo yang telah membangun 1.209 Base Transceiver Station (BTS) dari total 9.113 BTS di tahun 2020. Pusat Data Republika mencatat, pada 2021 ada 4.200 BTS untuk 4.200 desa dan kelurahan yang berada di wilayah 3T (terluar, terdepan dan tertinggal), pada 2022 direncanakan akan ada 3.704 BTS untuk 3.704 desa dan kelurahan di wilayah 3T.

Perkembang era mampu diraba. Agar survive, strategi pengembangan infrastruktur fisik yang dilakukan pemerintah memaksa kita tidak bisa memilih alternatif lain selain terliterasi secara digital. Layanan publik pelan-pelan mengintegrasikan diri ke sistem digital. Literasi digital menjadi sesuatu yang absolut. Bukan lagi diperuntukkan kepada mereka yang berkecimpung dalam dunia digital, tetapi sudah menjadi kebutuhan peradaban. Sehingga sangat perlu melengkapi pengetahuan tentang literasi digital ketika berinteraksi di dunia sosial media yang meledak-ledak tanpa batas.

Namun, usaha pemerataan akses infrastruktur teknologi hanyalah tingkatan paling sudra dalam kasta literasi, utamanya literasi digital. Memiliki perangkat teknologi, smartphone dan mahir mengoperasikan sederet aplikasi tidak serta merta melegitimasi klaim bahwa kita telah terliterasi. Kelanjutan dari fase aksesibilitas terhadap sumber-sumber informasi  dan teknologi itu serta transfer of knowledge dari teori untuk mengoperasikan digital tools adalah inovasi. Inovasi menjadi kemampuan literasi paling puncak yang ada pada diri homo sapiens.

Inovasi muncul karena kemampuan dalam mengemukakan ide dan gagasan setelah melewati serangkaian aksesibilitas. Inovasi inilah yang kemudian memicu daya cipta seseorang. Mampu menghasilkan satu temuan (barang/jasa) yang bermutu untuk berkompetisi secara global.

Jika ujung menjadi terliterasi adalah inovasi dan daya cipta, maka sudah layak kurikulum pendidikan kita diarahkan kesana. Dukungan sistem dan tenaga pendidik dirancang untuk menjadi pemicu inovasi tersebut.

Sulit rasanya mengesampingkan bahwa literasi digital adalah satu set keterampilan kritis yang utuh, bagaimana menghimpun Informasi dengan mengenali literatur berbasis data dan fakta, kemudian mengolah, menganalisis dan menyebarkan informasi.

Di dalam tataran teknis, seseorang yang mampu menguasai bagaimana serangkaian kode, sistem dan bahasa pemrograman sebuah sistem digital maka setidaknya ia memahami bagaimana dan untuk apa sebuah teknologi itu diciptakan dan bagaimana data-data yang direkam dapat dieksploitasi dan dimanipulasi.

Arena Echo Chamber

Digitalisasi bukanlah mahadewa. Terliterasi secara digital mencegah kita menjadi budak dan bidak teknologi kemudian saling bertarung sebagai gladiator. Dunia maya yang tengah ramai-ramainya segala aktivitas bermigrasi, hampir 80 persen terisi oleh sampah informasi yang terdigitalkan.

Ekosistem demikian diperparah dengan adanya echo chamber (ruang gema). Saya menyebut echo chamber sebagai arena yang penuh jebakan.  Di dalam arena itu kita bertarung dengan diri kita sendiri, dengan nafsu dan hasrat kita sendiri akan sebuah informasi. Informasi dalam echo chamber sangat homogen sehingga menciptakan pola pikir subjektif, perilaku egosentris dan cenderung abai terhadap sains.

Echo chamber ialah ruang digital tempat mengakses segala bentuk informasi. Echo chamber bekerja sesuai algoritma yang dirancang untuk menyesuaikan perilaku dan ketertarikan user pada satu linimasa. Dan echo chamber memungkinkan seseorang dijauhkan dari informasi-informasi dari pandangan yang berbeda. Singkatnya, kita hanya akan menerima informasi sesuai apa yang kita mau. Sebagai contoh, platform digital instagram awalnya menyusun algoritma sesuai waktu upload sekarang mengubahnya sesuai dengan minat user. Artinya algoritma akan berubah tergantung bagaimana perilaku penggunanya.

Jika intensitas dalam mengakses informasi berpilin pada konten-konten nir faedah dan gosip “lambe-lambean” saja maka algoritma akan mengisi ruang gema kita dengan konten serupa. Setiap hari linimasa akan ditumpahkan informasi seperti demikian. Asupan informasi seperti itulah yang akan mengguyur alam bernalar seseorang, sekaligus sebagai indikator pembentuk karakter. Dalam hitungan sepersekian detik, informasi yang diserap dari ruang gema mampu menyulap seseorang bisa sekaliber “Rocky Gerung” atau sepandir “Abu Janda”. Seseorang bisa terlihat egaliter berargumen mengenai topik tertentu dalam satu koja-koja mantale di gode-gode lorong, padahal, baru saja mengisi amunisi kepalanya dengan memungut remah-remah informasi dari echo chamber.

Memahami echo chamber berproses menjadi perlu agar tidak terjebak kedalam satu pusaran informasi dan dimensi virtual yang monoton. Hal itu akan menghambat seseorang mengembangkan wawasan dengan perspektif beda dan baru serta menyulitkan seseorang menemukan data, fakta dan informasi pembanding untuk menetralisir subjektivitas.

Muslihat digital seperti itu tentu saja menyebabkan seseorang mudah menelan umpan hoax and fake. Menimbulkan adiksi. Memunculkan stigma dan terpolarisasi. Kecakapan literasilah yang kemudian menjadi hakim penentu untuk mengontrol perilaku agar tak terbawa arus informasi yang menyesatkan.

Bijak berinteraksi merupakan langkah solutif. Tidak ada cara lain agar keluar dari jebakan tersebut selain mengakses konten-konten bernilai positif. Lebih banyak mengklik, memberi komentar dan membagikan informasi-informasi yang bermuatan positif dan mencerahkan. Sehingga ruang gema selalu terisi oleh hal-hal konstruktif.

Kutukan Literasi

Pada tahun 2019, hasil survei Program for International Student Assessment (PISA) menempatkan Indonesia pada posisi 62 dari 70 negara terkait kedalaman pengetahuan seseorang terhadap suatu objek ilmu pengetahuan atau literasi.

Sebagai contoh sederhana, bukti rendahnya parameter indeks literasi dapat ditemukan dari aktivitas ekspor komoditas oleh pemerintah. Untuk beberapa komoditas pangan dan tambang kita harus melakukan ekspor, yang diolah di luar negeri lalu diimpor kembali menjadi barang siap pakai. Pengetahuan yang rendah untuk mengolah dan memberi nilai tambah pada bahan-bahan mentah itu menunjukan kurangnya literatur untuk berinovasi.

Dari sektor pendidikan, Universitas top Indonesia (UGM) hanya mampu bertengger pada posisi 254 secara global (QS World University Rangking). Rendahnya tingkat literasi berimbas pada daya saing dalam kancah internasional.

Kemampuan literasi adalah segala hal yang terserap kemudian dikembangkan. Rata-rata orang Indonesia hanya mampu membaca 500 kata dalam semenit, dengan daya serap berkisar 70 persen saja. Jika dibandingkan dengan negara lain yang lebih maju, Indonesia tertinggal 800-1000 kata permenit, dengan daya serap mencapai 90 persen.

Deretan fakta-fakta itu baru mengungkap kemampuan literasi secara umum. Belum spesifik pada kemampuan lliterasi digital anak bangsa yang dalam komunitas internasional disebut sebagai “Netizen Barbar”. Namun, cukup memberi gambaran kapabilitas manusia-manusia Indonesia.

Satu fakta yang tidak terbantahkan bahwa di planet yang disebut bumi ini tak ada satu negara pun dapat menyaingi bangsa Indonesia dalam menciptakan aksara. Terdapat aksara Jawa kuno, Bali, Sunda, Batak, Lampung, Bugis Makassar dan lain-lain. Ada sekira lebih dari 100 aksara di Indonesia. Pun belum ditambah dengan aksara Wolio. Pesan optimisme itu semoga saja jadi penyemangat para gladiator literasi untuk membumikan pengetahuan.

Keberaksaraan, pengetahuan dan kearifan lokal, sejak dulu telah membuat bangsa ini kaya akan gagasan, inovasi, lebih beradab dan unggul dibanding orang-orang Eropa dan Viking yang saat itu masih kanibal dan bermental penjajah. Kekayaan legasi tersebut jangan sampai berubah menjadi sebuah kutukan literasi.

Pada akhirnya, realitas habit medsos begitu tinggi. Info valid dan sampah berbaur dalam dunia digital. Akibatnya seseorang kehilangan daya pikir kritis. Literasi digital tak berhenti pada jago aplikasi, bukan sekadar cakap teknologi dan memahami lanskap digital atau mahir mengembarai mesin pencari. Ada aspek-aspek kritis seperti kesadaran data science, menyadari bahwa saat melakukan upload data ke jaringan internet, maka data-data tersebut dapat dengan mudah diakses oleh platform lain yang mungkin bisa disalah gunakan. Kemudian ialah kemampuan menganalisis data untuk mengambil langkah-langkah dalam membuat keputusan dan bersikap. Rangkaian keterampilan tersebut tentu bisa mengurangi kerentanan mengunyah dusta mentah-mentah di jagat maya. (*)

1 Komentar

  1. Pingback: Jalan Pendek Sebuah Artikel Panjang – WAKINAMBORO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.