Sampuabalo yang tak Kehilangan Soliditas

Sampuabalo. Di sana saya pertama kali mengenal laut, hingga kenyang menghidu aromanya. Pertama kali pula saya ketakutan karena sosok Jini Karompu (mahkluk astral yang bersemayam di semak belukar).

#sampuabalopikoumela


Saya masih sanggup mengenang bagaimana orang desa menelusuri karang dan lamun di malam hari. Kekal dalam ingatan saya tentang anak-anak Sampuabalo yang membenamkan dadanya ke bumi, lalu bersembunyi di balik keheningan hutan memasang jerat Malangkuta (ayam hutan) dan Tendewuta (burung).

Saya pun hafal, tentang jeritan anak-anak disana sehabis dipecut ibunya lantaran mengakrabi laut hingga melewati batas senja. Saya tahu, bagaimana nuansa horor ketika musim angin laut meniup Lagundiata hingga ke tubir pantai.

Jauh dari kedalaman sanubari, kami mengharap segala keping memoar itu mampu bertarung dengan dominasi free fire dan mobile legend.

Tentang persatuan?, dulu, sering ada atraksi kolosal. Jika ada yang hendak pindah rumah, orang akan pohamba-hamba. Ramai-ramai orang meneriakkan hitungan 1,2,3 sembari meletakkan penyangga rumah panggung di pundak masing-masing. Setelah itu mereka akan minum teh dan kopi, menyantap Wacusa, roti pawa atau sanggara banda bersama sambil bercerita perihal kebun-kebun jambu yang bunganya mati tersiram hujan dan tangkapan ikan hasil pikacubela dan pijare.

Jika ada yang mengadakan hajat, kaum mama-mama dengan bura di wajahnya serta bunga desa yang berselendang karike secara berduyun datang mengupas bawang. Kaum laki-laki akan menegakkan terpal, membuat gapura, menjaga tungku dan bergantian membelah kayu bakar.

Desa yang selalu menjadi bagian dari benak masa kecil saya itu pernah dilanda konflik demi konflik. Tak jarang, kemelut itu menagih persatuan warga sebagai tumbalnya. Mereka telah menebusnya dengan harga yang tak murah.

Kini, setelah diuji oleh kultur dan perang parang. Rasa kemanusiaan orang-orang di desa itu kembali di uji oleh limbah domestik. Sekali lagi mereka belum menyerah. Saya terkagum mengamati soliditas para bocah dan pergerakan anak muda pada Minggu pagi tadi. Mereka urunan turun tangan membersihkan sekujur desa dari gelimpangan sampah plastik. Pemuda Sampuabalo sudah bangkit pelan-pelan. Mereka tahu betapa pentingnya menjaga lingkungan.

Bagi sebuah desa sederhana di pesisir Siotapina itu, gerakan mereka, saya seperti menerawang kembali peradaban bangsa ini ketika diperjuangkan oleh kaum muda. Yang tanpa mereka mungkin saja kata “Indonesia” tetap lestari abadi sebagai wacana.

Para agent of change yang berkumpul dalam wadah Karang Taruna Kaindea telah menunjukan komitmennya atas nawacita membangun keutuhan bangsa dari tepi-tepi desa. Mereka membawa diri sebagai pasukan khusus di tengah masyarakat desa dan para tetua yang hidup di masa lalu.

Anak-anak muda di sana telah menjelma, sebagai agen pengontrol kebijakan sosial. Mereka menjaga nilai-nilai moral. Mereka menahbiskan diri sebagai aset bangsa di masa depan.

Meskipun hal-hal itu positif, saya harus jujur tentang satu dilema, bahwa terkadang, saya pun rindu tentang tuturan pengalaman anak bau kencur di sana seusai kelana melayari samudera. Saya selalu memungut pelajaran hidup, tentang berjibakunya mereka dengan gelombang. Daripada memutar kepala menamatkan sekolah, mereka lebih cenderung menyabung nyawa menaklukan keganasan laut.

Berbeda dengan ujian lain yang di luar kendali, yang jalan keluarnya kerap dilakukan lewat Barata. Sampah adalah isu mengenai kebudayaan. Itu sejalan dengan yang dikatakan oleh Idi Subandy Ibrahim, seorang peneliti budaya, bahwa dari seluruh kehidupan di muka bumi, hanya manusia mahkluk yang membentuk kebudayaan dan menghasilkan sampah seiring dengan terbentuknya kebudayaan itu.

Itu bisa benar. Selama ini pikiran kita tercurah pada mencari solusi bagaimana cara efektif membersihkan lingkungan, sungai dan laut dari sampah. Kita luput mempertanyakan mengapa kita harus mengotori lingkungan? Mengapa kita buang sampah sembarangan?.

Para pemikir budaya menganggap kapitalisme konsumen telah melenakan. Penetrasi ekonomi kian brutal. Sedikit demi sedikit menggerus kemanusiaan kita lalu sekejap menyulap manusia jadi homo consumericus. Hasrat konsumtif seolah tak terpuaskan. Kita menjadi gandrung dengan barang sekali pakai, lalu buang. Pelan-pelan tapi pasti, gaya kita yang tradisional berubah menjadi sesuatu yang ramai disebut sebagai modernitas.

Aksi nyata anak-anak muda di sana terbilang aksi kecil. Namun dampaknya sangatlah besar bagi masyarakat desa, bagi generasi-generasi Sampuabalo mendatang.

Ayo terus bergerak kawan-kawan KT Kaindea, melangkahlah menuju tak terbatas. Jika anak-anak muda dari tanah rencong sampai di timur negeri ayam jantan berkokok sana telah membangun bank-bank sampah hingga Mallsampah, kita jangan kalah, mumpung di dunia ini belum ada yang bikin neraka sampah.


Istilah neraka sampah adalah tempat dimana sampah dieksekusi atau didaur, tempat dimana pembuang sampah sembarang disiksa habis-habis sampai tidak bisa menangis. Tapi, istilah itu saya cuma karang-karang saja.

Sudah dulu. Terima kasih. Sukses selalu pemuda desa Sampuabalo, tempat ciriano rea’u.(*)

3 Komentar

  1. tyana waode Balas

    sebagai warga desa sampuabalo dan remaja desa sampuabalo
    saya merasa bangga walaupun sekarang saya sedang tidak berada di sana, tp dengan rasa solidaritas dari warga dan remaja desa sampuabalo yang sangat besar sehingga bisa menciptakan kebersamaan dan keakraban dengan para pendatang dari desa lain. dan bisa membuat kemajuan di dalam desa dengan sangat cepat.

    • anggoro Balas

      siap,..sejauh manapun kita pergi, tetap tanamkan di dalam hati, suatu saat harus kembali membangun tempat dimana kita berasal

  2. La Ode Haris Sumba Balas

    Sampuabalo itu ibuku, dia telah melahirkan banyak saudaraku, tersebar di seluruh penjuru Nusantara, ada yang setia tetap tinggal bersamaku menjaganya dan ada pula yang pergi jauh mencari hidup entah kemana. Dia bahagia manakala dia melihat anaknya rukun dan menorehkan prestasi. Namun tak jarang pula dia harus bersedih hati, karena melihat ulah anak-anaknya yang menentang sabda alam. Padahal betapa besar jasanya pada semua anak-anaknya.
    Hai saudaraku ! Jagalah hati ibu kita, jangan lagi membuat ia bersedih. Bagiku, salah/benar ia adalah ibuku, hidup dan mati bersamanya. Sebagai bukti bahwa aku sangat mencintainya
    Sampuabalo Aku Cinta
    Sampuabalo Cinta Aku
    Aku Sampuabalo Cinta
    Aku Cinta Sampuabalo
    Cinta Sampuabalo Aku
    Cinta Aku Sampuabalo
    Karena ia adalah ibuku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.