Kekuatan Pikiran, Coronasomnia Hingga Mati Suri

Saat John Sparta diajak melakukan hubungan badan ia hanya malu-malu kucing. Tapi dari sorot matanya, saya tahu dalam hatinya riang sekali minta ampun. Sambil duduk di sofa, datanglah wanita itu dengan memegang dua buah alat elektronik, semacam pelindung kepala. Ini bukan toys sex. Mereka gunakan masing-masing di kepala. Lalu duduk berantara. Sekitar 3 meter berhadap-hadapan. Kemudian, perempuan itu mengisyaratkan menutup mata.

Lalu, apakah sesuatu yang diinginkan itu terjadi atau tidak?. Ayo simak, saya temani Anda menunggu waktu berbuka dengan catatan ngawur ini.

John Sparta mengikut saja. Tapi makin lama terasa aneh. Tidak terjadi apa-apa. Digoda dan disentuh pun tidak. Tapi sepintas ia sempat terangsang juga. Ia kecewa. Pasti.

John tidak bisa menerka. Ternyata yang ditawarkan perempuan itu adalah vir-sex (virtual sex). Hanya berupa rangsangan saraf melalui satu alat elektronik yang telah didesain khusus untuk memikirkan pasangannya. Di zaman ini mungkin kita mengenalnya dengan terminologi “ngeres”. Sex dalam imajinasi kemudian menghasilkan gelombang alfa selama pemindahan energi seksual. Sensasi seperti inilah yang kemudian dilegalkan oleh pemerintah.

John Sparta adalah hasil kriopreservasi embrio, yakni proses penghentian sementara kegiatan hidup dari sel tanpa mematikan fungsi sel. Dari situ ia bisa melanjutkan kembali hidupnya setelah proses pembekuan sel-selnya dihentikan. Mungkin ini juga yang di alami oleh Steve Roger dalam The First Avenger, terkriopreservasi secara natural di bongkahan es kutub. Dengan skenario yang mirip, John Sparta dibekukan pada tahun 1996 lalu dibangunkan kembali bertahun-tahun kemudian di masa depan. Kriopreservasi atau pembekuan menjadi ganti sistem hukuman kurungan (penjara) yang kurang memberi efek jera bagi para kriminal. Dengan cara dibekukan maka orang seperti terlahir kembali, meninggalkan pikiran jahatnya.

Di tengah kemutakhiran peradaban, John Sparta, mengenai seksualitas, tetap ngotot ingin indehoi dengan cara klasik. Yang dalam komunitas sosial era itu, sexual intercross (persetubuhan) atau transfer of liquid sangat dianggap primitif, sesuatu yang sangat ketinggalan dan menjijikkan. Publik mayoritas beranggapan, hubungan badan (sex) berkorelasi dengan kekerasan (violence) yang menjadi penyebab utama hancurnya tatanan sosial bermasyarakat. Doktrin tersebut terbentuk dalam pikiran publik. Hubungan biologis hanya boleh berlangsung di dalam pikiran.

Satu hal yang menarik, alasan mereka melarang hubungan biologis adalah karena bisa menyebabkan kecanduan merokok. Saya belum dapat penjelasan utuh mengenai ini. Nanti saja kalau banyak waktu kita utak atik jurnal, tesis dan disertasi mengenai tema ini di google.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana cara menjaga atau mempertahankan populasi pada masa itu?. Jawabannya adalah prokreasi. Mereka mengandalkan laboratorium. Cairan dimurnikan, diperiksa, dipindahkan dan diolah oleh petugas medis yang bersertifikat. Kebijakan ini diambil sebagai pelajaran akibat timbulnya HIV/AIDS dan penyakit kelamin lainnya.

Tentu saja ini plot semi utopia dalam setting waktu 2032, tahun dimana KPR saya baru bisa lunas. Semua adegan itu, di kisahkan dalam sinema Demolition Man. Dibintangi Sylvester Stallone, Wesley Snipes dan Sandra Bullock.

Kata kunci dalam scene tersebut yang mengusik bagi saya bukan pada adegan dewasanya, tapi pada pikiran. Bagaimana kinerja pikiran itu di dalam kepala kita. Bisa sekuat apa pikiran itu mempengaruhi hidup orang. Sampai-sampai orang di tahun 2032 hanya boleh sex dalam pikiran. Atau kenapa, pengalaman buruk masa lalu bisa melekat di alam pikir, hingga membuat orang menjadi phobia akut. Meskipun ini hanyalah gagasan fiktif dalam karya sinematografi Hollywood, justru pikiran-pikiran fiktif ini dibuat dengan sangat logic. Dan justru sebaliknya, penulisan karya-karya ilmiah kebanyakan memulai dengan beberapa hipotesa, yang nadanya masih fiktif.

Ternyata gelombang alfa hasil dari vir-sex dapat menghasilkan performa yang baik dan memunculkan ide-ide cemerlang. Gelombang ini muncul dalam kondisi tenang dan melamun. Semua rasa cemas hilang. Gelombang alfa yang tinggi pun meningkatkan performa profesional, menjaga konsentrasi dan emosi serta menyerap informasi lebih baik saat belajar. Jadi pikiran orang-orang di tahun 2032 diberdayakan bukan untuk menuntaskan birahi kesumat semata.

Berangkat dari pikiran, mereka hendak memaksimalkan gelombang alfa. Menumbuhkan manusia-manusia dengan ide kreatif dan cemerlang. Tentu saja untuk membentuk new world order.

Dalam serial lain ada Charles Xavier, nama penanya Prof.X. Mutan terbijak dan paling jago dalam semesta Marvel hasil imajinasi Stan Lee. Bukan cuma telepati, dia juga kuat dalam telekinesis, dengan kekuatan pikirannya, ia bisa masuk kepikiran orang dan menghapusnya atau kalau mau iseng dia bisa rubah persepsi orang. Lebih jago dari itu ada Legion. Anaknya sendiri yang memiliki kekuatan beda tipis, menghisap pikiran orang.

Masih tentang kekuatan pikiran, di dunia nyata kita mengenal sosok Houdini, pesulap dari Hongaria berjuluk the Handcuff King (Raja borgol). Masternya meloloskan diri dari ikatan. Diikat seberapa rumit pun sebuah simpul ia tetap bisa lolos dengan enteng. Karirnya moncer dalam bidang ini. Namun sayang, hanya oleh “pikiran” reputasi mentereng yang telah ia bangun runtuh seketika.

Kala itu ia menantang sipir di penjara. Bahwa ia bisa meloloskan diri tidak lebih dari 30 menit setelah dijebloskan ke dalam sel. Houdini berbeda dengan Ray Breslin dalam Escape Plan yang mengandalkan riset. Houdini bermodal naluri dan talenta. Ramailah orang di luar ingin menyaksikan aksi Houdini. Sipir lalu mengantar Houdini ke dalam sel, pintu sel ditutup, gembok dipasang. Sipir menunggu di luar. Houdini lalu mengeluarkan jarum dari ikat pinggangnya. Meraih gembok tadi dan mengutak-atiknya dengan jarum. Lubang gembok terus dipenetrasi. Waktu terus berjalan. Ia mulai panik karena belum berhasil. Ia coba cara lain dengan membuka engsel jeruji. Tetap tidak bisa. Houdini kehabisan akal. Waktu 30 menit pun berlalu.

Sipir datang menengok. Ia melihat Houdini sibuk menguras otak mencari akal meloloskan diri dari dalam sel. Sipir itu datang tangan kosong. Tidak membawa satu kunci pun di tangannya. Lalu ia mendekat ke pintu sel sambil senyum-senyum. Dengan mudah ia tarik gembok itu. Dan seketika terbuka. Ternyata gembok itu dari awal tidak pernah terkunci. Maka tepuk jidatlah sang maestro.

Houdini terlanjur men-setting dalam pikirannya bahwa gemboknya terkunci. Maka dilakukanlah cara-cara andalan, bagaimana memperlakukan gembok yang terkunci.

Persepsinya telah terbentuk oleh pikiran, yang kemudian menentukan tindakannya. Sesungguhnya, ia tidak terpenjara di dalam jeruji besi melainkan terpenjara di dalam pikirannya sendiri. Mahluk hidup selevel Houdini pun keok dibelenggu oleh pikiran.

Yang paling pilu dari pikiran adalah, jika dimanfaatkan para master mind untuk mencuci otak para calon pengantin bom bunuh diri. Bahkan, menurut HRD-nya JAD, mereka cuma butuh 15 menit untuk indoktrinasi pikiran. Itu sudah siap saji, tinggal meletus di muka umum saja.

Kehidupan yang makin kompleks menuntut ilmu pengetahuan berkembang. Untuk mendalami kinerja otak dan pikiran, kita dapat menekuni bidang ilmu neurosains. Terkait adanya master mind dalam isu terorisme, orang-orang Amerika sedang membangun infrastruktur riset neurosains. Tujuannya, mereka ingin meng-counter dan memahami kinerja otak para teroris itu. Tak hanya itu, kajian neurosains juga merambah dimensi politik. Dari dalam laboratorium pikiran yang tengah dipersiapkan, mereka merencanakan meneliti struktur pikiran orang-orang Demokrat dan Republik. Di negara kita, sistemnya multipartai. Daripada sibuk urus pikiran para kader-kader partai politik yang banyak itu mending kita fokus urus pencemaran nama baik. Ini paling laku. Di saat orang-orang sudah berpikir apa yang ada di atas awan, kita masih baku tengkar di dalam tanah karena baku sebut-sebut nama bapak.

Selanjutnya tentang pikiran ialah kaitannya dengan lagu milik Bang Rhoma Irama: begadang. Otak yang tak berhenti berpikir pun bikin kita sulit sekali tidur. Masalah ekonomi, asmara, keluarga, kerjaan dan seterusnya semua menumpuk pada pikiran. Apalagi saat ini, pandemi, para kaum nokturnal kian bertambah. Itu berdasar laporan BBC dan salah satu klinik Gangguan Tidur di Jakarta sana.

Rutinitas normal jadi berantakan akibat covid-19. Ritme kehidupan orang-orang berdetak karu-karuan. Menambah pelik masalah hidup, lalu tersedimentasi di dalam kepala. Maka terjadilah gangguan tidur. Saking banyaknya yang idap, para pakar dunia peniduran menyebutnya sebagai coronasomnia.

Gangguan tidur yang diawali dari pikiran liar ini tidak hanya menyerang ketahanan fisik saja. Tapi berpengaruh juga pada imun dan produktivitas kerja. Paling parah kalau sudah merembet kejiwaan: depresi, paranoid, post-traumatic stress disorder. Oleh karena itu tidurlah. Mental dan performa otak kita dibentuk saat terlelap tidur. Tidur adalah cara jitu meningkatkan daya pikir kreatif. Bahkan di bulan ramadan ini, tidurnya orang berpuasa sangat bernilai ibadah. Tapi bukan berarti tidur terus. Pamalas itu. Jika keterusan kita akan berakhir pada apa yang pakar neurosains sebut sebagai NDE (Near Death Experience), bahasa Indonesianya mati suri.

Perilaku tidur kebablasan ini mungkin seperti kasus Echa, si putri tidur dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Apa yang di alami gadis 17 tahun itu adalah hipersomnia. Ia diserang oleh rasa kantuk yang maha dahsyat, yang bahkan mungkin satu kecupan bibir dari seorang pangeran pun tak bisa mempan. Ini sangat lain-lain, saat sebagian orang dewasa menganggap tidur adalah hal yang mewah, gadis ini memperlihatkan teknik dalam seni tidur yang mengagumkan. Ada orang yang ruang tidurnya mewah tapi susah tidur karena pikiran banyak. Adapula orang pikiran sedikit tapi susah juga tidur karena tidak punya tempat tidur.

Tidur hingga berhari-hari kita bisa dianggap mati suri. Ada banyak cerita-cerita NDE alias mati suri yang memaksa kita harus menanggalkan logika rapat-rapat di dalam lemari. Ada yang hang out di akhirat. Ada pula yang singgah lihat penyiksaan di neraka.

Salah satu kasus NDE sudah pernah saya ceritakan pada ulasan saya sebelumnya tentang seorang kakek dari daerah Sampolawa di Buton Selatan. Di masa yang lampau ia pernah tenggelam dihantam topan katrina versi mini di lautan kepulauan Bangka. Tujuh hari jasadnya terombang ambing buih hingga terdampar.

Dalam masa itu ia mengaku disidang di kerajaan lautan atas tindakan pencemaran lautan. Namun hasil persidangan tak bisa membuktikan sehingga ia di bebaskan, lalu kembali pada jasadnya yang sudah terbaring di pusat kesehatan.

Pikiran sadar kita tentu menolak fenomena itu. Namun tahukah kita, bahwa tubuh kita ini dikendalikan 88 persen dari pikiran di bawah situasi sadar. Mau contohnya?. Semua tubuh orang bergerak sesuai dengan kebiasaan. Bibir yang rutin mengapit serbuk tembakau lalu mengepulkan asap pada waktu-waktu tertentu itu adalah aktivitas yang terpola. Kemudian akan membentuk kebiasaan. Dan, kebiasaan itu ada dalam kendali unconscious mind (pikiran bawah sadar).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.