RESTORASI WANGGU YANG MENGHIDUPKAN

Bencana banjir pernah merendam daratan Kota Kendari. Tak tanggung-tanggung, 70 persen wilayahnya dikepung genangan. Semua anak sungai Wanggu meluap dan merendam hampir seluruh kecamatan. Pengelolaan air berkelanjutan melalui langkah konservasi seperti kolam retensi diharap mampu menghilangkan memoar duka itu disetiap benak warganya. Pengelolaan waduk yang memenuhi tiga dimensi; yakni ekologis, sosial dan ekonomi.

Sungai Wanggu mengalir melalui dua wilayah administratif. Kabupaten Konawe Selatan sebagai hulu sungai dan Kota Kendari di arah timur hingga bermuara ke teluk Kendari. Penelitian Erich Nov Putra berjudul “Flood Disaster Risk Mapping of Wanggu River Kota Kendari” yang tercatat dalam situs Electronic Theses & Dissertations Universitas Gajah Mada (UGM) menunjukan sungai Wanggu menguasai daerah aliran sungai hingga 4.537,73 km2.

Wanggu sebagai sungai utama bersamaan dengan anak-anak sungainya memecah Kota Kendari. Berkontribusi besar terhadap bencana banjir di kawasan. Frekuensi hujan tinggi di setiap tahun menyebabkan aliran sungainya kerap meluap. Gerusan akibat luapan tersebut merusak sejumlah tanggul-tanggul alami. Seiring dengan laju pertumbuhan dan aktivitas penduduk yang mendiami kawasan aliran sungai, kian memperparah kondisi DAS. Sehingga banjir selalu menjadi momok yang menghantui di setiap tahun.

Di Kota Kendari terdapat 44 titik yang statusnya rawan banjir. Luas keseluruhannya mencapai 4.140 hektar. Rinciannya, 145 hektar dalam kategori sangat rawan, 39 hektar berada dalam kategori rawan dan selebihnya area seluas 3.956 hektar masuk kategori sedang. Angka tersebut tersebar di enam kecamatan; Baruga, Wua-wua, Poasia, Kadia, Mandonga dan Abeli.

Kerja kolaboratif Pemkot Kendari bersama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari membangun waduk atau kolam retensi menjadi langkah solutif pengelolaan sumber daya air permukaan agar tak berubah menjadi bencana musiman.

Konsep dasar kolam retensi ini akan menjadi tempat menampung volume air ketika debit sungai Wanggu telah mencapai maksimum. Setelah kondisi normal, kemudian dialirkan kembali ke sungai.

Pemerintah Kota Kendari bertanggung jawab terhadap pembebasan lahan. KemenPUPR dalam hal ini BWS Sulawesi IV Kendari mengurusi pembangunan fisiknya. Sekira Rp 22,8 miliar anggaran digelontorkan melalui APBN untuk proyek ini. Sejak dimulai konstruksinya pada 17 Maret 2020 lalu, kini progres pembangunannya telah rampung.

Tipe pembangunan kolam retensi berada di samping badan sungai, dan terbagi menjadi dua bentuk. Kolam retensi hulu dan hilir. Kolam retensi hulu membentang di atas lahan seluas 3 hektar. Kapasitas tampungya mencapai 150 ribu m3. Khusus kawasan hulu, konsep pembangunannya berbasis green construction. Pembangunannya didasarkan pada prinsip ramah lingkungan dan tetap melestarikan aspek ekologis.

Pada sisi hilir, kolam retensi dibangun di atas lahan seluas 5.9 hektar dengan daya tampung hingga 177 ribu m3. Konsep pembangunannya terbilang artificial. Menggunakan konstruksi keras berupa batu dan beton bertulang. Letaknya yang strategis, bersebelahan dengan Kawasan Industri Meubel Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Kendari dan sentra UMKM dimanfaatkan sebagai ruang terbuka baru bagi publik. Selain fungsi utamanya sebagai pengendali banjir, Kolam retensi ditarget menjadi spot wisata. Menjadi ruang sosial untuk mengedukasi publik tentang urgensi pengelolaan sumber daya air yang baik.

Publik bisa memanfaatkannya untuk belajar konservasi sumber daya air atau sekadar berolahraga dengan fasilitas jogging track yang ada.

Wali Kota Kendari H. Sulkarnain Kadir saat mengisi program dialog di kanal Kendari Pos mengatakan, bahwa pembangunan kolam retensi ini telah menjadi rencana kerja Pemkot dan telah sejalan dengan arah kebijakan pembangunan infrastruktur Kota Kendari yang berbasis ekologi. Sulkarnain juga menegaskan kolam retensi akan dapat mereduksi luapan sungai Wanggu hingga 60 persen.

Sulkarnain menguraikan, sebelum pembangunan kolam retensi di kawasan Boulevard, Baruga, tahap awal penangan banjir ini adalah dengan menangani polusi air di sungai terlebih dulu. Cara yang dilakukan Pemkot Kendari cukup populer dengan melakukan penataan tanggul di bantaran sungai. Atas kesadaran kolektif, Sulkarnain menggerakan semua perangkat, masyarakat dan sejumlah komunitas untuk bahu membahu membersihkan aliran sungai. Normalisasi aliran sungai telah dikerjakan dibeberapa anak sungai seperti di Kali Mandonga, Kali Kadia dan anak sungai lainnnya. Guna mendukung kolam retensi, pemerintah kota juga melakukan tata kelola drainase dan sistem sanitasi penduduk.

Debit air berlebih sungai Wanggu tidak saja menyebabkan banjir, tetapi juga berkontribusi terhadap kompleksitas sedimentasi yang bermuara di teluk Kendari. Dengan dilengkapi fasilitas penyaring sampah dan kolam penangkap sedimen, kolam retensi turut menjawab tantangan itu dari hulu.

Berdasar keterangan Kepala Balai Wilayah Sungai Sulawesi IV Kendari, Haeruddin C. Maddi, kedua kolam retensi tersebut setelah dilakukan analisis hidrologi, mampu mereduksi potensi banjir dan luapan sebesar 2,46 persen untuk kala ulang 25 tahun. Debit maksimum sungai Wanggu dapat dipangkas sebesar 51,5 m3 perdetik. Dengan mengandalkan teknologi pompa khusus kecepatan daya sedot air akan mampu mengimbangi luapan sungai.

Infrastruktur penanganan banjir ini tinggal menunggu kesiapan jadwal KemenPUPR untuk diresmikan. Namun, anomali cuaca serta curah hujan yang tinggi beberapa bulan terakhir mengharuskan pihak BWS Sulawesi IV Kendari memilih memfungsikannya lebih cepat. Hasilnya cukup memberikan penanganan banjir yang lebih terkendali dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kini, memasuki bulan ketiga tahun 2021, meski terguyur hujan lebat, potensi luapan dan titik sangat rawan kian berkurang.

Seiring meningkatnya aktivitas pembukaan lahan oleh masyarakat, ketersediaan air turut mengalami penurunan sedangkan permintaan air terus meningkat. Kondisi mengkhawatirkan tersebut dapat teratasi dengan kolam retensi. Untuk menjamin pasokan air secara berkelanjutan yang dimanfaatkan untuk pembangunan. Kolam retensi menyuplai ketersediaan cadangan air baku saat wilayah kota Kendari mengalami musim kering berkepanjangan.

Upaya mitigasi bencana, termasuk banjir oleh air permukaan, adalah upaya berkesinambungan. Dua tahap awal pengelolaan sumber daya air dengan menormalisasi bantaran sungai dan pembuatan kolam retensi telah dilakukan Pemkot Kendari. selanjutnya, sedang mengupayakan pembangunan Cekdam di kawasan hutan Nanga-nanga.

Konservasi air melalui reservoir merupakan langkah bijak memberikan value pada sumber daya air yang dimanfaatkan untuk keberlangsungan hidup manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.