PEREMPUAN SOKOGURU BERNEGARA

Seharusnya perempuan itu merayakan hari jadinya pada momen ketika Hawa diciptakan dari sulbi Adam as. Tapi itu percakapan langit. Lagian, waktu itu kalender Gregorian belum ditemukan. Berhubung belum ada, akhirnya kaum mama-mama di barat sepakat mengikuti Clara Zetkin, sang pelopor. Menetapkan 8 Maret sebagai timer, pengingat perjuangan perempuan menuntut persamaan hak setelah serangkaian aksi demonstrasi di negara-negara Eropa.

Sebagai tes-tes, saya menanyakan satu pertanyaan ini ke diri sendiri, apa yang terlintas di benak mu mendengar kata ‘perempuan’?. Yup, Ronda Rousey. Itu yang tiba-tiba muncul di pikiran saya. Contoh emansipasi yang kebablasan. Saya juga heran, entah saya dirasuki apa, atlit UFC itu nongol begitu saja, automaticly without thinking.

Mumpung masih ada aroma-aroma women’s day, saya ingin berbaka-baka setiti setelah menyimak dialog Ibu Sri Lestari di kanal youtube ‘Kendari Pos Channel’. Saya tergoda dengan diskusinya bukan karena ini mau membahas cewe, tapi karena sebelum banyak berbicara mengenai kiprah perempuan di bumi ini, ia dahului dulu dengan satu kalimat bertenaga, “Arrijalu qowwamuna ‘alannisa”. An-nisa;34. Bahwa pria itu pemimpin para wanita, seperti itulah kira-kira kalau diartikan. Ia menyadari dalam perbincangan ini, ia akan banyak berbicara tentang keunggulan-keunggulan kaum Hawa. Maka kutipan ayat itu saya rasa tepat sekali untuk tidak melukai kewibawaan seorang manusia bernama lelaki.

Benar adanya, bahwa perempuan itu tugasnya di rumah dan merawat anak. Namun, rumahnya adalah seluruh negeri. Tidak terbatas pada sekat-sekat ruang dan batas-batas teritorial. Dunia sudah memasuki milenium ke tiga, tapi masih saja perempuan diperhadapkan dengan perlakuan diskriminatif. Sampai sekarang mereka terus berjuang melawan stereotipe gender agar hak dan keberadaannya tidak dipandang seperti cara Dajjal memandang. Sebelah mata.

International women’s day tahun 2021 mengampanyekan slogan choose to challenge. Bahwa perempuan itu harus berani menentang segala bentuk kemunkaran dan penindasan. Perihal wanita, di masa silam, sosok Cut Nyak Dien dan RA. Kartini telah memberi simpati kepada Sri Lestari. Pada tataran global, tokoh-tokoh sekaliber Bhenazir Bhutto, pemimpin Pakistan sekaligus perempuan pertama yang memimpin sebuah negara muslim pasca era kolonial. Tentang eksistensi makhluk berjenis perempuan, Sri Lestari juga merujuk pada sosok Macapagal Arroyo, former Presiden Filipina yang memperoleh kekuasaannya dengan cara paling manis. Kudeta. Tanpa pertumpahan darah. Junta militer perlu belajar teknik ini dari sosok Arroyo. Pun Moeldoko, patut mengambil kursus kilat dari perempuan ini, bagaimana cara mengkudeta AHY secara senyap.

Semua sosok perempuan kawakan itu menjadi penanda eksistensi dan kesetaraan gender. Menjadi penegasan bahwa perempuan berdaya. Setara dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai sokoguru dalam berbangsa dan bernegara, perempuan itu tiang penyangga yang menopang berdirinya sebuah bangsa. Kita tahu sepak terjang Cleopatra yang membuat Romawi dan Mesir kocar kacir. Begitu juga Putri Diana, hanya bermodal buku diary, hampir memporak porandakan kerajaan Ratu Elizabeth. Belum lagi yang terbaru, pernyataan-pernyataan Meghan Markel dengan wawancaranya bersama Oprah Winfrey sudah membuat pihak UK was-was.

Masih banyak laki-laki beranggapan bahwa perempuan itu lemah, manja, cengeng, tenang dan sebagainya. Padahal itu kamuflase saja, mereka bisa berubah menjadi monster, merubah semua atribusi tadi menjadi sayap-sayap penghancur yang membinasakan. Menyematkan kata ‘lemah’ pada mereka juga tidak benar. Sampai saat ini tidak ada laki-laki yang bisa menang dalam adu kuat gendong anak. Bahu siapa yang paling kuat?.

Kita kan familiar dengan istilah harta, tahta dan wanita. Tiga elemen penghancur paling ampuh jika tidak dikelola dengan baik. Spesial women’s day, pesona elemen yang terakhir mampu meruntuhkan segala tipe benteng pertahanan. Jadi hati-hati.

Kisah itu hanya segelintir saja dari sepak terjang kaum perempuan dalam meruntuhkan sebuah imperium. Tidak salah mengapa ulama dulu menjadikan perempuan sebagai tolak ukur baik buruknya sebuah bangsa. Perempuan adalah ibu bangsa. Dari rahim mereka generasi bangsa terus berlanjut. Sudah patut mendapatkan sebaik-baiknya perlindungan, sebaik-baik pendidikan dan sebaik-baik kesempatan.

Memaknai momentum ini, peranan sebagai penyokong dapat dimulai dalam lingkungan keluarga. Perempuan menjadi madrasah pertama bagi anaknya. Perempuan menjadi support system terhadap lelaki yang menjadi suaminya.

Perempuan sebagai ibu rumah tangga tidak lagi skeptis. Teknologi dan perkembangan zaman telah menawarkan segala macam kemudahan. Dunia memberi ruang legah kepada perempuan menjadi lebih kreatif. Sehingga dimanapun bisa membangun usaha dan jejaring tanpa harus meninggalkan rumah.

Perlakuan teristimewa sepantasnya diberikan kepada perempuan, mengingat separuh amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa pun terletak dipundak perempuan. Karena generasi yang cerdas dan hebat hanya lahir dari ibu yang cerdas dan hebat pula.

Tentang hebat-hebatan ini, saya teringat dialog utusan Raja Xerxes yang membawa pesan kepada Leonidas. Ia meminta raja Sparta itu tunduk pada Imperium Persia. Ia lalu merendahkan ratu Sparta yang menyela satu perbincangan. “What makes this woman she think she can speak among man?’. Sebagai suami, kalimat itu cukup menggores Leonidas. Sang ratu cukup cekatan. Belum sampai sang utusan itu selesai berbicara, ia lalu timpali dengan satu kalimat elegan “Because only Spartan woman gave birth real man”.

Tentu saja Leonidas bersama 300 pasukannya mati dihujam ribuan anak panah setelah itu. Tapi jika bukan karena sang ratu, mungkin puluhan ribu pasukan Yunani tidak tergerak hatinya untuk menghalau ambisi Persia.

Di era kekinian, para perempuan telah banyak membungkam nada-nada underestimate dengan menunjukan kualitas diri yang tak kalah dari kaum pria. Perempuan banyak menduduki jabatan-jabatan strategis di pemerintahan. Mereka telah menjawab tantangan bahwa perempuan dan pria berada dalam posisi yang adil dan equal. Tidak saja dari perspektif agama. Tapi juga dari sudut pandang dunia kerja.

Saking luar biasanya, Tuhan lebih memercayakan Surga di telapak kaki para perempuan. Jika tempat yang mulia saja setala dengan kakinya, lantas bagaimana dengan hati dan kepala. Mungkin saja surganya surga. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.