ANJING KAU, KAU YANG ANJING

(Tolong baca judul ini dengan nada santai. Jangan ketus. Saya hanya menulis ini dari sudut pandang seekor anjing. Kau boleh menyebut sebagai perwakilan anjing. Itu saja. Cukup)

Ada satu kota di Romawi, namanya Tharsus. Sekarang masuk wilayah Turki. Disebut Kota Tarse. Tuhan di Tharsus adalah seorang manusia. Bernama Diqyanus. Juga seorang raja.

Selain Diqyanus sebagai tuhan, orang-orang di kota itu pun menuhankan hawa nafsu. Qithmir lahir, besar dan menderita di kota itu. Qithmir menyaksikan sendiri ibunya mati meregang nyawa. Diburu dan dibantai orang-orang.

Ketika itu ia masih sangat kecil. Masih menyusu ke ibunya. Sebelum pergi, ibunya menyembunyikan Qithmir pada sebuah sudut bangunan tua. Ibunya berangkat mencari bahan makanan ke pasar.

Qithmir menunggu. Tak lama kemudian, dari kejauhan ia melihat ibunya pulang. Ia semringah, bahagia. Namun ibunya pulang sambil berlari. Kakinya berdarah. Beberapa orang di belakangnya sedang mengejar dengan pedagang yang berlumur darah. Senyum Qithmir kecil berubah menjadi raut kesedihan.

Lelah berlari, ia terjatuh. Orang-orang tadi menggila. Bergantian menghujamkan balok kayu dan batu ke tubuhnya. Setelah puas, orang-orang tadi pergi dengan rasa bangga. Dari balik sebuah bilik kayu, Qithmir terdiam ketakutan. Ia lalu menghampiri ibunya yang tergenang oleh darah. Kakinya masih bergetar-getar.

Dengan sisa napas yang tersisa, sang ibu berkata “larilah nak”.

Sejak saat itu Qithmir hidup satu batang kara. Dengan tubuhnya yang mungil, ia berusaha sekeras mungkin mengais makanan untuk bertahan hidup. Ia mengemis. Mengharap iba orang lain. Hingga ia tumbuh dewasa tak ada yang tersisa darinya selain tulang dibalut kulit. Kurus.

Suatu ketika ia melihat Tamlikha. Penggembala kambing itu duduk disamping Qithmir. Orang tersebut sedang menyantap makanan. Ditatapnya lekat-lekat makanan itu dengan harapan mendapat sedikit bagian saja. Alhamdulillah, orang itu memberinya sepotong daging.

Qithmir sedih, terharu. Seumur hidup ia baru merasakan daging. Sejak saat itu Qithmir bersumpah untuk setia kepada Tamlikha. Setia hingga akhir hayatnya. Kemana Tamlikha pergi ia akan setia ikut.

Tamlikha pun bertemu dengan para calon menteri Diqyanus; Maxalmena, Martinus, Kastunus, Bairunus, Danimus, Yathbunus. Mereka adalah buronan raja. Dikriminalisasi dengan pasal penolakan pengakuan Diqyanus sebagai tuhan. Tamlikha merasa trenyuh mendengar penuturan mereka.

Mereka bertujuh sepakat mencari persembunyian dari kejaran pasukan raja. Qithmir pun mengikuti rombongan itu. Ia ditolak. Diusir. Padahal dia sudah berjanji mengikuti kemanapun Tamlikha pergi.

“Hai kalian, Kenapa mengusirku. Meskipun aku hanyalah seekor Anjing yang terlunta-lunta, aku pun sama dengan kalian, meyakini ke-Esa-an tuhan, aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, tiada sekutu baginya”. Dengan jelas Qithmir mengatakan itu.

Diajaklah Qithmir kebukit Naglus. Kesetiaannya ia buktikan dengan membantu para majikannya itu berjaga di depan gua Kheram. Berlindung dari kejaraan Diqyanus.

Qithmir adalah definisi dari loyalitas. Makhluk paling setia. Ia puas dan ridha dengan apapun. Qithmir, anjing penghuni gua yang tertidur selama tiga ratus sembilan tahun, lalu bangun seperti tertidur setengah jam.

Kisah itu adalah momen reflektif bagi saya agar sesama mahluk tuhan harus tetap saling menghargai. Kepada binatang pun kita harus hormat grak, tegak grak.

Lihatlah keangkuhan kita, yang harus mengatai manusia lain sebagai “anjing” atas satu perangai buruk orang, yang bahkan seekor anjing pun tidak mungkin melakukannya. Kita tidak tahu binatang yang sering kita gunakan untuk mencaci maki itu telah dijamin surga. Perwakilan mereka sudah berada di tempat terbaik.

Menjadi anjing tidak berarti kafir. Kenapa dih, kita gampang sekali membawa-bawa anjing atas tindakan amoral manusia yang bahkan dalam kamus per-anjing-an pun tidak termaktub.

Misalnya jangan mengatakan “Koruptor anjing” atau membandingkan antar keduanya. Kasihan si anjing. Anjing K9 ada yang dihargai Rp 500 juta bahkan hingga angka miliaran. Tapi dia harus peras keringat juga. Menggonggong sana sini. Halau demonstran dll. Ada harga yang harus ia bayar. Koruptor itu pencuri. Anjing tidak mengenal bahasa itu, koruptor kenal.

Mungkin. Kalau kita mendengar anjing sedang bertengkar, menggonggong di malam hari, mereka juga akan saling menuding, “dasar manusia kau”, kemudian anjing yang lain menimpali “kau itu yang manusia, buang sampah sembarangan. Manusia”.

Saya suka satu pledoi teman saya terkait ini. Saat itu ia dikatai ”anjing” oleh seorang teman. Ia balik timpali, “Biarmi sa anjing, berarti disuka cewe. Perempuan kan penyayang binatang”.

Lihatmi. Tidak mempesona kah anjing itu?. Sampai-sampai temanku itu harus meng-anjing-kan dirinya hanya untuk mendapatkan cinta yang berbalas. Tragis juga e.

Saya juga sempat terkenang saat di kampung. Waktu itu, di suatu pagi, mobil pick up putih berjalan pelan-pelan masuk ke desa. Satu orang bertopi keluar dengan balok kayu di tangan kanannya. Ia mengendap-ngendap di depan seekor anjing liar di kampung. Tangan kirinya menyodorkan makanan. Saat anjing itu mulai mendekat, seketika balok kayu di tangan kanan bak kilat ia hempaskan tepat di batang leher anjing itu.

Hanya butuh satu kali hantaman, anjing itu rubuh. Tanpa mengeluarkan suara berisik apapun. Ia seret jasad anjing itu. Lalu melemparnya ke atas bak pick up putih. Sudah ada beberapa mayat anjing lain tergeletak di atas sana.

Mendengar ada ramai-ramai, paman saya mendekat lalu bertanya. “Ada apa ini, komorang cari anjing kah. Ohhh jangan sembarangan, jangan sampai anjing peliharaannya orang komorang bunuh, mereka pake itu anjing pergi di hutan dan di kebun. Seharusnya tadi ko melapor dulu, sini saya antar ko menghadap ke kepala anjing, supaya da tunjukan ko anjing mana yang ko mo hantam”.

Mendengar kata-kata paman, saya loading sejenak. Whattt?, kepala anjing?. mungkinkah itu semacam jabatan dalam paguyuban per-anjing-an?.

Dalam hatiku, jan sampe mo bikin somai ini.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.