ELEGI CINTA LANGKONANA PADA CINUMBU

Sebelum jauh masuk ke dalam ceritanya, saya ingin kasih premis singkat. Begini: Langkonana senasib dengan Steve Roger, Captain America. Ia pingsan berpuluh-puluh tahun lamanya setelah cintanya ditolak oleh gadis yang disukainya. Setelah tersadar, ia kembali menyusun rencana menaklukan lagi hati gadis itu tapi peta geografis bumi telah berubah akibat ledakan dahsyat atau The Big Bang yang kedua kalinya. Setelah yang pertama membentuk alam semesta.

Bumi yang pertama kali ia lihat sejak membuka mata kali perdana sangat jauh berbeda. Tanah yang terkadang hangat dan lembab sudah tak dirasakan seperti dulu lagi. Sudah puluhan tahun ia memutuskan memenjarakan diri dalam balutan belantara rimba Lambusango. Berusaha nyaman dengan gelap yang membungkus. Sejak peristiwa itu menimpanya, hidup menyendiri dirasanya lebih damai dan tenang.

Meski telah berjalan lama, memoar itu tetap abadi di dalam kepalanya. Selalu membayanginya ketika berjalan, menemaninya tidur, bahkan saat nge-fly buang hajat.

Tatkala langit melegam, cahaya kejora mulai memantul bersahutan. Berpendar sedemikian rupa, membiaskan pantulan kenangan yang tampak sangat jelas. Langit kembali menyuguhkan wajah wanita yang menjadi penyebab pengasingannya. Ya, setiap senja telah berakhir, perlahan tapi pasti langit menampakkan potongan mozaik Wa Cinumbu. Seorang heartbreaker yang membuat Langkonana menelan nelangsa mentah-mentah berjuta-juta kali dalam hidupnya.

Malam ini langit kembali mempertontonkan peristiwa kelam itu. Langkonana berusaha keras menutup mata namun bayangan itu selalu saja nampak jelas walau di balik pelupuknya. Pengorbanan yang ia lakukan demi cinta kepada Wa Cinumbu melebihi perjuangan Mohammad Toha, seorang milisi, komandan Barisan Rakjat Indonesia yang aktif melawan penjajah. Bagaimana tidak, jika Mohammad Toha berani meledakkan dinamit dalam misi penghancuran gudang amunisi milik tentara sekutu, maka Langkonana berani menelan dinamit bulat-bulat untuk mengganjal lambung yang semakin terlilit kemiskinan dan kecemburuan yang setengah mati ditolerir.

Langit masih menampilkan mozaik-mozaik kecil Wa Cinumbu dan membawanya terpental jauh ke dalam lorong kenangan.

Debaran yang mengisi tiap rongga dada Langkonana hanyalah cinta bertepuk sebelah kaki. Lebih parah dibanding bertepuk sebelah tangan. Ketika ditanya sejak kapan ia mencintai Wa Cinumbu, mungkin jawaban pastinya ialah ketika napasnya mulai berembus. Tiap dengusan napasnya yang terdengar hanyalah “Cinumbuuuuu…Cinumbuuuu.”

Langkonana terkenal dengan karakter yang pantang menyerah. Cinta tak berbalas dari kekasih hatinya bukan pertanda ia telah menyerah. Tetapi ia mengerti bahwa walaupun cinta itu buta dan tuli, cinta adalah sesuatu yang tak bisa dipaksakan. Ia adalah anugerah Tuhan yang Maha Agung. Di dalam hati, Tuhan telah menitipkan bara, yang kemudian bara ini adalah sumber kebijakan, pengetahuan, keindahan. Langkonana tak mau menjadikan wanita pujaannya berdosa dengan mematikan bara itu dan menjadikannya seperti abu. Baginya cinta adalah pengertian dan keikhlasan.

Wa Cinumbu wajahnya cerah bersinar seperti rembulan. Begitu cantik. Bersinar bahkan di kegelapan. Tanpa satu cacat yang ada. Pancarannya sampai ke angkasa bahkan sinar mentari tertunduk minder.

Sungguh tak terkatakan. Belum lagi lekuk tubuhnya sangat aduhai membohai. Rambutnya terurai mengikal sampai ke tulang ekor. Poni-poninya berjejer rapi dan keningnya sehalus batu akik. Ujung matanya membentuk sudut. Bola matanya besar dan jernih. Bulu matanya lentik seperti jari-jari bencong. Bibirnya ranum dan mengkal. Lehernya mulus seperti jalan tol. Pipinya merah seperti Rianti Cartwright. Tapi sayang sungguh sayang, bulu dadanya lebat seperti Anil Kapoor. Membikin Langkonana selalu tak kuasa menelan lelehan liur.

Suatu ketika di pantai Nirwana. Saat itu adalah senja di mana segala rasa telah membuncah. Langkonana sudah tak mampu menahan gejolak cinta yang menggeliat. Dibujuknya Wa Cinumbu bertemu dengan niat hendak menjadikannya istri. Senja itu adalah peristiwa bersejarah dalam hidup Langkonana.

Ia mati-matian mengutarakan kalimat cinta. Mengutip ribuan frase para pujangga. Berbusa-busa menawarkan janji masa depan. Namun, Wa Cinumbu bergeming. Sangat sulit baginya mencintai seseorang yang hampir dua kali lipat dari usianya. Ia sudah merasa cukup dengan romansa dan kisah cinta yang ditawarkan oleh kekasih sebayanya.

Dengan segala harta benda seadanya yang ia miliki, sebenarnya Langkonana bisa saja mengerahkan kekuatannya untuk bisa menikahi pujaannya itu. Tapi ia urungkan karena menghargai Wa Cinumbu sebagai manusia dengan segala kompleksitas perasaan dan pemikiran.

Hampir saja Langkonana kehilangan akal sehat. Dorongan cinta bercampur nafsu sempat membuat nada suaranya meninggi. Mengancam Wa Cinumbu dengan tatapan mata menerkam agar menerima cintanya.

“Terima cintaku, terima cintaku, cepa ko, Cinumbu,” seru Langkonana mengancam sembari menggenggam erat pergelangan tangan gadis bermata bening itu.

“Ikhh, apa ini. Saya tida mau Kaka. Ada mi pacarku,” jawab Wa Cinumbu.

Belum sempat Langkonana memaksakan kehendaknya, kaki Wa Cinumbu menyambar beling yang separuh tertimbun pasir pantai. Kaki kirinya yang seputih mutiara, teriris. Sobek. Seketika darah segar anak perawan itu meluncur. Menodai pasir putih pantai yang dibuai elusan angin.

Langkonana terperanjat. Dengan sigap ia menangkap tubuh Wa Cinumbu yang perlahan roboh. Langkonana berkeringat takut. Sedang bibir Wa Cinumbu mulai pucat. Kini kepala perempuan cantik itu sudah bersandar pada lengan Langkonana. Sedang darah masih tekun mengucur dengan ritme pilu. Baju kaos lebaran favoritnya ia buka untuk menghentikan pendarahan pada nadi kekasih hatinya itu.

“Kaka, lebe bae saya mati daripada kawin sama orang jelek kayak kamu,” Wa Cinumbu berucap lirih sambil menatap lekat mata Langkonana. Kemudian ia pingsan tak sadarkan diri. Langkonana heran setengah mati. Walaupun sedang sekarat, Wa Cinumbu masih sempat menghinanya. Sungguh pedis kenyataan yang diterimanya.

Langkonana semakin ketakutan. Ia sangat takut ketika cintanya ditolak, kini ia kembali ketakutan orang yang dicintainya akan mati. Matanya tak sanggup menahan penderitaan itu sampai menitikan air mata kepedihan. Tak mau menyerah, diangkatnya tubuh langsing Wa Cinumbu dan segera berlari mencari pertolongan.

Baru saja dua langkah berlari di atas bentangan pasir pantai, ia menginjak tahi manusia. “Puiihhh, setan betul, siapa yang berak di sini ka?” Langkonana memaki dalam hati. Tak memedulikan, ia kembali bergegas.

Tak berselang lama, “Akkkhhhhh,” Langkonana berteriak dan terjatuh bersama tubuh Wa Cinumbu. Kini ia menginjak pecahan beling botol anggur cap orang tua. Luka iris menggores telapak kakinya. “Kamprettttttt, biadab ni orang-orang. Begini kalau sekolah cuma sampe depan pagar.” Ia kembali mengucap sumpah serapah. Langkonana berusaha berdiri membawa kekasih yang telah menolaknya itu ke rumah sakit dengan darah dramatis kian mengucur.

Beruntunglah mobil pemadam kebakaran lewat kemudian mengantarnya dengan cepat ke rumah sakit. Selama perjalanan tak henti-hentinya Langkonana berdoa untuk keselamatan Wa Cinumbu. Ia berjanji, takkan mengganggunya lagi jika selamat dari musibah ini. Sebuah janji yang akan menyiksanya seumur hidup. Seperti sel kanker, merusak jaringan-jaringan tubuh.

Pada akhirnya, Langkonana mendengar kabar Wa Cinumbui baik-baik saja. Ia sehat seperti anak remaja pada umumya. Tak ada cacat. Bahkan kecantikannya bertambah setelah persitiwa itu.

Seperti janjinya, ia tak bisa lagi menemui Wa Cinumbu. Tiap malam Langkonana diselimuti kekalutan. Perasaan yang berkecamuk, seperti deburan ombak di tengah samudera yang saling berbenturan. Penderitaan atas janji yang diucapkannya sendiri semakin menjadi ketika mendengar kabar bahwa Wa Cinumbu telah menikah. Kabar ini semakin menyayat tipis-tipis gumpalan daging di dalam hati Langkonana. Rasa perihnya bagaikan luka iris yang ditaburi cairan jeruk nipis. Sempurna sudah luka di hati Langkonana.

Luka yang meradang itu ia pasrahkan pada waktu. Langkonana merasa yakin bahwa waktu adalah obat mujarab bagi segala luka.

Semenjak perisitiwa itu terjadi, Langkonana memutuskan untuk hidup menyendiri. Membawa cinta di dada tanpa tambatan. Bulir air mata terakhir segera diusapnya lamat-lamat sembari merangsek masuk ke dalam belantara Lambusango yang tengah diselimuti kabut pagi yang masih pekat. Bebatuan tajam dan ranting-ranting kayu yang runcing tak dipedulikannya lagi.

Kakinya yang tanpa alas bergerak lincah menyusuri medan di hutan. Tak sedikitpun ia rasakan perih meski telah nampak darah mengucur dari sela-sela kakinya. Sakit di dada sudah cukup membuatnya mati rasa. Entah mengapa semakin kencang Langkonana berlari seolah beban di hatinya terasa ringan, napasnya menderu tanpa hambatan.

Badannya terasa ringan. Dan dalam sepersekian detik, ia telah berdebam. Menghantam bumi.

Bersambung….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.