Mengenal Sosok Amin Idrus

Kitab Manusia dalam Lembaga Islam, ditulis oleh M Amin Idrus Akbar.

Lebih mudah meng-Islamkan China dan Rusia daripada Amerika dan Arab. Arab itu monarki absolut, sedangkan Amerika adalah kapitalis. Monarki dan kapitalisme, adalah saudara kandung. Hingga saat ini, hampir tidak ada riak dalam hubungan bilateral kedua negara itu.

China dan Rusia sama-sama komunis yang beraliran sosialis. Islam itu rahmatan lil-alamin. Kemaslahatan umat. Berjiwa sosial tinggi. Antara Islam dan komunisme sama-sama sosialis. Bedanya adalah tauhid. Kita hanya perlu membuktikan tuhan itu ada kepada mereka. Jadi akan lebih enteng mendakwahi para komunis itu untuk memeluk Islam. Tantangan ini akan jauh lebih berat bagi kapitalis dan monarki yang berlandaskan nafsu duniawi. Begitulah pemikiran seorang Amin Idrus Akbar.

Benarlah bahwa ketika seseorang berhenti menulis maka ia akan terlupakan dalam lipatan sejarah. “Manusia dalam Lembaga Islam” adalah buah pikiran Amin Idrus. Seorang yang pernah mengalami penahanan di era Orba. Pernah mengalami, yang dalam dunia neuroscience disebut sebagai NDE (Near Death Experience). Dan orang yang pernah mengalami penolakan secara sosial. Untunglah, walau sudah tidak bisa bersua lagi dengan beliau saat ini, saya masih bisa membaca semua nasehat-nasehatnya yang ia tuliskan dengan huruf courier ini. Sebuah catatan klasik dengan pola margin mesin tik.

Saya ingin bercerita tentang sosok beliau. Cerita-cerita tentang kehidupannya banyak saya dengar langsung dari penuturan Ayah saya. Sejauh ingatan, sosok Amin Idrus yang kami sebut sebagai Ode Amini sering berkunjung ke rumah. Kala itu saya masih usia sekolah dasar. Tiap sore ketika ke rumah, saya selalu menyambut dengan mencium tangan beliau. Kalau sedang sakit dan kebetulan beliau sedang berkunjung kami selalu didoakan.

Karya tulisnya yang berbentuk diktat ini sudah lama ditugaskan ke Ayah saya untuk diperbanyak. Untuk dikonversi ke dalam bentuk handbook. Lalu dibagikan kepada keluarga. Ayah meminta bantuan saya untuk me-redesign cover dan layout-nya. Dari sini lah saya mengorek lebih jauh sosok Ode Amini itu seperti apa, tentu dari sudut pandang Ayah saya yang banyak berinteraksi langsung dengan beliau.

Kitab Manusia dalam Lembaga Islam, ditulis oleh M Amin Idrus Akbar.
Kitab Manusia dalam Lembaga Islam, ditulis oleh M Amin Idrus Akbar.

Saat saya bilang, “Siapa beliau ini Ayah?”.
Ayah menjawab, “Ko nda ingat mi nak, masi kecil kamu dulu, sering datang kerumah, itu Kakek yang rambutnya putih”.
Ayah saya kaget juga, ketika saya bilang, “oh itu yang sering pake kaca mata hitam kecoklatan transparan kah, sering doa-doa saya kalo sakit, saya ingat ji”.
Dan kembali lagi, saya yang kaget bukan main, setelah tahu salah satu ujung tali rohnya pernah terlepas. Ia tenggelam, mengapung, tak sadarkan diri, di lautan, di Bangka sana, selama tujuh hari. Mati suri.

Jasadnya terombang ambing buih. Setelah tujuh hari barulah terdampar. Orang-orang yang menemukannya merasa heran. Jasad yang berhari-hari ini tidak nampak membusuk. Mereka menyentuh kulitnya, terasa hangat. Tak lama ia sadar kembali, setelah dibawa ke pusat kesehatan. Namun setelah persitiwa itu, ia seperti ditolak komunitas sosial. Orang-orang banyak menganggapnya ngawur. Sudut pandangnya mengenai dunia dan kehidupan terasa janggal bagi orang di sekelilingnya.

Hal ini ada benarnya, mengingat di dalam karya usangnya ini, dalam lembar pengantar ia tuliskan seperti ini “buku ini tidak akan dimengerti atau betah dibaca oleh orang-orang yang di dalam rohnya bersemayam setan dan iblis laknatullah“. Jika begitu, Menurut saya ini adalah level peradaban literasi yang melangit.

Ayah menuturkan satu pengalaman spiritual beliau yang membuat saya tersadar dari kantuk yang maha berat. Dalam masa tujuh hari terombang ambing di lautan, beliau dipanggil bersidang di kerajaan laut. Ia menyaksikan begitu mewahnya kerajaan itu dengan kilauan emas-emas. Ia diselidik atas kasus pencemaran lingkungan laut. Sidangnya terjadi di sekitaran tanjung Pomali atau kita lebih kenal dengan perairan Lakadao. Barusan saja terjadi musibah disana, kapal rombongan bupati Busel diterjang badai, lalu menewaskan dua orang. Tentang perairan Lakadao ini, sewaktu Ayah masih anak-anak juga pernah dihempas gelombangnya, tiang layar koli-kolinya patah, episode yang ini saya akan ceritakan terpisah.

Pada akhirnya, sidang tidak bisa membuktikan bahwa beliau melakukan pencemaran. Lalu di kembalikan. Percaya atau tidak, tapi itulah pengalaman spiritual. Kami, anak-anak di Buton banyak mendengarkan pengalaman-pengalaman leluhur seperti itu.

Saya heran, kenapa bisa orang Sampolawa nyasar sampai di Bangka sana. Ternyata nasib membawa bapak Amin Idrus kesana, ke wilayah Sumatra untuk belajar Islam di salah satu pondok pesantren milik Buya Hamka.

Seiring waktu ia pun kembali ke tanah Buton. Lalu ikut masuk dalam gerakan politik. Ayah mengisahkan, sebelum dipilih menjadi pemimpin organisasi di wilayah Baubau, Amin Idrus mengikuti seleksi Capim di Ujung Pandang. Ada sekitar ratusan orang dikurung dalam satu hall yang gelap. Di dalamnya sudah ada perempuan-perempuan China yang siap menguji iman. Banyak yang tergoda. Di antara ratusan orang tersebut, hanya sebagian kecil saja yang bisa melalui ujian itu. Amin Idrus salah satunya.

Kemelut politik dalam negeri yang tak kondusif kala itu menyeretnya dalam penahanan. Tentara menyiksanya di sana. Ia didudukkan pada sebuah kursi dalam keadaan terikat. Lalu ujung kaki meja ditindihkan pada punggung kakiknya sedang empat orang tentara duduk santai di atas meja. Saya tiba-tiba ber’adedeh‘ sendiri. Lalu apalagi?, saya terus mengejar Ayah dengan jenis-jenis torture yang dialami Amin Idrus. Badan dan kepalanya dihantamkan kayu buli. Kayunya sampai patah-patah. Terus apalagi?. Elektrifikasi. Badannya dialiri oleh elemen yang diinventori oleh Michael Faraday. Atau kita lebih kenal dengan sebutan disetrum.

“Ode, bagaimana rasanya itu?, Kita tidak mati kah itu?,” Ayah menanyakan itu langsung ke beliau.
“Tentu kalo kita rasa pasti mati”, dengan nada santai ia menjawab. Ini menandakan bahwa beliau memang tidak merasakan itu sedikit pun.

Memang orang-orang dulu punya ilmu kanuragan yang jago. Secara lahiria kita bisa mengindera semua siksaan fisik yang mereka alami. Namun secara batin mereka tidak merasakan itu. Katanya mereka punya benteng diri. Pantaslah para tentara itu sampai bosan sendiri, segala jenis siksaaan tidak pernah mempan.

Tapi ada yang lebih jago. Temannya dari Muna. Ilmunya lebih sakti. Para tentara tidak ada yang berani kore. Kalau dipukul yang rasakan sakit malah anak, istri atau kerabat orang yang memukul.

Kewalahanlah para tentara itu. Akhirnya mereka tangkapi semua orang gila di Baubau satu persatu. Baru mereka kurung satu sel dengan Amin Idrus dan kawannya. Niatnya supaya Amin Idrus ikutan gila. Malah yang terjadi sebaliknya. Satu minggu kemudian, satu persatu orang-orang sinting tadi normal kembali.

Semakin kewalahan, mereka akhirnya dikumpulkan di kawasan Nanga-nanga di Kendari. Mengalami masa pengasingan di sana. Setelah dibebaskan sebagai Tapol, pemerintah memberikan lahan-lahan yang luas untuk diolah. Memberdayakan dengan berkebun. Saking bahagianya memperoleh kebebasan, beberapa di antara mereka tidak peduli dengan pemberian itu. Ada yang memilih menetap. Ada yang memilih kembali ke tempat asal dan kembali berpetualang.

Dan masih banyak lagi cerita spiritualnya yang bikin logika saya korslet. Terutama saat menerima kunjungan bapak Abdul Rauf Tarimana, Rektor Unhalu. Tapi cerita ini biar saya japri saja kalau mau tahu. Supaya kita tidak korsleting sama-sama disini.

Pengalaman spiritual ketika jasadnya terombang ambing gelombang laut dan getirnya pengalaman pahit saat berpolitik adalah momentum pencucian diri baginya. Tempat merefleksikan kembali tujuan hidupnya sebagai manusia.

Dalam karya tulisnya ini, Amin Idrus menegaskan pandangan yang utuh dalam beragama.

Redesign buku Manusia Dalam Lembaga Islam yang ditulis oleh M. Amin Idrus Akbar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.