Mencintai Lingkungan Layaknya Kumbakarna & Bisma

Sebenarnya saya mengharapkan kritik. Setelah menyodorkan satu tulisan bertema lingkungan kepada senior, alih-alih kritik, saya malah mendapat tekanan winto bertubi-tubi. Winto yang kemudian menjadi ingkaran dari hukum gravitasi Isaac Newton. Membuat saya melayang dan bumi kehilangan daya tariknya.

Drop out mempelajari ‘Ilmu Tega’ jenjang doktoral di Universitas Kehidupan, senior saya itu beralih, menekuni disiplin kepakaran baru. Wintologi. Ilmu yang mempelajari tentang winto. Write inspiring thought (winto) jika meminjam istilah satu kolom tulisan Pak Diada Nebansi di Harian Kendari Pos.

Senior saya itu memulai winto berkelas dengan mengangkat satu epos Mahabarata, “Dinda e, tajamnya busur panahnya Arjuna, lebih tajam lagi tulisanmu ini”. Model winto bergenre kontemporer seperti ini banyak berseliweran di kelas-kelas warung kopi dan ruang koja-koja mantale.

Lewat tulisan ini, saya ingin mengaitkan epos itu kedalam satu isu penting; enviroment dan deforestasi.

Selain generasi Z, orang-orang pasti familiar dengan dua tokoh yang saya sebutkan pada judul tulisan ini. Kumbakarna dalam kisah Ramayana dan Bisma dalam kisah Mahabarata. Dulu, sebelum Indosiar diinvasi drama-drama “kumenangis membayangkan…”, dua serial klasik itu banyak menghiasi layar TV. Tiap malam telinga kita berdenyar mendengar bunyi lenting pedang dan adegan baku hantam. Seru sekali, bukan sedih sekali.

Tidak seperti drama kekinian yang selalu tampil dengan epilog yang terus berkutat pada perselingkuhan dan warisan disegala macam episodenya. Cerita kolosal Ramayana, Mahabarata, Karmapala, Tutur Tinular, Angling Dharma, Brama Kumbara, Misteri Gunung Merapi, Wiro Sableng la, semacam itu selalu ada pesan-pesan moral yang terselip. Menuntut kita agar lebih jeli melihatnya. Saya suka menonton itu semua bukan karena baku pukulnya tapi komitmennya atas negeri yang gemah ripah loh jinawi. Inilah yang bikin Cornelis de Houtman berbondong-bondong datang. Mereka iri dengan kemajuan peradaban nusantara.

Di semua serial itu, saya lebih menikmati cara mereka bertutur. Misalnya ketika di hutan, Rahwana bertemu Hanoman yang sedang melakukan tapa brata.
“Mana mungkin kau bisa mencapai kesempurnaan dengan melakukan tapa brata. Kau hanyalah bangsa kera yang diciptakan sebagai contoh kenistaan. Tidak mungkin naik derajat”, sesumbar Rahwana.
“Siapa kamu?, mulutmu lebih lebar dari rentangan tangan Dewata”, Hanoman membalas.
Rahwana tidak berkutik di stek monyet. Lidahnya kelu. Terpaksa main tangan.

Dalam Ramayana, mungkin kita membenci Kumbakarna hanya karena dia berdiri pada sisi Rahwana, simbolnya angkara dan murka. Begitupun juga dengan Bisma dalam Mahabarata yang mungkin banyak dianggap berada dalam barisan para Kurawa. Tapi menurut saya, mereka ini adalah para pejuang lingkungan yang gagah berani. Sosok yang bijak menjalani hidup. Menghargai alam semesta. Sama seperti sosok penjahat kakap Thanos di imajinasi Jim Starlin dalam Marvel comics.

Kawasan hutan Nanga-nanga di Kendari.

Di dalam Ramayana ada dua tokoh sentral, Rahwana sebagai penjahat dan Rama sebagai pembaik. Pertempuran dua karakter ini terjadi karena Rahwana, sang Maharaja Alengka Diraja terlalu bagatal-gatal, mati gila dan mo rancang istri orang. Ia menculik Shinta, permaisuri Rama.

Mengamuklah Rama. Ia kumpulkan ribuan Andoke. Ia tunjuk Hanoman sebagai komandannya. Siapa yang ragu dengan kejagoanan Hanoman!. Dia ini seperti Sun Go Kong. Jangankan hanya Alengka di mayapada, kerajaan di langit saja dia sapurata.

Lantaran jagonya, banyak pasukan Rahwana dibuat mati olehnya. Termasuk panglima perang Alengka, Prahasta. Geleng-geleng kepala Rahwana. Pusing. Taputar otak cari akal kalahkan Hanoman. Meski sudah diimbau para penasehatnya untuk kembalikan itu istrinya orang, Rahwana bergeming. Kekuatanya sama besar dengan nafsunya.

Sudah buntu, akhirnya Rahwana meminta bantuan adiknya. Kumbakarna. Laki-laki kagaco. Ia salah satu putra daerah yang sakti mandraguna. Tapi ia menolak perintah raja. Dari pada baku hambur, cari mati, Kumbakarna lebih memilih tidur di hutan. Sejuk. Adem ayem.
“Hei,,Kumbakarna. Kau adalah adikku yang paling sakti. Kenapa kau diam saja melihat kekacauan ini”, kata Pebinor itu.
“Ahh penjahat kau kanda. Masih mending Moeldoko, partai ji dibegal. Kau ya, pengantinnya orang ko begal”, mungkin La Kumba begitu cara tolaknya.

Karena tidak ada panglima yang memimpin, para Andoke tadi semakin ganas dan menggila. Kerajaan Alengka diberangus. Infrastruktur bendungan, cekdam, kolam retensi, pasar, PKL, Warkop pokonya rata dengan tanah. Sadis sekali ini para monyet. Monyet yang membabi buta. Semua taman-taman dan hutan dibakar.

Setelah bangun tidur, Kumbakarna menyaksikan api sedang berkobar melalap hutan. Inilah yang menjadi pemicu kenapa Kumbakarna turun tangan seperti SBY. Ia fine-fine saja menyaksikan mayat prajurit bergelimpangan. Tapi setelah hutan terkena imbas, ia bangkit melawan. Kumbakarna adalah sosok yang cinta tanah air. Sangat peduli terhadap lingkungan. Mapala; Manusia Pecinta alam. Mungkin pada masanya, para petani itu biar bakar rumput saja segan.

Ia memutuskan berada di barisan Rahwana. Rahwana kegirangan seperti tante-tante. Mau menang mi. Bantuan sudah datang. Kumbakarna menghadap kakaknya lalu bilang agar tidak senang dulu.

“Kanda Prabu, kepergianku ke medan laga ini, bukan sebuah dukungan terhadap angkara murka yang kau tabur. Melainkan karena kecintaanku pada negeri Alengka yang sedang dijarah oleh musuh. Sebagai putra Alengka, saya wajib melindungi kelestarian lingkungan negeriku. Saya tidak rela bumi Alengka hancur oleh siapapun dan untuk alasan apapun”.

Setelah mengatakan itu, Kumbakarna otewe menjemput ajal. Bala tentara Rama dan Hanoman masih terlalu tangguh. Pica-pica dan binasa Kumbakarna. Ia lalu keguguran di palagan. Jiwanya yang keguguran. Jasadnya langsung diangkut Bidadari. Dibawa ke langit. Otewe surga keabadian.

See, betapa besarnya rasa memiliki Kumbakarna terhadap lingkungan dan hutan. Ia sampai rela menyabung nyawa demi menjaga kelestariannya. Kalau saja Kumbakarna ada di rezim sekarang ini, saya tidak tahu ada berapa gumbang darah CEO korporasi di liter olehnya.

Kumbakarna adalah salah satu teladan nasionalisme terhadap lingkungan yang patut dicontoh. Jika Artidjo adalah monumen kejujuran, maka Kumbakarna adalah monumen keluhuran budi dan pelestarian alam.

Sedangkan alkisah pada wiracarita Mahabarata pun demikian, ada sosok Bisma dalam the Battle of Bharatayuda. Ia anak Prabu Sentanu dari kerajaan Hastina. Setelah ibu Bisma wafat, Prabu Sentanu kepincut kecantikan Durgandini. Ia Lamar. Tapi Durgandini pasang panae tidak sembarang. Ia bersedia dipersunting, asal anak dari pernikahan mereka yang harus menjadi penerus kerajaan Hastina Pura. Kasihan Bisma, ia mengalah saja posisinya digeser dari Putra Mahkota. Itu semua dia lakukan karena patuhnya ia pada ayahnya sendiri. Ia bersumpah, seumur hidup tidak akan menyentuh jabatan itu. Ia lalu memilih memanjangkan jenggot ke dalam hutan. Bertapa.

Tapi sayang, dua generasi dari Prabu Sentani dan Durgandini berturut-turut mati dalam usia muda. Durgandini kemudian meminta Bisma kembali, untuk memimpin kerajaan. Sumpah Bisma sekuat baja. Ia urung menarik kembali sumpahnya. Terpaksa Durgandini meminta Abiyasa yang menjadi raja. Abiyasa adalah anak Durgandini dari suaminya yang dulu. Gen Abiyasa inilah yang kemudian melahirkan Pandawa dan Kurawa. Setelah Abiyasa, suksesi kerajaan jatuh di tangan para Kurawa.

Rezim Kurawa dipimpin Duryudana. Ia memerintah dengan licik, serakah. Semua sumber daya dia kuasai. Jatahnya para Pandawa pun dirampas. Pandawa pun melawan. Maka terjadilah perang Bharatayuda.

Pandawa dan Kurawa janjian bertempur. Supaya wilayah kerajaan tidak porak poranda, mereka sepakat baku hambur disatu dataran keramat bernama Kurusetra. Jauh di wilayah perbatasan kerajaan Hastina.

Ksatria Pandawa ternyata jago sekali. Mereka mengamuk. Tadinya octagon pertempuran terletak di padang rumput yang jauh, saking serunya, tidak sadar sudah masuk teritori kerajaan. Anak buah Pandawa; Seta, Utara dan Wratsangka semakin mengganas. Semua dilibas. Semua merek dihantam, terutama produk asing. Yang paling gila itu Seta. Tambah huruf “n” di belakang, jadimi setan.

Amukan Seta menimbulkan kerusakan lingkungan di negeri Hastina. Tadinya Bisma tidak mau ikut turut campur masalah Kurawa dan Pandawa. Melihat Seta yang murka tanpa tebang pilih (selective logging), membuat kerusakan yang tidak perlu, memancing Bisma untuk angkat senjata. Bisma turun gelanggang. Dengan kesaktiannya, Seta, Utara dan Wratsangka pun meregang nyawa. Tiga jagoan neon itu belum sepadan dengan Bisma, yang baru keluar dari pertapaannya selama bertahun-tahun.

Pandawa marah. Arjuna dan Krisna menantang Bisma. Pertempuran sengit terjadi. Hingga menjelang sore, Bisma belum mati. Arjuna dan Krisna kelelahan. Sudah kasih keluar semua jurus tidak mati mati itu Kakek.

Pada malam hari pertempuran berhenti. Istirahat. Arjuna dan Krisna memanfaatkan momen itu mengunjungi kemah Bisma. Mereka mau tanya, kenapa Bisma bisa sejago itu. Di kemah, para Pandawa bertanya “Eyang kelemahanmu apa?, kenapa kami tidak bisa mengalahkanmu?, tolong beri tahu kami”. Anehnya, Bisma pun memberi tahu sederet kelemahannya. Ada banyak. Satu di antaranya adalah Bisma tidak akan bertarung atau mengangkat senjata jika musuhnya adalah perempuan. Saya heran, perang macam apa ini?. Main bongkar-bongkar rahasia. Lain-lainnya ku rasa. Untuk apa berperang kalau nyatanya bisa ngobrol santai seperti itu.

Besoknya, mereka baku hambur lagi. Bisma pun mati dalam pertempuran itu. Setiap jengkal tubuhnya ditembus anak panah dari para Srikandi Pandawa. Sebenarnya gampang saja bagi Bisma untuk menghindar, tapi karena itu perempuan yang melontarkan panah maka ia pasrah saja. Ia sudah tahu ajalnya akan seperti ini.

Fisik Bisma sudah renta, tubuhnya kala itu berlumuran darah. Di momen-momen sakaratul maut ia dikelilingi dua pihak, Kurawa dan Pandawa yang merupakan cucu- cucunya. Bisma berkata “Saya telah mencapai jalan kematian yang paling sempurna. Mati demi memperjuangkan kelestarian alam dan negeri yang saya cintai”.

Baik Kumbakarna maupun Bisma tidak pernah ada tawar menawar jika menyangkut kelestarian alam raya. “Padamu negeri jiwa raga kami”, mereka persembahakan seluruh jiwa dan raga bagi lingkungannya, meski berada pada posisi yang tidak harus dibela. Mindset Kumbakarna dan Bisma berada pada sumber daya alam sebagai penunjang ketahanan nasional.

Karakter stakeholder saat ini cukup kontras dengan apa yang Kumbakarna dan Bisma perjuangkan. Mentang-mentang memiliki kuasa, punya kekuatan politik dan finansial, seenaknya saja, mengamuk seperti Hanoman dan Seta.

Tidak perlu saya menuliskan disini data data laju deforestasi yang angkanya bikin cengang itu. Kita nonton TV saja, tidak pernah sepi memberitakaan bencana ekologi diberbagai daerah. Ini pemberitaan rutin. Tiap tahun ada. Semacam negara kita ini langganan tetap dari satu produk alam bernama bencana. Itu adalah bukti bahwa alam lingkungan kita tidak sedang baik-baik saja. Tingginya frekuensi bencana ekologis ditiap tahun membuka aib bahwa kita telah gagal mengelola sumber daya alam.

Ternyata, entropi itu benar. Kita sedang berjalan melata menuju kehancuran. Melihat data Tinjauan Lingkungan Hidup (TLH) 2021 Walhi, saya jadi sedikit paham mengapa seakan ada pembiaran atas fakta kerusakan lingkungan kita yang demikian masif. Oligarki antara bisnis dan politik semakin cetar.

Dibanding rakyat jelata atau masyarakat lokal yang arif, orang terhormat dan berpendidikan ternyata lebih banyak menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan kita. Pada TLH 2021, berdasar penelusuran Auriga Nusantara dan majalah Tempo, 45,5 persen anggota DPR RI atau sebanyak 262 orang, adalah pelaku bisnis yang punya kaitan dengan 1.016 perusahaan. Otomatis produk legislasinya kita bisa gantang sendiri kemana keberpihakannya.

Kita harus meneladani para teroris itu. Jangan hanya mereka yang radikal. Kita juga harus merubah cara berinteraksi dengan lingkungan. Tidak usah jadi Kumbakarna atau Bisma. Cukup profesional saja dengan tugas dan tanggung jawab kita sendiri-sendiri. Polisi hutan amankan itu para penjarah. Jaksa, hakim, penegak hukum tuntut bae-bae itu para cukong perusak lingkungan. Gubernur, fasilitasi itu hutan lindung. Bupati atau Papati, tolak itu IUP yang banyak mudharatnya. Kalau Anda seorang Mama-mama, didik saja anak Anda agar tidak nyampah sembarangan. Presiden, ehh janganmi deh, panjang urusan nanti.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.